Aku memang bukan penikmat siaran-siaran televisi. Paling banter buka tivi buat nonton siaran di televisi berita itu. Selebihnya tivi nganggur menghemat pemakaian listrik. Hehe. Kalau dulu sih aku memang langganan televisi berbayar (saking tidak bisa menikmati televisi kita yang sarat sinetron dan tayangan gosip itu), namun kesulitan melepaskan diri dari sang kotak ajaib karena aku sangat doyan menonton siaran sitkom dan berbagai serial di AXN dan Starworld. Kuatir tidak mampu bijak membagi waktu, sekembali dari Oz aku memutuskan untuk putus cinta dengan provider-nya.
Jadi tak heran kalau aku tidak tahu apa dan bagaimana “Idola Cilik”, tayangan salah satu stasiun televisi swasta itu. Namun saat salah seorang keponakan dari Pekan Baru mengatakan keinginannya untuk ikut audisi di Medan (di Pekan Baru ternyata tidak ada audisinya), aku berpikir—dan yakin—bahwa paling tidak di dalam audisi itu pastilah anak-anak akan menampilkan sisi kekanak-kanakan mereka dalam berekspresi seni suara. Itu termasuk menyanyikan lagu anak-anak dan mengenakan kostum yang mewakili usia mereka.
Makanya aku jadi heran saat Tira, keponakan itu, rehearsing (halah, latihan ngono lho) lagu-lagu ngetop oleh ST12, Wali, dan Ungu (bahkan lagu-lagu ini pun aku tau dari Tira juga). Semuanya lagu bertema cinta yang aneh bener deh mendengarnya keluar dari mulut seorang anak 9 tahun.
Saat kutanyakan, “Jadi lagu anak-anaknya apa dong, Ra?” Tira malah bengong kebingungan. Bengong akan pertanyaanku dan bingung bagaimana menjawabnya. Belakangan kuketahui—dari pembicaraan Tira dengan mamanya juga melalui telepon—lagunya tidak perlu lagu anak-anak. Mamanya bilang bahwa anak-anak yang terpilih masuk Jakarta pun tidak menyanyikan lagu anak-anak. Dan kuketahui juga bahwa Tira tidak mengenal, apalagi hapal, satu pun lagu anak-anak! “Kalau terpaksa sekali, Tira nyanyikan lagu Potong Bebek Angsa aja, Tan,” kata Tira akhirnya dengan serius. O em jiii...
Jadi beginilah potret kolektif anak-anak kita. Selama ini aku hanya mendengar atau membaca saja tentang itu. Tapi menghadapi kenyataannya secara langsung ternyata lebih membuat miris. Hampir setiap saat di rumah aku mendengar Tira menyanyikan lagu-lagu cinta penyanyi-penyanyi Indonesia. Suaranya sih oke, tapi akan jauh lebih oke kalau dia menyanyikan lagu “Desaku” misalnya, lagu kesukaanku semasa kecil dulu, bahkan hingga kini. Atau lagu-lagu Sherina yang hampir satu album bisa kuikuti melantunkannya karena dulu sempat menjadi kaset wajib di dalam kendaraan selama berbulan-bulan.
Suatu kali kudapati Tira sedang merias diri di depan cermin kamar mandi. Berbagai perlengkapan make up bertebaran di atas basin. Kiranya dia sedang mencoba dandanannya, besok adalah hari audisi. Coba bayangkan adegan ini dilakukan oleh anak kelas 4 SD.
Tira mengenakan alas bedak, kemudian membubuhkan bedak tabur dengan pad secara hati-hati dan merata, menekan-nekannya di beberapa bagian wajah. Kemudian menggunakan blush on di atas tulang pipinya yang bahkan belum tampak menonjol karena tertutup pipi kanak-kanaknya yang chubby. Selanjutnya eye shadow bewarna muda, terakhir lipstik yang shiny. Aku menyaksikan semuanya dengan takjub. “Tante musti belajar dari kamu deh.”
“Tante nggak perlu lagi pake bedak, doh. Kulit Tante udah putih,” jawabnya dengan logat Pekan Baru. Tira mempelajari wajahku, gayanya persis seorang professional make up artist. Ya ampun, anak segini?
