Aku percaya tak ada seorang waras pun di dunia ini yang ingin sakit. Walaupun melihat pola makanku yang aduhai, ibu suka bilang, “Kamu mau sakit, ya?” Ih, apaan sih Ibu?
Terutama aku benci sekali harus jatuh sakit kemarin, hari yang istimewa saat seharusnya aku bisa bertemu dengan seseorang yang tak kurang istimewa.
Orang ini pernah sangat berjasa dalam hidupku.
Lebih dua tahun lalu saat baru turun di Bandara Kingsford Sydney. New comer. Fika, seorang Minang teman sekelas yang sudah tiba seminggu sebelumnya menjemputku di lobi. Kami pun antri taksi, yang kemudian surprise, surpise! Supirnya adalah seorang bapak paruh baya yang ternyata juga orang Minang. Hihi.
Tibalah kami di rumah kos yang sudah dikontrakkan Fika untukku. Seseorang menyambut kami yang baru tiba, orang ini selanjutnya menjadi tetangga sebelah kamarku. Dipersilakannya kami makan masakannya. Lauknya adalah gulai telur. Bayangkan. Lebih sembilan jam meninggalkan rumah dalam keadaan duka lara karena harus berpisah dengan orang-orang terkasih, kelelahan dan kelaparan (dan pastinya belum ada gambaran mau makan apa di tempat asing ini), kemudian mendapat sajian masakan rumahan yang paling kugemari: gulai telur. Ini surga dunia! Dan orang baik hati itu adalah malaikatnya.
Malaikat itu bernama Eni, yang eng ing eeeengg... adalah orang Minang juga! Haha. Fakta bertemu orang-orang Minang berturut-turut saat baru tiba di Sydney sempat membuatku geli. Ini luar negeri bukan, sih?
Dan Eni adalah sahabat istimewa yang mustinya kutemui kemarin, bila saja aku tidak dihajar demam keparat ini.
Sesungguhnya demam ini sudah bergentayangan sejak sehari sebelumnya. Onsetnya tiba-tiba pada siang hari sepulang berbelanja kebutuhan dapur di Carrefour. Kupikir, biasalah baru dari tempat ramai yang ber-AC. Tapi demamnya semakin berat ditambah otot-otot yang linu seperti baru memenuhi undangan istimewa menjadi sparing partner Mike Tyson. Kondisi ini kian memberat pada malam hari, sakitnya tidak biasa, terlalu berlebihan. Kepalaku juga ikut senut-senut.
Mengingat onsetnya yang akut dan gambaran klinisnya yang demikian, aku kuatir mengidap demam dengue. Pernah aku menderita DD sebelumnya (tidak sampai jatuh ke kondisi demam berdarah dengue atau DBD sih), dan menurut salah sebuah teori sindrom syok dengue (SSD), menderita tipe dengue yang sama untuk kedua kalinya dapat memicu syok. Walaupun tidak tahu tipe dengue yang sebelumnya menyerangku, tapi kena DD dua kali? Oh, nooo...
Semalaman istirahatku menjadi tidak karuan. Mengigau. Menggigil kedinginan walaupun AC sudah dimatikan dan aku berkelumun sweater dan selimut tebal. Dalam kondisi normal, tidur tanpa AC di dalam ruangan yang tertutup rapat saja pasti bikin gerah luar biasa. Tapi aku masih kedinginan dan dengan iri membayangkan nyamannya kompor.
Jam tiga pagi aku semakin merasa sangat tidak baik. Kepalaku kebas. Aku ingin muntah. Berlari ke kamar mandi kemudian memeluk dudukan toilet. Dan PYAAARRR!!! Tumpahlah isi lambung yang sejak siang memang tidak diasup apa-apa. Muntah asam lambung semakin membuat perih.
Setelah muntah memang rasanya lebih ringan. Tapi apa ini? Kenapa malah mencret? D'oh!
Konsekuensinya kemarin, akibat istirahat yang amburadul disertai diare yang kian agresif dan spontan (sampe gak berani kentut, gila!) juga demam yang masih menghantui, aku pun batal bertemu Eni. Ceritanya Eni transit lama di kotaku, lebih kurang tujuh jam. Uh! Mustinya aku bisa mengajaknya keliling kota sambil ngobrol. Maklum, sudah dua tahun lebih tidak bertemu makhluk ini. Eni memang menjadi teman kosku hanya selama sebulan sebelum ia kembali ke tanah air karena studinya telah selesai. Satu bulan yang membuatku sangat familiar dengan lagu Bubbly-Colbie Caillat karena sayup-sayup selalu terdengar dari kamarnya. You know I miss you, sista!
