Saat harus menulis sebuah surat resmi secara manual kemarin, barulah kusadari bahwa ternyata AKU TAK BISA MENULIS LAGIIII!!! OH MY GOOOOD!!!
Baris pertama masih oke, baris selanjutnya tangan mulai kerepotan, tulisan mulai tidak tegak lagi. Semakin parah di paragraf kedua. Tiga paragraf selanjutnya tulisanku sudah semakin tak tertolong. Bukan stenografi, namun acakadut luar biasa!
Gini, ya...
Sejak SMP, yakni sejak pengurus kelas diaktifkan fungsinya, aku selalu bertugas sebagai sekretaris kelas. Alasannya nggak jauh-jauh dari tulisan, mengingat perangkat kelas saat itu fungsinya saklek dan gak ribet: ketua tukang atur barisan, sekretaris tukang nulis, bendahara nyimpen duit. Plek!
Dan bukan sombong *sumpah bukan sombong ini*, saat kuliah—waktu itu penggunaan komputer belum seintensif sekarang—catatanku selalu jadi incaran. Tak hanya sebatas teman-teman seangkatan, kopi catatanku mudah ditemukan menjadi pegangan anak-anak hingga beberapa angkatan ke bawah. Alasannya nggak jauh-jauh dari tulisan. *padahal isi catatannya menyesatkan semua* Hakhakhak...
Lha, bertahun-tahun aktif menulis tangan, terhitung sejak belajar nulis di SD, kenapa ujug-ujug sekarang aku udah nggak bisa nulis lagi? Memang sih waktu itu pernah teman-teman mengolok-olok bahwa aku tidak akan pernah bisa menjadi dokter karena tulisanku tidak mencerminkan sama sekali. Ini teori aneh sebenarnya, tapi aku mengerti maksud mereka. Lantas sekarang, kenapa aku benar-benar tidak bisa menulis tangan lagi dengan baik?
Padahal aku menulis hampir di setiap kesempatan, sangat intensif: catatan dan tugas kuliah, catatan harian, surat kepada pacar (yang tulisannya memang musti rapi jali biar pacar makin cinta), kartu ucapan, hingga berbagai hal remeh-temeh lainnya. Namun fungsi tulisan tangan ini lama-kelamaan diambil alih dengan keberadaan komputer.
Menulis tangan memang praktis jarang sekali dilakukan sejak tersedia komputer. Ditambah kemudian laptop yang gampang ditenteng ke mana-mana, mulai dari menggarap jurnal yang harus ditulis dengan hati-hati hingga membuat notulen rapat yang sifatnya on the spot. Soal notulen ini, bahkan saat ini tersedia berbagai gadget yang sangat memudahkan dalam hal membuat catatan tanpa harus menulis tangan. Kemampuanku menulis tangan pun kian mengalami degradasi sejalan dengan perkembangan penggunaan komputer dan perangkat elektronik lainnya.
To make it even worse, aku hanya perlu menulis tangan bila hendak menulis resep! Bukan berarti tulisan di resep itu harus jelek, karena tulisan tangan dokter harus tetap terbaca, tapi sempitnya waktu memang menuntut resep ditulis buru-buru.
Akhirnya aku tiba pada kesimpulan ngaco ini: computer has killed my handwriting ability! Komputerlah kambing hitamnya. Kemampuanku menulis tangan telah dimanja oleh keberadaan perangkat yang satu ini. Kalau kulihat catatan ibuku yang notabene tidak mengenal komputer, tulisan tangan ibu begitu konsisten kerapiannya, through and through, dari halaman pertama hingga terakhir. Dan aku yakin banyak ibu-ibu lain yang tulisannya rapi seperti tulisan beliau.
Dulu kerapian dan keindahan tulisan tangan orang Indonesia cukup dikenal lho. Pernah seorang dosenku di negeri jiran mengakui ini dan memintaku untuk menulis halus-kasar seperti, katanya, selalu dikaguminya pada tulisan teman-teman korespondensinya yang orang Indonesia. Waktu itu aku menyesal sekali tidak mampu menulis halus-kasar dengan baik, sebagaimana yang diharapkannya.