“Besok pakai baju apa?”
Sebuah kejutan, karena Tira mengenakan stelan hitam dari ujung rambut hingga ujung kaki. Caranya mengenakan bandana trendi banget, dipilin sedemikian rupa, kemudian disemat hingga jadi tak sekadar pengikat rambut seperti yang kutahu. Atasannya baju hitam terbuat dari bahan sifon yang potongannya tidak sama panjang, nge-rock gitu deh kesannya. Bawahannya legging hitam yang, sebatas lutut kemudian, dimasukkan ke dalam sepatu but. Alas kaki adalah sepatu but setinggi lutut dengan tumit tiga senti dan berat yang bikin gendang telingaku hampir pecah setiap kali dia naik-turun tangga yang anaknya kulandasi kayu solid. Prok prok prok seperti tentara berbaris. (Duh, anak-anak tangga pada lecet deh kena hentakan kakinya)
Ini kan dandanan gaya orang dewasa, Nak?
Kalau aku jurinya, maka aku akan lebih menyukai anak-anak yang membawakan lagu dan berpenampilan anak-anak, sesuai dengan usia dan perkembangan mereka. Anak-anak kan bukan orang dewasa dalam ukuran mini. Ingat kisah Kaitlyn Maher, bocah Amerika berusia 4 tahun yang mencuri hati dunia dengan kepolosannya di ajang America's Got Talent tahun lalu? Dan sepertinya juri audisi waktu itu sependapat denganku sehingga Tira tidak lolos seleksi. Atau dia memang kalah bersaing dari para kontestan lain yang justru lebih dewasa? Au ah elap.***

43 comments:
hal-hal macam ini membuat saya ngeri membayangkan nasib anak-anak bertahun yg akan datang. Sebab saat ini saja sudah sedemikian memprihatinkan.
Berlindung di balik kemajuan jaman nampaknya hanya sebuah apologi.
KPI dan KOMNAS Perlindungan Anak mungkin adalah institusi yg harus bersikap formal & tegas dlm hal ini.
dulu waktu saya masih SD, sampai SMP, masih banyak acara seleksi lagu anak. yang MCnya Agnes Monica, Maissy, Chikita Meidy, Enno Lerian.. sekarang gak ada lagi.
malah anak2 lebih ngerti lagu orang dewasa daripada lagu yang pantas untuk umur mereka.
btw, Papa T Bob ke mana ya, uni? hehe..
begitulah, uni..
welcome to the jungle, ya...:p
*sembari membayangkan tira berdandan tadi, wuuiih...wong aku aja bentuk alis dan pake eyeshadow gak mahir..hihihi*
anakku umur 4th (cewek), hapal lagu vierra (itu lhoo band anak muda yg mulai naik daun)..idolanya vidi aldiano dan raffi ahmad, mana kenal dgn penyanyi cilik lain (emang skrng ada penyanyi cilik ya? kyknya udah musnah deh. yg ada mngkn penyanyi anak kecil ala org dewasa)
bayangkan, apa mamanya gak pusing...baru kemaren aku belikan cd berisi lagu anak2 lama (naik2 ke puncak gunung, balonku dll)...tp, susahnya teteeep..pas jam 9 pagi minta disetelin rcti (jam segitu saatnya tayang acara dahsyat, acara musik dimana raffi ahmad jd hostnya)
coba uni...gimana aku gak melongooo....
iyo tante sabai ndak usah bedakan lagi doh.. ndak usah pake braces juga, dah cantik :)
ttg kanak-kanak, itulah maunya masyarakat.. toh ga ada yg demo dan rating acaranya tinggi.. berarti masy suka lihat kanak-kanak ala org dewasa begitu..
Sebenarnya saya nggak tahu apa2 masalah seni, mangkannya komentar saya berikut ini bisa jadi diklasifikasikan ke dalam "komentar ngaco". Huehehe....
Kalau menurut saya, sering memang orang2 yang "punya daya seni tinggi" akan berfikir sangat mbalelo. Pokoknya terkadang ndak bisa "digarap" dengan pemikiran yang rasional dan terkadang keluar dari jalur2 normatif. Saya dulu (dan sampai sekarang) juga menilai bahwa memang lebih pantas anak2 didandani secara anak2, namun belakangan saya menyadari, mungkin orangtuanya sangat berjiwa seni sehingga ia mampu melihat "keindahan" di luar apa yang biasa kita lihat. Maklumlah mata seni sangat berlainan terkadang dengan mata rasio bahkan dengan mata normatif (pornografipun dapat dibilang seni!)