Maafkan aku ya, En. Hopely next time we can make up what we didn't have today.
Dan kamu, lelaki terindah *uhuy!* yang tak lelah memompa semangat selama sakitku, I can't thank you enoungh. I love you.
In these wee hours, ketimbang bete lantaran tiap sebentar musti bangun untuk ke toilet, mendingan aku nggak tidur sekalian. Tak salah jadinya bila ibu berkata, “Kamu mau (lebih) sakit, ya?” Ampun, Ibuuu... Cuma mau ngobrol-ngobrol sama para sahabatku kok.
...Tapi hei, apa ini? Duuuhh... musti buru-buru ke toilet lagi nih. Bentar ya, fren. Atau pada ninggalin komen aja deh. Emang gak enak banget ngobrol terputus kayak gini.***

syukur sekarang dah sehat, paling tidak dah baikan
ReplyDeletesalam dari kalimantan tengah
beruntung benar ketemu orang2 minang saat baru tiba di aussie... padahal bagi orang lain bisa ketemu orang indonesia saja udah bagus
ReplyDeleteWah,.... tulisan mbak bikin aku seakan berada disana.......Semoga lekas sembuh ya mbak,.....
ReplyDeleteHemma, pas balik lagi cuci tangan pake sabun wangi dulu yaaaa. jangan langsung pegang keyboard!
ReplyDeletemakan bubur! jangan bandel.. huhhh dokter macam apa ini ndak bisa jaga kesehatan? :evil:
PYAR itu bahasa India untuk cinta lho, uni.. hehe.
ReplyDeletegile dah! leluhur-leluhur kita "dulu" memang aneh.. merantaunya jauh2. jadi generasi2 selanjutnya juga ikut2an merantau jauh2.. apa karena cerita tambo yang mengatakan kalau orang minang keturunan Macedonia ya? :D
telur gulai itu sama dgn telur singgang bukan sih, ni? kangen sama bikinan ibu di kampung... whaaaa!!
minum Entrostop, Mbak. biar berani kentut lagi, hehehe...
ReplyDeleteTulisanmu close-up, jujur dan blak-blakan.
Saat nulis postingan ini pakai jeda berapa kali Mbak???.
ReplyDeleteSemoga cepet pulih, cepet seger.
Pasti ada pertemuan berikutnya dan berikutnya...
Makan apa bu hajjah?
ReplyDeleteJadi kebayang pola makannya, sampai ibunya berkata, "Kamu mau sakit, ya?".
Cepat sembuh ya ...
Dokter ternyata bisa sakit yaaa.
ReplyDeleteEny Indah Agustiany itu adalah anak sulungku yang memberiku dua cucu, Dita dan Briga.
Bu dokter sekarang sehat kan. Semoga begitu.
Jaga makan, jangan main di hujan2, minum vitamin, istirahat yg cukup lho ya. Ini saya kasih resep. Kalau ada keluhan lagi segera call saya.
Btw, wanita cantik kok ya bisa kentut..kirain nggak pake acara gitu segala. ha ha ha.
Oh ya, saya penggemar berat masakan padang je. Ada RM Sederhana dekat rumah..bagus banget tempatnya. masaknya di depan pengunjung, jadi kelihatan dan aromanya sadaaaaaaap.
Salam hangat dari Surabaya
wowowo, apa kabar orang minang, heheheh
ReplyDeletepengalaman yang......kalo menderita sebuah ujian begitu ya bu.....
demam memang...............hidup
makasi berbaginya bu. sukses selalu ya
pahit juga ya kalo cakit
ReplyDeletepengalaman yang....
tx bu
salam kenal....
ReplyDeleteoh, sama seperti kawan saja yang saat ini sedang terbaring lemah akibat kena DBD.....
cepat sembuh yah mba...
