Naga-naganya modus sok akrab memang lagi diminati banget di kalangan para penipu. Buktinya nggak lama sejak kejadian dengan Uda Polisi yang sok ngakrab kemarin, aku menerima telepon tanpa nama lagi. Kejadiannya semalam.
“Halo?” rada malas menjawabnya. Soalnya aku lagi leyeh-leyeh sambil baca.
“Kak, lagi di mana?” sumpah akrab beneeerr... Mulanya aku rada bingung, sapaan akrab ini khas Harry, adikku. Tapi suaranya kok beda.
“Di rumah. Ini siapa?”
“Ah, masak Kakak nggak ingat. Ini nomorku yang baru. Simpan ya, Kak.”
Tang tung!!! Itu bunyi alarm di kepalaku *keren banget kan bunyinya?*. Perasaan de javu nih.
“Ini siapa?” aku bertanya ulang.
“Tebaklah, Kak. Masak cepat kali lupanya.”
“Ya udah, bilang aja siapa...” datar, udah bete. Udah nebak kelanjutannya.
“Iwan...”
Nah, kan. Mana aku kenal orang yang bernama Iwan kecuali adiknya si Budi yang di buku bacaan zaman SD dulu. Yang ada Ichwan, Wawan, atau Gunawan gitu. Gak pernah Iwan thok.
“Iwan siapa...” masih datar.
Dan telepon pun ditutup dari seberang. Udah feeling kali dia bahwa garapan kali ini gak bakal berhasil. Be creative, please... Wong baru aja hampir ditipu dengan cara serupa.
Tiba-tiba aku merasa begooooo banget udah melayani keganjenan si Uda Polisi kemarin, dengan lugunya bersoal-jawab tentang kabar dan anak. Beuh!
Beberapa bulan yang lalu seorang pegawai di laboratorium kami juga kena pelet akrab ini. Ceritanya seorang kolega, dr. Nas namanya, bolak-balik mengunjungi lab kami setiap hari dalam seminggu terakhir. Selain mau cuci mata melihat salah satu staf di sini yang memang moleg *yaitu aku, terima kasih*, dr. Nas ingin memeriksakan darah pasiennya yang menderita malaria. Jadilah si dr. Nas akrab dengan pegawai lab kami, kupanggil Bang Rudin.
Suatu siang saat dr. Nas baru saja pulang, Bang Rudin menerima telepon. Urgent banget!
“Bang, tolong aku, Bang! Aku baru nabrak orang nih di simpang Jalan Anu,” si penelepon terdengar gugup... dan akrab!
“Hah? Trus?” tanya Bang Rudin kuatir.
“Sebenarnya yang kutabrak nggak pa-pa, tapi pas pulak ada polisi. Aku disuruh bayar lima juta.”
“Jadi, ada uangmu?”
“Mereka mau nego, jadi aku disuruh bayarin pulsa polisi-polisi ini aja. Ada lima nomor, masing-masing seratus ribu, Bang.”
Sampai di sini, udah jelas banget penipuannya, kan? Tapi Bang Rudin yang baik hati dan tidak sombong ini masih nggak ngeh. “Trus gimana?” artinya mungkin: jadi apa yang bisa kubantu? Kayaknya Bang Rudin udah nggak sabar banget mau nolong.
“Aku kan masih di TKP nih, Bang. Jadi bisa Abang tolong belikan dulu pulsanya, nanti aku ganti.”
Dan pergilah Bang Rudin memenuhi permintaan kawan.
Udah ketebak dong ujungnya?
Setelah mentransfer pulsa kepada 5 notel masing-masing sebesar Rp100,000,- kecurigaan Bang Rudin pun muncul. Tapi telat!
Kami yang mendengar cerita Bang Rudin tak lama kemudian hanya bisa menginterogasi sambil kasihan.
“Memangnya dia sempat bilang dia siapa, Bang?”
“Nggak...”
“Jadi Abang kok merasa aja kalau itu dr. Nas?”
“Itulah, soalnya dokter itu kan baru dari sini, aku langsung nyangka aja kalau itu dia. Lagian suaranya mirip.”
“Apa Abang gak tau nomor dr. Nas?”
“Memangnya itu nomor teleponnya?”
“Itulah, aku nggak catat...” lemas. Ya iyalah, masak ketipu 500ribu loncat-loncat kegirangan?
Intinya oportunis, dalam hal ini penipu berdarah dingin, suka memanfaatkan nilai-nilai kekeluargaan dan persahabatan dalam mencari mangsa. Mereka telah mengkaji secara psikologis bahwa orang akan rela membantu bila keluarga dan sahabat yang disayangi berada dalam kesulitan. Dan kelemahan itulah yang kemudian dimanfaatkan. Jadi tak heran bila sekarang manusia cenderung menaruh curiga dan sulit percaya pada orang yang meminta bantuan. Kesannya di zaman sekarang orang sulit bersimpati dan menaruh iba. Padahal penyebabnya ya itu tadi, orang-orang jahat suka memanfaatkan kebaikan orang lain.