Yo wis lah.... aku sendiri juga bingung, saya serahkan saja kembali pada mereka2 yang lebih berjiwa seni dibandingkan saya. Huehuehue...
huehuehu... sepertinya wempi sudah pernah menuliskan kegelisahan ini... ada beberapa teman juga... dan sepertinya ada juga di surat pembaca di kompas, termasuk juga uni.
sepertinya komnas anak lebih fokus ngurusin kekerasan fisik terhadap anak dan pernikahan dibawah umur... suaranya langsung lantang nih.
tapi sekarang kan sudah ada mentri pemberdayaan perempuan yang sudah ditambah postnya dengan perlindungan anak... hehehe... apa yang terlintas dikepala jika membaca perlindungan anak... seni? no way... pasti aksi kekerasan pada anak dan pernikahan dini.
wempi baca dikoran minggu banyak anak-anak bisa bikin lukisan, puisi, lagu, bahkan cerpen knapa tidak itu saja yang dilombakan.
Hiyyahh! Saya sama bengongnya dengan Uni melihat artis cilik jaman sekarang. Kebetulan sama dengan Uni pula, saya nggak pernah nonton acara idol-idol begitu. Tapi kenapa ya, pencipta lagu juga sangat sedikit menciptakan lagu anak-anak? Jadinya anak-anak menyanyikan lagu orang dewasa.
Nyanyi "Desaku" aja yuk Ni :
Desaku yang tercinta, pujaan hatiku. Tempat ayah dan bunda dan handai taulanku. Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai. Selalu kurindukan desaku yang permai ...
Dooh ... memang nggak cocok dengan anak jaman sekarang Ni, lha wong kenalnya mall je ...
Sebenernya, saya justru senang sama idola cilik.
Anak-anak sekarang memang gitu. Banyak hal, Bidadari. Salah satunya karena kurikulum sekolah sekarang jauh lebih berat, lebih menumpuk. Sehingga udah nyaris gak ada waktu lagi tuh buat nyanyi-nyanyi. TV terus menerus mencekoki dengan sinetron dan lagu-lagu dewasa. Acara yang bagus buat anak-aak bukan gak ada, tapi ironisnya, malah di pasang pada jam-jam sekolah saat anak-anak gak bisa liat. Waktu anak nonton TV, nah, itu die waktunya reality show lebay dan sinetron yang juga lebay. Anak-anak kita jadi lebay, deh..
Saya pernah loh, Bidadari, ngirim surat ke emaknya AL, EL, dan DUL. Tau deh keterima atau gak. (Lagian, siapa juga saya heheheh!) Sebab pada anak-anak, dia itu begitu populer sementara lagunya, yah, begitu deh. Kebayang kan anak-anak kecil pada joget ngikutin gayanya sambil nyanyi 'lelaki buaya darat, busyet!'. Hah, pokoknya dia dan group suaminya itu manalah ada yang bener ya lagu, ya gaya. Tapi populer di anak-anak (sedih)
Setelah nongolnya idola cilik, lagu yang beredar di anak-anak itu membaik. Sebab lagu yang dinyanyikan, emang sih masih lagu dewasa, tapi yang kualitasnya cukup baik. Misalnya lagu-lagu nidji . Atau Peterpan dan chrisye. Yah, paling tidak, bahasanya santun. Gak jorok atau kasar. Lagu-lagu klasik macam desaku itu juga sering, kok. Kadang lagu daerah. Masuk juga lagu-lagu barat yang bagus macam Tomorrow. Komentatornya juga lebih baik, gak terlalu menganak-anakan mereka, tapi juga gak terlalu dewasa. Dan melihat ic pertama dan kedua sih, anak-anak yang berpakaian wajar dan bergaya yang wajar, itu yang lebih dihargai. Dikomentari bagus. Kalau terlalu dewasa, biasanya oleh komentator suka diingatkan agar besok, pilih lagu/pakaian yang lebih baik, yaa..