Huehehehe.... tapi emangnya sebelumnya kalo setiap kali makan gulai telur suka terganggu gitu asam lambungnya?? Jangan2 bukan karena gulainya langsung tapi karena itu gulai udah ditebengi oleh Helicobacter pylori atau bakteri2 lainnya, habis tanda2nya mirip seperti orang terinfeksi mikroogranisme gitu... **halaah mode sok tahu ON** :mrgreen:
ReplyDeleteTapi ya.... ambil saja hikmahnya... hitung2 tidak perlu Vegeta untuk melancarkan BAB... lha wong BAB-nya udah lancar bak melewati jalan tol dengan rem yang blong gitu... huehehehe.... :P
yiha, dokter juga bisa sakit ya, uni? hehe
ReplyDeletesenang punya sahabat yang saling menolong di negeri/kampung orang. *hehe, pengalaman pribadi.
semoga sekali waktu ada waktu, dengan badan yang fit, agar bisa berkeliling2 ke mana, uni. bersama sahabat, bercerita tentang nostalgia masa lalu.
diapet atuh heheheh sing penting cepet sehat aja bu
ReplyDeleteSi Eni masakin kamu gulai telur?
ReplyDelete*nengok ke Eni*
Oh, bukan..
Aduuuh, Bidadari sakit..
*peluk-peluk bidadari dari sini*
Mudah-mudahan cepet sembuh dan berani kentut lagi, amin..
Waduh, asam lambung dan demam, paduan yg menyeramkan. Gimana keadaannya skrg Uni? Mudah-mudahan udah baikan, biar segera bisa makan gulai telur lagi (my favorite too).
ReplyDeleteBtw, gak berani kentut? Kentut mah kentut aja lagi..., drpd ditahan :D
cepat sembuh ya Uni...dokter kok bandel sih :P
ReplyDeletedan lelaki terindah? siapakah itu...hihihihi *gosip2 ahhhhh* :D
Semoga saat ini sakitnya sudah baikan...
ReplyDeleteLelaki terindah....hmm siapakah dia? Berarti bisa segera mendapatkan undangan nihh....
bisa sakit juga toh, ngemeng-ngemeng bisa ngobatin sendiri tak ya... apa sama seperti tukang cukur rambut?
ReplyDeletejaga kesehatan aja mbak... :D
ReplyDeleteOh masih bersambung tho, ditunggu deh ceritanya..
ReplyDelete"Fika, seorang Minang teman sekelas..."
ReplyDeleteWah jarang-jarang kata Minang ditulis untuk menyebut orang yang berasal dari daerah Sumatera Barat, biasanya ditulis "Padang", berkali-kali kata Minang diulang-ulang di tulisan di atas, nampaknya penulis sangat ingin menunjukan perbedaan antara Padang dan Minang yang selama ini banyak disalahartikan.
Salam kenal dari pinggiran..
Popop
uni marshmallow, setiap saya baca post di sini, suka bingung bedain fiksi apa fakta. Mau bilang cepet sembuh, takutnya salah satu serialnya doang :D
ReplyDeletecepat sembuh ya mba. baru nyampe negri orang langsung sakit gitu. kasian.. >,<
ReplyDeletesemoga cepat sembuh mbak...
ReplyDeletemau nyanyi ala seurius...
ReplyDelete"dokter juga manusia, bisa demam, bisa diare..." :)
mau marah ala ibu...
"mada bana mah, kok makan elok-elok baa nyo?"
mau ngomong ala lelaki terindah itu...
"beib... istirahat ya, jangan khawatirkan diriku, aku baik-baik saja kok"
mau komen ala biasanya...
cepat sembuh ya uni... :)
Salam kenal, pengen baca sambungan ceritanya Bu...
ReplyDeleteTernyata Dokter juga manusia. Ha ..ha ...ha!
ReplyDeleteSemoga sekarang sudah sehat dan selalu bahagia.
Akhir januari saya ada rencana ke Jakarta apa mungkin bisa bertemu dengan Uni.
Hadooohhh... Mbok ya diselesaikan dulu ke toiletnya, baru posting tulisan. Doh! Sana, bereskan dulu. Nanti kalo udah baru aku bisa komen dengan tenang. Hih. Dasar perut udik! Hihihi...
ReplyDeleteAku ngakak aja deh Uni! wekekekek..ngakak aja baca komentar Uda Vizon! hehehehehe...
ReplyDeletegimana ya rasanya...
ReplyDeletesalam kenal
ReplyDelete