Jangan bayangkan aku jatuh cinta pada seorang pangeran berkuda putih yang menyelamatkanku dari kurungan nenek sihir di puncak menara! Lebay itu! Yang benar adalah aku jatuh cinta pada buku bestseller kiriman seorang sahabat narablog, Hardi Vizon, bertajuk “Negeri 5 Menara.”
Iya, iya. Aku tau review ini telat banget karena pecinta buku se-Indonesia udah pada baca. Apa? Ada yang belum baca? Udah, gak pa-pa. Gak usah garuk-garuk lantai gitu, dong. Nggak terlambat kok untuk pergi ke toko buku terdekat kemudian membeli dan membacanya. Aku sendiri juga, dikarenakan antrian buku yang panjang sebelumnya dan berbagai kesibukan, belum lama lalu baru berhasil membaca buku ini, padahal si Uda mengirimiku sudah sejak hm... lima bulan yang lalu! Hah? Li... lima bulan? *kaget sendiri* Maafkanlah diriku yang berdosa ini, Uda. Huhuhuuu...
Cut!
Oke, lanjut!
Tak sulit untuk jatuh cinta pada buku ini. Dan tak perlu waktu lama untuk menuntaskan 416 halaman. Novel terbitan Gramedia Pustaka Utama karya A. Fuadi (A stands for Alif, kan Da? Rasanya nggak mungkin Anwar Fuadi deh) ini memang pantas menjadi bestseller. Segudang alasannya. Di antaranya:
Pilihan diksinya menarik. Sangat detil dan deskriptif dalam menggambarkan setting cerita, apalagi ditambah dengan peta Pondok Madani (mengingatkanku pada buku TLOTR yang juga menyisipkan peta). Filmis, setiap adegan terasa nyata seolah-olah kita bukan “membaca” melainkan “menonton” novel. Karakter tiap tokohnya begitu kuat, setiap tokoh adalah pribadi yang unik dan dieksplorasi dengan baik oleh pengarang. Walaupun sarat pesan moral di tiap babnya, namun buku ini tidak membosankan, ringan bahkan cenderung kocak sehingga pembaca tidak merasa digurui. Di samping tentunya tema yang sangat motivasional: man jadda wajada, barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Zaman sekarang gitu loch, saat orang-orang mengangung-agungkan yang serba instan dengan sedikit usaha.
Dikisahkan seorang remaja lulusan SMP bernama Alif, yang bercita-cita menjadi Habibie, dipaksa orang tuanya untuk meneruskan pendidikan ke sekolah berbasis agama. Patah hati karena keinginannya untuk masuk SMA tidak tercapai, Alif memutuskan langkah ekstrem: sekalian masuk pesantren di Jawa Timur, nun jauh dari udiknya di pinggiran Danau Maninjau Sumatera Barat. Pilihan ini ternyata tidak keliru, karena di sinilah Alif kemudian bertemu dengan lima sahabat dan pada akhirnya menikmati kehidupan kampus yang unik, Pondok Madani (PM), yang mengantarkannya kepada keberhasilan.
Membaca kisah kehidupan di PM ini membuatku reuni akan berbagai kisah lain. Sebut saja buku-buku karya Enid Blyton yang menceritakan kisah anak-anak di sekolah berasrama seperti serial The Malory Towers dan St. Clare's. Namun tentunya tokoh-tokoh di N5M kebanyakan lelaki, sehingga Harry Potter dan sekolah Hogwarts lebih mewakili penggambaran ini, minus segala keanehan sihir pastinya.
Mengapa buku ini mudah disukai oleh pembaca kita? Menurut hematku, karena cerita ini dekat dengan kehidupan pembaca Indonesia, terlebih oleh adanya sentuhan kebudayaan Minang yang unik dan kaya. Namun jangan kuatir, novel ini tidak eksklusif atau hanya bisa dibaca oleh golongan tertentu saja. Sebaliknya, novel ini begitu universal sehingga dapat dinikmati oleh siapa saja, agama dan suku apa saja.