Tapi, yaa, kadang kalau season 1 dan 2 bagus, season selanjutnya mulai nganeh-aneh.
Mbak Mbak...aku bikin tambah bengong ya...
Di kelasku, kalau aku bilang sm anak2 biar gak capek mengerjakan boleh sambil nyanyi, mereka dengan semangat '45 akan melantunkan koor :
....cari pacar lagi...
atau...
Pernahkah kau merasa, hatimu gosong...(bayangkan, syairnya saja mereka salah denger gitu...)
Dan...(boleh tmbh melongo, tp ditutup ya mulutnya...!)
Ada muridku yg memakai lagu PUSPA (oh, gadisku yg cantik...dst) untuk menggoda teman sekelasnya yg cewek...weleh...!
Sy pribadi senang ada acara pencarian bakat semacam Idola Cilik, tp sepakat deh sm Alifia, mending kl memang mo pake lagunya org dewasa, pilih yg syairnya netral aja macam Laskar Pelanginya Nidji atau Jangan Menyerahnya D'Massive atau Bundanya Melly...bnyk bngt kok lagu bagus yg bs diterima semua usia.
Memangnya sekarang ini ada lagu anak-anak yang bagus? Lebih miris lagi: lagu-lagu remaja/band-band baru pun terkadang banyak yang nggak jelas karakternya. Musik kini sudah menjadi industri yang mengacu pada selera pasar. Band dituntut tidak perlu terlalu repot memikirkan ide atau karakter musik. Cukup menyanyikan lagu-lagu yang sudah di-set dan sesuai dengan selera pasar.
Itulah anak-anak sekarang. Terkadang 'beberapa' orangtua hanya berpikiran "ah, namanya juga anak-anak" dan membiarkan anak mereka berlagak layaknya orang dewasa.
Saya bukan orang bijak dan bukan pengamat. Tapi itulah pendapat saya dari apa yang saya liat dimana-mana.
Salam kenal dari saya :)
selera pasar... sepertinya lagu anak-anak tidak memenuhi selera pasar. atau karena tidak ada yang mau memproduksi lagu anak-anak sehingga tidak ada pasarnya?
salam kenal....
iya, ulasan seperti ini pernah ditulis juga di tabloid Cempaka (tabloid dari harian Suara Merdeka, Jateng). Di situ ditulis, betapa melelahkannya jadi anak-anak sekarang.
Harus bisa mencapai nada2 tinggi di lagu2 dewasa,
harus bisa mengerti fashion dan make up
Generasi seangkatan Joshua, lebih mending
mereka menyanyikan lagu2 bernada yang pas dengan jangkauan vokal mereka,
dan mereka cukup mengenakan celana pendek dan baju warna-warni cerah saat menyanyi.
Saya kurang senang dengan ajang idol seperti itu, apalagi pesertanya anak-anak. Kesannya seperti menggapai kesuksesan dengan cara instant, karbitan. Akhirnya, easy come, easy go.
Begitulah acara televisi kita, semuanya di dasarkan pada pasar, ga peduli bagaimana efek dari siaran dan acara mereka. Saya sendiri yg guru merasa dilawan, bagaimana tidak dilawan, ketika dikelas kami mengajari dan mendidik mereka dengan aturan main pendidikan untuk anak, eh diluar mereka dirusak oleh acara2 TV yg bertebaran di chanel TV Indo.
Sakan kenal dan panas.
anak-anak saya hapal cukup banyak lagu-lagu dewasa itu uni. susah untuk membendungnya. meski tivi tidak mendominasi mereka, tapi siapa yang bisa larang tetangga menghidupkan tape recorder kencang-kencang?
kami sekeluarga menyukai acara idola cilik itu. kami senantiasa menemani anak-anak dalam menontonnya. motivasi kami membiarkan mereka menonton itu adalah lebih kepada penanaman rasa percaya diri, pantang menyerah dan keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. poin ini yang selalu kami tekankan di setiap kesempatan menonton...
jangan khawatir uni. sekarang ini idola cilik sudah dikemas dengan lebih baik. lagu-lagu yang disenandungkan memang lagu-lagu dewasa, tapi sudah diusahakan dirubah dengan lirik anak-anak. soal kostum pun sudah mulai dikritik sana-sini.
selalu ada plus-minus dalam sebuah ide, tapi bukan berarti kita berhenti untuk berkreasi. semoga Tira masuk jadi finalis ya... *siap-siap dengan pulsa yang banyak, hahaha...*
teringat ponakan saya yang hapal banget lagu wali 'cari jodoh' hahaha
jan.. edan :)
jaman sudah berubah.