Tapi aku bukan memanfaatkan keakraban dengan para sahabat narablog kalau belakangan sering bolak-balik ke kampus buat mengecek paket kiriman buatku. Abis mereka memang benar-benar baik dan pemurah.
Paket terakhir yang kuterima tadi, yang membuatku bolak-balik ke kampus sejak kemarin, adalah dua buah buku dari Pakdhe Cholik yang berjudul “Resep Mengolah Masakan Maknyuss” susunan Listiari NH (apanya Om NH, ya?) dan sebuah buku bestseller berjudul “Pelatihan Shalat Khusyu'” karya Abu Sungkan yang baru mengadakan seminar yang sama di kotaku. Duh, Pakdhe tau aja deh kalau saya demen masak, dan saking demennya sholat saya jadi sering nggak khusyu'. Dengan ini maka sudah tiga kali aku beruntung memperoleh tali asih dari bloger yang purnawirawan itu. (Atau purnawirawan yang bloger?)
Makasih ya, Dhe... Semoga Pakdhe semakin dimurahkan rezekinya. Lain kali kirim arloji juga ya, Dhe.
So, kita sepakat kalau modus penipuan yang sok akrab udah nggak zaman, kan? Kalau gitu, gimana dong cara menipu yang kreatif dan inovatif? Let's say masih soal nangguk pulsa. Any idea?***
Situ capek baca tulisan panjang ini? Aku juga capek nulisnya!

yang semalam itu bundo yang nyuruh, soale pulsa bundo habis padahal mau sms-an sama siti rahmah :D
ReplyDeletecara lain: curilah sebuah hp. lalu hubungi [lewat sms]semua nomer yang ada didalamnya minta pulsa. bilang bahwa anda untuk sementara tidak bisa ditelpon karena sedang ada masalah. misal nabrak anak orang dan masuk rumah sakit. dijamin 50 persen dr nomer2 tersebut akan mengirimkan pulsa minimal 50 ribu.
**baru mau coba dipraktekkan.
aduh uni. jangan-jangan si Iwan itu salahsatu pembaca posting tulisan uni yang lampau... hehehe....
ReplyDeletetapi prakteknya sama orang yang salah. ^^
wah yang begituan emang sering banget.. ato kalo nggak via sms. prnah beberapa kali ada sms dengan nomer temen minta pulsa.. langsung ketebak deh..tuh hape pasti abis ilang ato gak dipinjem tapi gak ngomong alias dicolong..
ReplyDeletetapi aneh ya, hari gini modusnya gak kreatif bener.. :p
salam kenal
ReplyDeletewkwkwkw bisa juga tuh un, coba deh un transfer 100 ribu aja pulsa ke imoe wkwkwkwkwkw
ReplyDeletesemua cara untuk jaman sekarang kayanya dihalalkan untuk dapat benda yang namanya "uang". Dosa kata mereka, yaa itu urusan hari tua. hahahaa.
ReplyDeleteSalam perkealan.......
ReplyDeleteKunjungan di dini hari dengan penambahan cara-cara si pelaku kejahatan merupakan ilmu pegetahuan tambahan yang sangat berguna.
apakah saya pernah mampir ke blog ini ya... klp belum salam perkenalan juga ...
ReplyDeleteoh ya.... say ingat waktu itu ada teman yang memposting ngelink ke blog ini. dan saya juga pernah komentar di blog ini. basa basi agar menambah keakraban
ReplyDeletememang perlu adanya standarisasi buat para penipu,
ReplyDeletejika tidak bersertifikat penipu canggih brati gak boleh jd penipu..
Upniii dari awal baca udah seriulus simpati sama temen uni di Lab itu.. eeeh pas baca endingnya..
ReplyDeletemoso di arouse untuk nipu yg kretaif and innovatif? Ampuuuun deh!
Nyerah ya uni :P
kabuuur ah
Kelasnya masih kelas minta pulsa ya....hehehe
ReplyDeleteMungkin karena kita bisa transfer pulsa....seperti saya punya IM3, agar bisa mentransfer pulsa untuk anak-anak. Apalagi mereka males menghubungi, alasan ga ada pulsa..dengan transfer pulsa 50.000, bisa ngobrol sampai puas.
eh, kayaknya modus kayak gini belum pernah deh aku denger... seriusan. memang daku masih begitu suci daripenipuan :D. thanks ya Uni, jadi tau mesti jaga-jaga... tapi aku memang suka bolot sih, jadi kalo orang sok akrab, akunyua malah bingung...