Entah karena rasa kebangsaan kita sedang tersulut, novel-novel dengan latar belakang kedaerahan sepertinya mendapat tempat tersendiri di hati para pembaca Indonesia. “Laskar Pelangi” pun berangkat dari masyarakat Melayu Belitong. Dari terawanganku *meminjam istilah Mama Loren*, novel-novel yang sedang diminati pembaca saat ini adalah novel-novel dengan genre seperti ini, novel edukasi. Selain menghibur, ada nilai-nilai yang tak lepas setelah bukunya sendiri dilepaskan dari bacaan. Istilah kerennya: edutainment.
Salutnya, novel ini berhasil mengugurkan citra kehidupan pesantren yang selama ini dianggap keras, kampungan, dan—seperti disinggung juga oleh penulis—diperuntukkan bagi murid-murid bermasalah. Apalagi isu terorisme beberapa tahun belakangan telah membuat citra pesantren terpuruk sebagai pabrik pencetak para teroris. Aku yakin, setelah membaca novel ini, lebih banyak lagi pembaca yang melihat sekolah pesantren dengan sudut pandang yang lebih baik. Fuadi bahkan berhasil memberi kesan bahwa sesungguhnya pesantren adalah institusi yang “sulit ditembus anak rata-rata,” moderen, sesak dengan iklim belajar dan haus ilmu, serta dijamin akan melahirkan generasi yang siap pakai.
Tentunya ulasan tak baik tanpa kritik. Tak banyak yang bisa dikritik, hanya sedikit kesalahan teknis seperti penulisan dan ejaan. Sangat sedikit. Karena penokohan yang terlalu kuat, terkadang malah muncul rasa seperti membaca otobiografi dan bukan novel saat menikmati buku ini. Begitu pula kisah unik mengenai PM membuatku agak kuatir bila buku-buku berikutnya jadi kehabisan daya tarik bila tidak bernostalgia tentang pondok lagi. Mudah-mudahan buku kedua dan ketiga nanti mampu mengkomodasi animo pembaca yang sudah terlanjur jatuh cinta dengan Menara. Terakhir, sebuah konteks yang janggal kudapati di halaman 35 saat Pak Fikri, ayahanda Alif memanggil salah seorang siswa senior dengan sebutan “Mas.” Ini terasa kurang tepat karena jarang sekali orang Minang mengerti cara menggunakan tutur “Mas.” Mungkin akan lebih tepat bila istilah tersebut diganti dengan sebutan “Dik" atau "Nak.”
Adalah keniscayaan apabila nasib novel ini nantinya mengikuti jejak novel ber-genre sama pendahulunya, Tetralogi Laskar Pelangi, yakni difilmkan. Terlebih karena Riri Riza merupakan salah seorang endorser.
Tak sabar menunggu buku keduanya terbit. Moga-moga secepatnya, dan moga-moga pula sahabat mayaku si Uda ini—yang uh, namanya disebut dalam daftar acknowledgment penulis, euy!—masih bersedia mengirimiku buku-buku berikutnya. Dijamin nggak bakal nolak, Da!***


Lagi membayangkan ayah Alif saat memanggil siswa senior itu, hmm.. jeli sekali hemma :D
ReplyDelete*pasti hemma dpt buku yg ada tanda tangannya A. Fuadi ya? soale beliau kan temannya inyiak surau
kalau membaca resensi novel jadinya cuma pingin baca, padahal jauah dari kota
ReplyDeleteGak telat kok Uni. Ulasan ini masih sangat tepat waktunya. Insya Allah akan saya sampaikan ke Fuadi soal ulasan ini. Dia pasti senang sekali... :D
ReplyDeleteSeperti si Bundo, saya juga kagum atas kejelian Uni melihat kesalahan itu. Barangkali karena saya sendiri sudah sangat terbiasa dengan penggunaan "Mas" dalam memanggil seseorang, sehingga hal demikian menjadi tak terperhatikan.