Uni...yakin itu yang diceritain kemenakan Uni? kok ..seperti jaman yessy kecil ya...wekekekekekek *di kemplang*
memang anak2 sekarang itu terpengaruh sama dunia ya uni...jaman ku dulu aku aku akan berdandan kalo sudha harus mengenakan pakaian adat untuk menari atau mendampingi penganten...hehehehe :)
Anak2 jaman sekarang lebih cepat dewasa dan nampak lebi sulit dari jaman kita kecil dulu ya :(
ya ... idola cilik, gambaran betapa lagu2 untuk anak2 entah ada di mana.
ya...ya...ya... seperti itulah.
Papa T Bob sudah ga ciptain lagu lagi kayaknya..jadinya g ada lagu anak2 yang baru..hufh....semoga anakku besok tidak begitu...(he he he perasaan belum menikah...)
sebelumya...
salam kenal mbak
klo baca posting mbak yang tadi...
aku sependapat deh sama mbak.
anak-anak zaman sekarang udah banyak yang g' peduli lagi sama lagu-lagu yang sesuai dengan umurnya...
kebanyakan dari mereka udah ter-modrenisasi oleh zaman yang semakin maju.
selain dari lagu-lagu bertema cinta yang mereka nyanyikan, mereka juga mengenal yang artinya cinta itu sendiri (walaupun hanya sebatas suka-suka'an doang)
dan.... bukan hanya anak-anak saja yang telah ter-modrenisasi oleh jaman yang kian modern ini. para remaja sebesar akupun juga menjadi salah satu dari berjuta-juta rakyat indonesia yang telah termodrenisasi itu sendiri.
bukan hanya dipantau dari luarnya bahkan dari dalam pun remaja kini bisa di bilang jauh dari kodratnya sebagai seorang remaja.
tak salah jaman ini banyak anak2 yang mateng sebelum waktunya, yaaa meskipun makna dari syair lagu yang mereka mainkan itu tidak ngerti sama sekali. Mereka menyanyikan lagu cinta sementara mereka sendiri nggak mudeng apa itu cinta. semacam lipsing aja. keluar dimulut tapi nggak tahu artinya apa.
Terakhir saya dengar Papa T.Bob...sekarang malah hilang lagi... kemana dia ya?
Tapi biasanya keputusan juri itu tidak bisa diganggugugat
nah itu mbak, dari dulu aku tidak suka acara idol-idolan, apalagi yang mengekspos anak-anak...makanya seharusnya nama acaranya berganti aja dari IDOLA CILIK menjadi IDOLA LICiK..*serius mode on*
sama dengan ponakanku. Masi umur 4 tahun, tapi masayaAlloh lagu2nya, lagu patah hati. Ga tau lagu anak2.
Sy jg heran, kok sekarang sdh ga ada lagu anak2. Sdh ga ada seperti Sherina yg dulu atau Tasya, dengan lagu-lagunya yg sesuai dng umurnya.
Penetrasi nilai2 xxx oleh xxx kalau bisa ditanamkan sedini mungkin ke anak2. Mass brain wash, kalo saya mah bilangnya ghozwul fikri.
Sedikit demi sedikit ga kerasa, pas nengok ke belakang, ternyata kita sudah melenceng jauh. Anehnya kita tetap ngerasa lumrah (that's hegemony).
Btw gempa padang kmrn gmn Uni kampungnya? Jarang mampir di sini.
Saya juga kurang sreg ngeliat anak-anak nyanyiin lagu cinta-cintaan orang dewasa... lengkap dengan gaya dan dandanannya pula... Tapi ya memang susah membatasinya selama arus informasi masuk dari segala arah..
Anakku yang umurnya belum 2 tahun aja kalo lagi di mobil hanya mau disetel satu lagu: ST12 !!! Lagu tentang selingkuh pula...ckckck..