Nah, sekarang. Bukan hanya tidak bisa menulis halus-kasar dengan baik, aku bahkan tidak mampu menulis tangan dengan baik!
Bagaimana dengan teman-teman? Apakah komputer juga telah membunuh kemampuanmu menulis tangan?***

tulisan tangan di amplop coklat kemarin cukup indah kok :D
ReplyDeleteklo tulisan Bundo memang dari SD sudah cakar ayam, tapi karena kemampuan lisan sangat lemah maka tetap bela-belain menulis :D.
sewaktu SD kelas 2, sy ingat sekali, guru kelas muji tulisanku, katanya paling rapi, paling indah..ahaha...
ReplyDeletetapi sekarang? hancurrrr...
Sy pernah dengar cerita katanya dari pihak kepresidenan selalu cari orang dengan tulisan yang indah dan rapi untuk menulis surat2 kenegaraan yang memerlukan tulisan tangan.
setelah di test.... ternyata.... tulisan wempi.... masih.....
ReplyDelete.....
.....
.....
Jelek!
:D
Betul, mbak. Aku jg merasa begitu. masih mending mbak masih nulis resep. Lha kalo aku, urusan kantor...nulis fax, e-mail, surat sampe label..pake komputer. Urusan pribadi pun (a.k.a ngeblog) jg pake komputer. Kalo nulis hanya 1 paragraf masih OK, tp kalo udah ke-3...mulai deh. Aku jg baru sadar semakin lama tanda tanganku jg makin jelek... (untungnya selama ini ga pernah ditolak di bank!)
ReplyDeletepodho wae mbak!
ReplyDeletekakeyan ngetik, lali nulis tangan... wakaka...
Tulisan tangan saya sekarang tidak sebagus dulu tapi paling tidak masih bisa terbaca orang lain..hehe.
ReplyDeleteSangat iya Mbak...
ReplyDeleteDulu saya terpilih sebagai tukang nulis ijasah karena kekhasan tulisan saya,
Dulu, orang yang baru pertama melihat tulisan saya langsung berdecak suka...
Sekarang...
Dari start sampai finis, tulisan saya jelek semua.
Tidak konsisten, sukar dibaca, terasa gampang capek...
lamaaaa sekali tidak menulis dengan tangan sendiri. padahal dulu, katanya tulisanku bagus, terutama tulisan arabku, smpai salahseorang ustadku selalu minta aku menulis untuk materi khotbahnya...
ReplyDeleteberarti udah terlatih dari dulu ya bu...
ReplyDeletepasti bisa dong sekarang.. cuma bedanya ngetik aja :)
toh kan lebih susah pake 'pena' langsung hmmmm
hehehe ... teknologi memang telah memanjakan penggunanya, mbak yulfi. tapi akan repot kalau suatu ketika produk yang digunakan lagi error, hehe ... mesti kembali manual. meski ndak bagus2 amat, tulisan manual saya masih bisa kebaca, mbak, hehe ... karena saben hari mesti masih nulis di papan tulis atau mengisi jurnal harian di kelas, hehe ...
ReplyDeletetulisan saya dulu sih juga bagus uni. tapi semenjak kuliah ini jadi gak jelas lagi... :mrgreen:
ReplyDeletetidak mustahil kalau bebeberapa tahun mendatang anak-anak SD di perkotaan belajar baca tulisnya pake laptop.. dipikir-pikir, serem juga ya teknologi.
tulisan tangan saya? uni tahulah jawabannya, udah lihat kan? ya, JELEK BANGET!
