Thursday, January 7, 2010

Polisi [Norak] yang [Sok] Akrab



Telepon siang ini tanpa nama.
Halo?” kataku. Dibalas oleh suara bariton seorang lelaki yang kalem, logat Minang. Tak salah bila aku kemudian bertanya siapa dia. “Wah, tebak dong. Masak udah lupa?”
Nggg... Gusdur?” asal kutebak, disambut suara tawa yang... gila, bijaksana, bow! Uh, siapa sih? Penasaran banget.
Ini nomor yang baru, jadi tolong disimpan, siapa tau bakal perlu,” katanya. Nomor baru? Tapi siapa? Duh, kelakuan ini.
Bermenit-menit kemudian, sang lawan bicara hanya berupaya memancing ingatanku akan siapa dia, tanpa betul-betul membuka identitasnya. Mendesakku menyebutkan satu nama, tapi tetap tak tertebak. Mengingat logat Minangnya, aku bahkan mempertimbangkan untuk menjawab nama Uda Vizon. Hihi. Tapi rasanya nggak mungkin banget si Uda ganjen kayak gini.
Kasih clue, dong,” pintaku. “Keluarga atau teman kerja atau kenalan?”
Keluarga,” jawabnya, masih kalem. Nah, berarti Uda Vizon bisa dicoret dari daftar tebakan.
Tapi, keluarga? Malu banget kalau aku lupa siapa. Nanti dibilang mentang-mentang begini-begitu terus lupa sama keluarga. Tapi sumpah, doesn't ring a bell.
Yang kerja di kepolisian,” tambahnya.
Wah, kepolisian pula. Perasaan nggak punya keluarga yang bekerja di kepolisian deh, kecuali seorang tante. Tapi ini kan laki-laki. Ada sih yang lain, yang bahkan aku tak ingat namanya dan udah lamaaaaa banget tidak berkontak. Tahunan. Itu pun bukan keluarga dekat, dan tidak pernah tahu nomorku ini. Singkatnya, dia tidak pernah menganggapku penting untuk dibagi nomor telepon, begitu pun sebaliknya. So why now? Kenapa tiba-tiba menelepon untuk memberitahukan nomor barunya?
Di kepolisian kota Medan?” tegasku. “Perasaan nggak ada deh.”
Ya, kota Medanlah!” lebih tegas lagi jawabannya. “Duh, masak masih nggak ingat juga? Sama keluarga aja suka lupa, apalagi hanya kenalan.” Dia malah menyindir. Lumayan bikin panas telinga deh.
Ya udah, nyerah!” kataku akhirnya. Tapi dia masih belum membuka identitasnya, malah terus mendesakku untuk menyebutkan satu nama. Dan telepon itu sudah berlangsung hampir enam menit! Ngapain coba? Kalau aku, pasti udah sejak kapan buka rahasia deh. Ngapain juga ngobrol lama-lama nggak ada juntrung, toh?
Akhirnya capek tebak-tebakan, aku bilang aja, “Ini bukan Uda yang tinggal di Aspol itu, kan?” Uda yang kumaksudkan di sini ialah kerabat yang aku lupa namanya itu. Aspol adalah singkatan dari Asrama Polisi.
Ya itulah! Siapa lagi yang di kepolisian?” Artinya tebakanku benar. Fiuh! Ternyata. Untung dia nggak mencecar “Uda” siapa yang kumaksud. Tapi kok tumben nelepon? Seperti kubilang tadi, dia bukan keluarga dekat, bukan termasuk yang penting dan diperhitungkan juga sehingga harus kusimpan nomornya.
Ya, ini nomor baru, siapa tahu perlu untuk berkomunikasi, menjaga silaturrahim,” jelasnya seolah-olah bisa membaca pikiranku. Sumpah, mendengar itu aku jadi malu. Jadi aja aku nanya, “Apa kabar, Uda? Udah lama gak dengar beritanya. Udah berapa anggota?”
Kabar baik. Ya anggota masih tetap segitu.”
Berapa segitunya?”
Dua.”
Oh.”
Akhirnya telepon ditutup setelah saling bertanya kabar selesai.
Aku kembali ke pekerjaan.