ReplyDeleteya, kebaikan dan perasaan kekeluargaan yang dijadikan pintu masuk untuk melakukan penipuan, apalagi peristiwanya dibuat seperti genting dan mendesak yang membuat orang yang mau ditipu merasa harus memilih untuk membantu lebih dulu tanpa memikirkan hal lainnya.
ReplyDeletePernah baca tentang penculikan anak, saat pulang sekolah tiba2 ada pengendara sepeda motor yang menghampiri terus bilang bahwa orang tuanya kecelakaan, dan meminta untuk cepat naik motornya untuk ke tempat di mana orang tuannya dirawat karena disuruh menjemput katanya, si anak yang merasa orang tuanya kecelakaan tanpa pikir panjang lagi langsung mau saja ikut, yang ternyata adalah penipuan dan penculikan dan tindak kejahatan lainnya.
Ada juga kejadian, PNS daerah Kalsel (asal Jawa) tugas ke Jakarta, saat dalam bis dia ditegur seseorang yang dengan akrab dengan mengatakan sekampung dan sepanjang perjalanan bercerita tentang kampung dan keakraban, hingga akhirnya dia bilang bahwa dia baru saja sampai di Jakarta juga dan baru saja terpisah dari teman-temannya dan barang2nya, lalu dia minta si PNS mengijinkannya nginap hotel tempat si PNS, tidak berapa lama si penipu membuat minuman ... dan akhirnya si PNS terlelap dan semua barangnya habis. Saat sadar (mungkin setengah sadar), melihat barang2 habis berusaha mengejar keluar dan pingsan di jalan. Si PNS tanpa identitas ini ditemukan orang di jalan, dan ada (masih ada kebaikan) yang membawa ke rumah sakit dengan tanpa identitas, dan dirawat beberapa hari. Keluarganya di Kalimantan Selatan bingung, batas waktu tugasnya sudah selesai tapi tidak ada kabar berita, seperti menghilang saja. ... akhirnya setelah sadar si PNS minta dihubungi keluarganya di Kalimantan Selatan.
sebel banget ma penipu..
ReplyDeletehgggghh...palagi yang pake senjata keakraban gitu..
untung aja udah ada pengalaman kena tipu ya mbak, jadi gak masuk ke lobang yang sama lagi, :D
ReplyDeleteKomentar saya ini asli, asli kiriman dari saya meski nggak pakai nomor.
ReplyDeleteJadi Mbak Hemma nggak perlu repot2 kirim pulsa ke blog saya.
Lagian, tarif komentar di blog saya kan cuma 0.000001 rupiah per komentar.
looking...
ReplyDeleteAkhirnya....., setelah sekian lama gak bisa tidur kepikiran soal yg satu ini, terjawab sudah pertanyaanku di sini.
ReplyDelete"Ini Budi. Ini kakak Budi. Kakak Budi bernama Wati. Ini adik Budi. Adik Budi bernama.........,"
IWAN!! AKhirnya terjawab juga, fiuuuhhhh.....
Eh, gak penting ya? :D
Ah, saya yakin kali ini Uni (mulai saat ini saya panggil 'Uni', ya) tidak akan termakan tipuan adik Budi itu :D Gak tergoda buat ngerjain si tukang tipu itu, Uni? ;)
Nah.. Nah, tau deh. Kalau mau nipu Bidadari, berarti pakai nama Ichwan, Wawan, atau Gunawan.. Heheh, tau nih..
ReplyDeleteSumpah ...
ReplyDeleteSaya tidak punya hubungan apa-apa dengan penulis buku ... Listiari NH
maupun NH Dini ...
hehehe
AKu juga pernah ketipu model begini ma. Temenku kehilangan HP waktu shalat di kampusnya. Si maling nampaknya gak mau setengah-setengah. Ia SMS sejumlah nama di phone book, termasuk aku. Dia bilang kena tilang polisi. Polisi nawarin damai, tapi 'temenku' ini gak punya pulsa mauhubungi abangnya dan minta diisikan Rp100 rb. Untung aku pelit, jadinya cuma kuisikan Rp 20 rb. Yah, zaman sekarang, semuanya mau serba cepat dapat duit. Nggak peduli perbuatannya merugikan orang lain.
ReplyDeleteLain kali begini. Bilang aja oke. setelah agak lama bilang : "Adik saya yang di Surabaya yang akan kirim pulsa, katanya sekalian dengan clurit " ha ha ha ha
ReplyDeleteTahu bu dokter cantik jadi banyak yg nipu ha ha ha.
salam hangat dari Galaxi
kemana perginya buaya yang kita kasih makan pake pajak, kok yang beginian gak di urus.
ReplyDelete