ReplyDeleteitu semua saya akui karena mesin tik di jaman dahulu, dan komputer di jaman sekarang.kegiatan saya menulis dengan tangan bisa dihitung dengan jari sekarang ini.
dulu, di jaman kuliah S2, saya sempat berseloroh kepada pihak akademik agar menjawab ujian pakai komputer saja, tidak pakai tulisan tangan. alasannya, karena saya menulis lambat, sehingga apa yang dipikirkan tak secepat yang ditulis. bila ditambah lagi kecepatannya, alamat tulisan itu takkan terbaca. tapi, kala itu sama sekali tak diizinkan.... :(
yes, saya adalah orang yang telah menjadi korban dari teknologi tulis menulis ini...
aku masih rajin menulis tangan uni, walaupun aku tukang komputer tetap aja menulis dengan tangan itu punya sensasi sendiri. aku masih punya diary yg kutulis memakai tangan, masih punya notes yg sering kubawa kemana-mana sebagai pelengkap...kuno banget ya uni! padahal ini yg ngomong tukang komputer hahahahaha...
ReplyDeletePertama, saya mau nanya dulu, kenapa sih pada umumnya dokter itu tulisan tangannya gak bisa terbaca, Uni? Sampai skrg saya belum nemu jawabannya...
ReplyDeleteKedua, hal yang sama juga saya alami. Tapiiiiii..., buat nulis huruf Kanji Jepang :mrgreen: Kemampuan menulis huruf Kanjiku jauh menurun sejak dimanjakan notebook :(
Ketiga, katanya sih, tulisan menggambarkan pribadi penulisnya. Cara menggoresku masih panjang dan lancip-lancip, mungkin dari sejak bisa menulis sampai sekarang di penghujung umur 20-an ini pribadiku dasarnya tiada berubah...
Liat dong tulisan tangan saya, lebih jelek dari tulisannya anak-anak saya. Makanya kalau pelajaran Bahasa Indonesia jadwal menulis elok tegat atau tegak bersambung, nilai saya selalu berada di tengah-tengah. Sepuluh anak yang secara konsisten nilainya selalu diatas saya, hiks...(Kalo giliran menulis elok, saya juga ikut menulis dan dinilai seperti anak-anak saya. Guru BI-nya saya, heheh...Jadi saya menilai hasil sendiri.)
ReplyDeleteMalunya kalo pas pertemuan gugus. Guru-guru negeri itu ya, tulisannya bagus-baguuuus... Rapiiih diukir-ukir. Gak di papan tulis yang udah licin saking jadulnya (Papan tulis item pake kapur lowh!!) gak di buku. Yaa, soalnya apa-apa juga musti nulis tangan. Saya baru satu halaman udah meringis-ringis diketawain yang lain.
Hayoo..jangan menyalahkan komputer..
ReplyDeleteSaya masih bisa menulis tangan, karena paling tidak, saya membuat outline dulu dan draft sebelum dimasukkan dalam komputer.
Jadi nggak ada alasan ya...
Ayoo...latihan menulis lagi...ntar terbiasa lagi kok.
Oh...kalo untuk menulis huruf cetak, tulisan
ReplyDeleteYessy...JELEK!
Tapo untuk tulisan tipis tebal, bolehlah..soalnya dulu sering di puji sama guru bahasa Indonesia...cuma Yessy yang bisa nulis latin begituh..wekekeke...
Jadi Uni...Yessy gak akan menyalahkan komputer. Karena tulisan Yessy dari dulu udah jelak..hehe...nah..sekarang tinggal mencoba gimana latinnya...
Dan hasilnya adalah.....................................................................................................Ya elah...Jelek juga....Mampus deh gue...
Tulisan tangan sang dokter pada resep pasien kadang menjadi tuntutan "menjaga kehormatan profesi" diniati jelex. Andaikan semua profesi berperilaku demikian maka apa jadinya dunia, heheheh
ReplyDeletesetujukah ibu?
Tulisan tangan saya emang paling bagus, menurut dhewe. Tapi sejak beberapa waktu ini keadaan mengharuskan saya bikin bahan postingan dengan tulisan tangan. Lumayan, latihan nulis tangan lagi.