Telepon berdering lagi. Kali ini dengan judul penelepon “Uda Polisi” seperti yang baru kusimpan di memori teleponku. Aku masih belum ingat namanya. Langsung kupikir dia menelepon karena ingin mengetes ingatanku siapa sebenarnya dia. Dua kali teleponnya sengaja tidak kuangkat, karena aku sibuk mencari tahu dari berbagai sumber, hingga kemudian kuperolehlah namanya. Nah, kalau si Uda ini menelepon lagi, aku sudah tau siapa namanya.
SMS masuk dari si Uda: Lagi ibuk ya?
Kubalas: Sholat bentar ya, Da.
Tak lama selepas sholat si Uda menelepon lagi. Kali ini layar menunjukkan namanya yang baru kucari tahu dan kumasukkan dalam memori telepon.
Ya, Da?” sambutku.
Eh, Uda kan sedang nggak bisa keluar nih sekarang, tapi Uda perlu mengisi pulsa Simpati. Bisa ndak tolong Uda belikan pulsa, nanti Uda ganti.”
Alarm di kepalaku berbunyi nyaring. Ini ternyata bukan orang yang kusangka. Ini adalah penipuan. Penipuan yang norak banget! Tawaku hampir menyembur dibuatnya.
Wah, saya juga sedang nggak bisa keluar, Da,” jawabku sambil menahan geli.
Terdiam sebentar. Aku menunggu kekonyolan apa lagi yang sedang dipikirkannya.
Atau ada ndak yang bisa diminta tolong keluar, nanti Uda ganti uangnya.” Lagi-lagi dia menekankan “nanti diganti uangnya.” Upaya menanamkan kepercayaan.
Wah, sedang nggak ada siapa-siapa di sini, Da. Lagian saya juga nggak pernah beli pulsa, saya pake Halo.”
Jadi betul-betul nggak bisa bantu?”
Maaf, Da. Nggak bisa.” Dan kuakhiri pembicaraan konyol tersebut. Langsung ngakak sampe terkentut-kentut.
Setelah kurunut lagi kejadiannya, memang banyak keanehan selama pembicaraan telepon kami yang pertama. First and foremost, dia maksa banget menyembunyikan identitasnya walaupun aku sudah menyerah. Dia hanya akan menunggu aku menyebutkan nama siapa saja, karena kalau nama tersebut keluar dari pihaknya, bisa jadi aku langsung curiga karena tidak kenal. Hingga akhir obrolan dia masih sangat menjaga agar identitasnya tidak terkuak olehnya, tapi olehku sendiri! Kecuali soal anaknya yang dua orang itu, yang terpaksa banget disebutkannya. Mungkin dia takut juga aku bakal menolak fakta itu. Tapi kenyataannya aku memang gak tau.
Kedua, tanpa menyebutkan nama, hanya sebutan “Uda” saja pun dia sudah membenarkan dan tidak mencecar lebih jauh ingatanku. Kalau memang dia adalah kerabat yang ingin membina silaturrahim, pasti dia akan mengetes ingatanku, seperti yang kusangka bakal dilakukannya di telepon berikutnya.
Ketiga, tak sekalipun dia menyebutkan namaku. Ini artinya sebenarnya dia tidak tahu siapa yang diteleponnya. Dia hanya menelepon secara acak saat mencari calon korban penipuannya. Dan dengan menyebutkan bahwa dia adalah anggota kepolsian dianggapnya akan membebaskannya dari kecurigaan.
Keempat, si Uda yang kumaksudkan tidak dan tidak akan pernah meminta dibelikan pulsa olehku. Sederhana, dia dan aku tidak saling mengenal sebegitu akrabnya sehingga bisa tanpa segan berbuat begitu. Kalau pun kubelikan, lantas kapan digantinya? Wong udah nggak pernah ketemu tahunan lamanya.
Kelima, penipuan dengan modus minta pulsa ini kan udah nggak zaman bangeeeeettt!!! Get real, pleeeease. Orang udah nggak ketipu lagi dengan modus norak kayak gituuuu...
Eh, atau jangan-jangan kamu pernah ketipu? Iya, kamu yang sedang ngupil. Ngaku aja deeeehh...***