@Bundo: yang jelas, di buku itu, si Uni dapat tandatangan saya, hahaha... :D
Saya yang mbaca reviewnya saja...
ReplyDeleteempat ratus sekian halaman bukan pekerjaan yang mudah buat saya untuk membacanya...
sekitar september-november lalu A(hmad) Fuadi ke jogja uni. ada bedah buku gitu di togamas. sayang sekali pas hari itu saya ke kaliurang... haaah!!!
ReplyDeleteMars ...memang "agak telat" tapi nggak apa-apa.
ReplyDeleteSaya juga langsung beli buku ini di Gramed, begitu baca resensinya di Kompas, memang sangat menarik.
Menceritakan tentang pesantren Gontor (dan sedihnya...saya kok malah belum pernah ke sana ya, padahal cuma beberapa km dari kotaku)....menceritakan tanpa menggurui, disinilah asyiknya. Dan saya jadi lebih memahami cara didikan pesantren yang memang dari dulu sudah dikenal bahwa pendidikannya bagus.
man jadda wajada ... pas untuk ulasan di atas untuk buku ini
ReplyDeleteKayaknya merupakan sebuah buku yang perlu dibaca nih...salam kenal & salam jepret!
ReplyDeletesaya maksain beli, gak ada yang ngirim tuh soalnya penasaran dari bulan-bulan ke belakangan ramai ngebahas kerennya buku ini, salam kenal ya...
ReplyDeletesaya belum baca mbak...
ReplyDeleteboleh garuk-garuk lantai gaak??? hahahaa...
sering liat di Gramedia... cukup tertarik seh membaca covernya yang cukup mengundang tanya,..
kapan2 ah gw hunting lagi ke gramed. penasaran dengan diksinya...
waduh untuk urusan novel saya masih nol. kayaknya mulai sekarang perlu nambah koleksi buku untuk novel-novel deh. untuk memperkaya imajinasi. baca cuplikan disini saja, saya langsung pengen lari ke gramded nih..
ReplyDelete*tulisan2nya selalu nyaman di nikmati mbak mallow :)
hahahaha uni baru baca, kami semua sudah pada siap-siap untuk casting filmnya hehehehe
ReplyDeleteTinggal nunggu filmnya aja, akur... :)
ReplyDeleteSelamat malam.
ReplyDeleteSaya datang membawa misi perdamaian.
Dengan rasa bangga saya juga ingin memperkenalkan Bhirawa.
Sebuah blog baru yang membutuhkan petunjuk,bimbingan, saran dan masukan serta kritik yang konstruktif dari para blogger senior.
Sekalian mohon doa restu semoga Bhirawa jadi blog perkasa tetapi tetap rendah hati.
Saya juga dapat buku seperti itu bu
Terima kasih
Salam hangat dari Kota Pahlawan
Hahahah ...
ReplyDeleteSaya juga punya buku ini ...
Ini juga gara-gara di racuni oleh Duo Gontor sahabat saya ...
Uda Vizon dan Bang Hery ...
Mereka berhasil "mempersuasi" saya untuk membaca buku ini ...
Bedanya ...
Kalo uni melo di kirimi Uda ...
Saya mesti beli sendiri ...
Hahahahaha
aku juga udah selesai baca uni...dan juga itu hadiah dari Uztad Hardi aka Uda vizon...hoohohoho..*uda kapan mo kirimin aku buku lagi ya? :P *
ReplyDeletePertanyaanku sampai sekarang adalah, apakah uda salah satu dari 5 sahabat itu? mari kita tanyakan :P
coba pulang ntar mampir ke toko buku siapa tahu ada
ReplyDeleteNovel bagus, khas gaya Melayu. Semoga jadi difilmkan.
ReplyDeletekemaren sempet ngeliatin buku itu di Gramedia sih, tapi masih ragu mau beli... Intinya, recommended ga nih?
ReplyDeleteTerima kasih infonya. Saya pasti beli buat referensi perpustakaan. Semoga anak-anak memnyukainya.
ReplyDeleteUni memang luar biasa.