ReplyDeletekayak pernah dengar kata stenografi..apaan itu yak....
ReplyDeleteWaduh baru inget lagi dengan menulis tangan, masih bisa enggak ya? Padahal dulu sering kebagian nulis di papan tulis kelas. Jangan2 sama juga sudah hilang keterampilan menulisnya
ReplyDeletekarena sering ngajarin dan nemanin anak sm ponakan belajar..jd mesih sering menulis.....tangan msh trampil jg...
ReplyDeleteKlu saya mah dari dulu sampai skrang tetap juga ancur, makanya waktu kuliah dulu samapi sekarang catatan saya jarang dipinjam temen2, selain ga jelas, catatan itu penuh dengan panah2 dan hanya saya yg mengerti panah2 itu,... Memang bener mbak komputer telah mengkerdilkan fungsi tulisan tangan,..
ReplyDeleteItulah yang disebut Dhri G sindrome bu dokter.
ReplyDeletecoba tulislah kata " pasti "ayam pop" pasti hasilnya akan jadi aypp 7500, nah yang ini disebut warpad sindrome karena sering saya jumpai di resto padang. Ini juga smbl ijj00 5500, apa hayoooo.
Salam gerimis di Sby.
tergantung situasi... kalo lagi santai mah bagus-bagus aja tulisanku, tapi kalo lagi nyatet buru-buru, hanya aku yang bisa mengingat kembali apa yang baru saja aku tuliskan *mengingat lho ya, bukan membaca ;p*
ReplyDeleteama pacar kok masih surat2an...
ReplyDeletewooiii udah jaman maju nih :p
i see, finnaly comment here !!!!
kalo pake jaringan kantor, tempat commentnya gak bisa dibuka, nah kalo pake jaringan luar..BISAAAA...
cihuyyyy
*nari hula-hula*
Jadi inget lagu "Video Killed The Radio Star"-nya The Buggles yang dirilis tahun 1979. Barangkali betul itu sekadar perumpamaan.
ReplyDeleteTapi adanya betulnya juga, hingga kini aku pun sudah jarang sekali menemukan kondisi di mana mesti menulis tangan secara manual (emang ada menulis tangan secara digital? Ck!).
Hingga ketika mesti menuliskan sesuatu di halaman-halaman awal novel (ehem!) untuk ditandatangani, aku baru terhenyak dan sadar: Wew, menulis tangan lagi!
Okelah, itu memang dampak dari perkembangan teknologi yang tujuan luasnya demi mudahkan manusia. Tapi yang jadi pertanyaan adalah:
1) Bukannya tulisan tanganmu emang jelek dari sononya? Soal sekretaris kelas atau catatan kuliah yang dipinjam sana-sini, aih, bikin ngakak saja. Haha!
2) Emang pernah punya pacar? Wakakakakkk...
Jadi inget lagu "Video Killed The Radio Star"-nya The Buggles yang dirilis tahun 1979. Barangkali betul itu sekadar perumpamaan.
ReplyDeleteTapi ada betulnya juga, hingga kini aku pun sudah jarang sekali menemukan kondisi di mana mesti menulis tangan secara manual (emang ada menulis tangan secara digital? Ck!).
Hingga ketika mesti menuliskan sesuatu di halaman-halaman awal novel (ehem!) untuk ditandatangani, aku terhenyak dan sadar: Wew, menulis tangan lagi!
Okelah, itu memang dampak dari perkembangan teknologi yang tujuan luasnya demi memudahkan manusia. Tapi yang jadi pertanyaan adalah:
1) Bukannya tulisan tanganmu emang jelek dari sononya? Soal sekretaris kelas atau catatan kuliah yang dipinjam sana-sini itu, aih, bikin ngakak saja. Haha!
2) Emang pernah punya pacar? Wakakakakkk...
Memm... Menulis untuk... pacar?