Btw...belakangan susah kali masukin komen di blog Uni. 2 Komenku sebelum ini ndak bisa masuk, doh... *dengan logat Pekanbaru* :-D
hal ini juga yang menjadi keriasauan di beberapa saat ini ketika di lingkungan saya yang ndeso sudah jarang anak anak yang mampu lagi menabuh gamelan ( krawitan ) bahkan hampir terputus sampai generasi di bawahku sekitar beberapa tahun juga tak lagi mengena;li budaya kita sendiri lantas gimana kepripun hehehe mbliyer mbak
YES UNI MELO ...
Ini keprihatinan serupa saya ...
Bahkan juga keprihatinan Almarhum Bapak Pranadjaja ... seorang guru vokal terkenal yang mendirikan Bina Vokalia ...
Saya tau sekali beliau sering berkata ... kasihan anak-anak itu telah disuruh berpenampilan seperti orang dewasa ... menyanyikan lagu orang dewasa ...
(Ah Trainer sok tau luh ...)(No saya tidak sok tau ... Saya gini-gini juga pernah bekerja menjadi asisten beliau selama 3 tahun ... )
And Yes Ini memprihatinkan ...
Dandanannya itu lho ... ndak kuat aku ...
(BIasanya sih yang Heboh mamahnya tuh ...)
Salam saya Uni ...
apa kabar ibu
perubahan sosial bangsa yang semakin menjauh dari pembelajaran yang natural, generik. Peradaban dibangun dengan kekuatan menjajah budaya, social capital, dst.
Siapa yang peduli ya !!!!!
Kayaknya perlu dibuat menteri khusus anak :)
ah ... aku pernah melihat acara itu, dan memang semua lagu orang dewasa. sama sekali tidak ada lagu anak2.
tidak salah juga sih, lagu anak2 sekarang hilang dari peredaran. tidak ada lagi yg menciptakan.
tidak seperti 10 thn lalu dimana lagu anak2 masih banyak beredar. sherina munaf, joshua, melisa,trio kwek kwek dll.
atau mungkin semua demi 1 nama .. industri..
BINTANG SATRIA SAYS : Selamat datang di era industri bu dokter. Sekarang ini apa pun dijadikan komoditas, termasuk anak-anak. (ngomong-ngomong kok soal di Pekanbaru gak ada auidisi harus pake ditanda kurung segala??? Jadi nggak enak hati sebagai warga Pekanbaru nihhh)
Aku juga nggak suka kontes IC itu...apalagi MC-nya suka teriak-teriak norak begitu. Belum lagi kisah sedih latar belakang dan motivasi anak-anak itu ikut kontes IC. Terlalu dipaksakan agar penonton terharu hingga maksa “nangis” hmmmm..nggak banget deh....
Pesertanya kan harus latihan vokal tiap hari. Jadi kapan belajarnya dong? Peserta dari daerah yang harus datang ke jakarta harus ninggalin sekolahnya dong? Heran aja, kok ya gurunya malah bangga dengan hal itu..
Menurutku, hasil juara juga bukan lagi karena penilaian obyektif dari para juri. Pemenang ditentukan lewat polling SMS. Nah, orangtua finalis akan membagi-bagikan voucher agar mereka mengirim SMS sebanyak-banyaknya untuk mendongkrak perolehan suara. Aih, sayang, anak-anak harus belajar bahwa persaingan boleh dilakukan dan dihalalkan dengan cara apapun...sayang banget....
Uniiiii aku datang!! :)
maaf baru sempat mampir hehhee
btw uni, anak2 itu dikarbit yah...
aku kangen lho sama lagu2 anak kecil dulu yg sering aku nyanyiin...
kow skr mereka gak gitu yaa....
Saya belum pernah nonton Idola Cilik, tapi baca ceritamu kok jadi serem ya?
saya sepakat sejak awal anak2 didekatkan dengan seni karena seni adalah universal sebagai bagian dari kehidupan ini yang lahir dari kaki peradaban.
Waks aku kalah deh sama Tira, soalnya aku baru2 aja belajar dandan *hehehehe telat banget yak*
Post a Comment
Thanks for your comments, it's an honor.