31 comments:

  1. Hahaha....., kayaknya emang ngetrend lagi deh Mbak penipuan jenis kayak gini. Beberapa teman saya udah kena, yang satu malah sampai posting di sini (http://ryudeka.wordpress.com/2009/12/10/nice-try).

    Well done, mbak! Hihi... (msh pengen ketawa)

    ReplyDelete
  2. Loh, kok tau aku lagi ngupil sih? Heran deh heran...
    Dukun!

    ReplyDelete
  3. Makasih buat infonya, Bidadari. Jaman sekarang ada-ada aja. Buat pulsa lagi, heheh..

    ReplyDelete
  4. Huahhhhhhhhhhhh!!!!


    aku pernah baca postingan serupa!!! wekekeke, Aneh benerrrrrr, mau nipu tapi dia korban pulsa duluu. Lumaya lama kan dia nelpon Uni? Terus dia bayar berapa tuh? wakakaka...jadi jaga-jaga ah kalo dapet telpon serupa :P


    Btw:
    Minta nomer telpon! sumpah gak bakal aku gangguin! palingan aku coba ngaku jadi tukag tagih kartu kredit yang galak bin nyebelin! :P hihihihi

    ReplyDelete
  5. Yang ganjen itu kayaknya cuman ada satu, yaitu Uda Faizal yg suka ngejar2 Pretty.

    Dan dia bukan polisi, tapi penulis.
    Uda(h), Uda yg begitu nggak usah dipikirin...

    ReplyDelete
  6. heran, kok bisa bisa milih targetnya orang minang yaa..? berarti ud tau duluan identitas calon korban.

    klo Uda Vizon ndak mungkin mangicuah lah, Rahmah :D

    ReplyDelete
  7. wakakakakak
    ngakak baca postingan uni yang satu ini. Dasar, bikin malu orang minang aja dengan logat minangnya dan bikin malu institusi kepolisian dengan ketidakbermodalannya dalam membeli pulsa.

    Sepertinya uni waktu itu mempermalukannya uni, dengen mengetes apa gitu. Uni juga kelihatannya masih nahan-nahan pembicaraan untuk membikin dia malu.

    sekali lagi ijin ngakak uni
    hahahahah

    ReplyDelete
  8. Kok tahu aku sedang ngupil? he he he
    Tapi sayangnya aku belum pernah ketipu mba...

    ReplyDelete
  9. wakh dimana nih kejadiannya mba

    ReplyDelete
  10. hahaha... modus menarik tuh. ^^

    ReplyDelete
  11. wuahahahaha lucu cerita si uda tuh:D
    kek mana ya raut wajahnya wkwkwkwkwkw

    ReplyDelete
  12. wakakakakakkakkk tq infonya & salam to uda ye...

    ReplyDelete
  13. Dah sejak lama ingin kasih komen di blog ini, tapi pekewuh, kalau orang Jawa bilang. Habis Mbak Marshmallow sedemikian terkenalnya, he he he.
    Salam silaturahim dari Pekalongan.

    ReplyDelete
  14. + Hallo... ini dengan Uda Vizon, apakah Uni masih ingat dengan saya?

    - Masih...

    + Saya sedang tidak bisa keluar, bisa tolong belikan tissue?

    - Buat apa, Da?

    + Buat ngupil......! huahahaha.... :D

    ReplyDelete
  15. saya pernah juga ditelpon penipu spt itu. dia ngasih tahu kalo saya dapat hadiah dari simpati dan disuruh transfer sejumlah uang ke nomor rekening tertentu...saya dengarkan aja telponnya, biar habis pulsanya.

    ReplyDelete
  16. Huahaha.... kalau ketipunya aku nggak pernah, tapi kalau ngupilnya aku sih sering! :mrgreen:

    Aturan dipancing2 aja dulu, biar pulsanya terkuras, ntar akhirnya, sorry-ya aku nggak ada yang disuruh buat keluar. Udah nggak dapet pulsanya, terkuras pula pulsanya. Biar tahu rasa deh! Heheheh...

    ReplyDelete
  17. hahahahaaaaaaaaaaaaaaa ... jangan main tunjuk dong, kan malu lagi kebetulan ngupil.

    kalau sudah mengaku keluarga, kadang membuat kita jadi merasa nggak enak bila memutuskan teleponnya, ini yang sering digunakan para penipu ... di dalam bis kota juga begitu, ngaku orang sekampung atau keluarga jauh dengan sangat meyakinkan padahal sebenarnya penipu

    ReplyDelete
  18. Kalo "uda" nelpon lagi bilangin nipu gaya begitu udah ketinggalan jaman. Ini Medan, bung...

    ReplyDelete
  19. hmm.. tetap harus hati-hati walau udah enggak zaman banget modus penipuannya :)

    ReplyDelete
  20. Minta dibeliin pulsa ???

    Jjjaaaahhh ...
    Masih ada gitu ???
    ngaku-ngaku polisi pula ...