ReplyDelete*gakfokus*
*ntarkesinilagidah*
Uni... tolong sampaikan salam kenal saya sama si Cibe, kayaknya dia tu aduhai sangat, hahaha... :D
ReplyDeleteWalau era Web, saya masih membiasakan nulis manual mba, biar tetap membudaya he..he....
ReplyDeleteAh, untunglah saya keburu membaca bukunya Slouka, "Ruang yang Hilang; Pandangan Humanis tentang Budaya Cyberspace", jadi sudah mengantisipasi macet dan menurunnya kemampuan menulis tangan (tak tergerus budaya typing2 itu).
ReplyDelete*memandangi tulisan tangan sendiri di binder*
*masih tetap keren seperti dulu, gothic dengan sedikit kaligrafik* B-)
Mari menulis lagi, terserah medianya apa, tapi jangan lupa untuk menulis di kertas.
ReplyDeletewekksss.. aku juga gitu.. tulisanku yang dulu rapi(ancur dikit seh :D), sekarang makin ancur-ancuran. kebanyakan ngetik keybord seh.
ReplyDeletejariku rasanya sudah tidak cukup lentik lagi hehe..
ReplyDeleteudah kaku kaku dan sulit ditekuk buat megang pulpen apalagi pensil...
gw hampir kehilangan seni menulis indahku...
kok jadinya malah kayak cekeer ayam gak jelaaass..
apa perlu diurut dulu nih jari jemarinya...
Sebentar-sebentar, saya lagi ngebayangin gimana kalo jadi pacar Uni terus dapat surat cinta dengan tulisan tangan yang rapi jali itu. Amboi, pasti cocok untuk bungkus kacang. Wakakkak *kabur*.
ReplyDeleteA little bit uni, tapi karena kalau ngajar anak2 sering kali harus menggambar dan membantu menulis...jadi tangan ini masih mau menulis dengan baik. Cuma sempat kemarin ada mata kuliah yg pake in-class test 2000 word essay...TULIS TANGAN...ampe keriting uni jariku :D
ReplyDeleteMasak iya sih, sekretaris kelasku yang selalu menuliskan pelajaran dari guru-guru di sekolah sudah gak cantik lagi tulisannya? Jangan kecil hati kalau begitu. Aku pun sejak jadi wartawan dan harus membiasakan menulis cepat, kini tak bagus lagi menulis. Tapi kalau menulis kaligrafi hasil ajaran Ustad Muhammad Din yang tetanngamu itu aku masih lumayanlah, ha ha ha
ReplyDeleteterima kasih atas komentar teman-teman. ternyata banyak yang punya masalah serupa. tapi aku salut sama ibu enny, dan terutama sekali ria yang walaupun kerjanya setiap hari berkutat dengan komputer sebagai staf TI, menulis tangan tetap dilakukan dengan rutin. kalau sekadar menulis alamat di sampul surat dengan huruf balok sih masih bisa terselamatkan, bundo. yang minta ampun tuh kalau musti nulis banyak, seperti indira, 2000 kata tulis tangan? get out of here!
ReplyDelete@cibe: novel, ya? novel yang mana? uhuy!
"emang pernah punya pacar?" maksudnya sebelum kamu, gitu? kikikikik...
@uda vizon:
cibe itu secret admirer saya, uda.
*rasain lu, cibe!*
@ariss:
mustinya dengan tulisan seindah itu kamu bisa jadi staf kepresidenan seperti kata si daeng ichal, ris!
@bintangsatria:
huaaaa!!! bang saaaatt!!!
beginilah nasibku setelah tidak jadi sekretarismu lagi, bang!
hihi...
Memandang tumpukan kertas dengan oret sketsa di meja cubicle.
ReplyDeleteDari 10 halaman HVS ga ada satupun tulisan tangan, semuanya isinya simbol sama gambar :D
Trus nyoba nulis aga panjang dan minta temen untuk baca, Alhamdulillah masi bisa dibaca dan dianggap tulisan manusia