    Salam saya

    ReplyDelete
  21. blogwalking dan salam kenal...
    uiihh, kasihan tuch mbak, beliin aja yang 5ribuan. selesai dech
    trus kasih note kedia, "lain kali nipunya keren dikit dong hehehe"

    ReplyDelete
  22. Hahaha...lha saya juga pernah...
    Dia juga nggak mau menyebutkan namanya, tapi sejak awal saya sudah curiga, jadi saya bilang..."Siapa namanya, karena kakak saya juga kerja sebagai polisi (ngibul)?" Dia ganti nanya, siapa? Lha saya jawab, memangnya penting?

    Ujung2nya dia nawari agar saya mau beli barang rampasan...langsung deh saya ngomel, polisi kok jual barang rampasan, kalau saya butuh, saya tahu beli barang dimana, dan yang jelas barang resmi, jadi jangan berani-berani nelepon saya...

    Hahaha...pasti dia juga bukan polisi....rupanya para penipu semakin tahu, kalau banyak orang tak percaya, dan mulai deh mengaku-aku polisi.

    ReplyDelete
  23. Astagah uni...
    penip[uan ini model baru yaaa
    weeeh!
    Coba telpon ke aku
    udah aku libas dia!
    huh :P

    ReplyDelete
  24. Aku ketawa lepas ketika membaca "Kali ini dengan judul penelepon “Uda Polisi” " hahahaha.

    Postingan yang lucu, salam kenal ya.

    ReplyDelete
  25. Maaf saya tak lagi ngupil wheak..tapi mbuang slilit rendang sisa kemarin.
    Saya sering mau ditipu,akhirnya dia yang kutipu. Polisi militer ok ditipu.
    Mungkin bukan Uda, tapi Udang..... bu dokter.

    ReplyDelete
  26. Yah emang penipuan kaya gitu sering banget sih.
    ada lagi yang nipu nya itu lewat sms.
    Yang tentang anda mendapatkan hadiah uang sekian juta dari ...
    Biasanya kalau emang bener gitu, pastinya lewat nomor operator nya langsung.
    Tapi ini lewat nomor GSM atau CDMA nya langsug.
    Jelas-jelas gak masuk akal banget kan...

    ReplyDelete
  27. pernah sekali istri saya disms minta pulsa gara-gara nomer hapenya dipajang di pengumuman sebagai contact person suatu kegiatan. kebetulan CP yang dipampang ada dua, dia ngaku sebagai CP yang satunya. kreatip tapi tetep cacat, dia ndak tau panggilan si CP ke istri saya.

    ReplyDelete
  28. kalau memang kita tidak kenal gpaen diladenin bikin capek aja ,,,,jgan ampek ketepu dech,,,kalu ada ms to tlfon yang tidak kita kenal to merasa asing delete aja dach,,,hehehehe

    ReplyDelete
  29. trik sok kenal sok deket memang kadang trik paling ampuh untuk kenalan,, (ehemmm.. klo ada yang ngerasa gak termasuk lo ,, hehehehhe.)
    tapi kalo udah ujung nya kirim inilh, beliin itulah,,ngapain di tanggepn, jangan mudah percaya ma sms tau telp dari orang2 yng gak jelas, logika nya aja, yang ngirim aja udah gak jelas , masa kita percaya,,,,,,,,, ingat kata bang napi, KEJAHATAN TERJADI BUKAN KARNA HANYA ADA NIAT PELAKUNYA, TAPI JUGA KESEMPATAN,, WASPADALAH,, WASPADALAH,.,,, hehehehe.

    ReplyDelete
  30. itu tandannya memang SKSD ( sok kenal sok dekat ) tapi itu juga bisa trik penipuan kaya gitu sering banget sih.
    ada lagi yang nipu nya itu lewat sms.
    Yang tentang anda mendapatkan hadiah uang sekian juta dari ...
    Biasanya kalau emang bener gitu, pastinya lewat nomor operator nya langsung.
    Tapi ini lewat nomor GSM atau CDMA nya langsug.
    Jelas-jelas gak masuk akal banget kan,, jadi hati- hati aja dech,,,,,,,,,,,,

    ReplyDelete
  31. kwkwkkuwkw... aku juga pernah seperti itu namun bedanya aku di minta no,rekening.. mereka mau transfer uang undian yang aku menangkan..
    padahal seingat ku, aku gk pernah ikut undian...
    :)

    ReplyDelete

Thanks for your comments, it's an honor.