Saturday, October 25, 2008

Sindrom Imposter dan Bias Gender

Semester lalu Jeremy, seorang teman sekelasku, menulis tentang Imposter Phenomenon, berangkat dari pengalamannya sebagai seorang registrar di Rumah Sakit Pendidikan besar di Sydney yang berhadapan dengan banyak mahasiswa kedokteran. Seorang mahasiswinya yang cerdas namun akhirnya bunuh diri membuatnya terhenyak. Sang mahasiswi dikenalnya sebagai seorang yang selalu kehilangan kepercayaan diri dan menganggap negatif setiap pencapaian akademiknya. Padahal dari pandangan seorang pendidik, Jeremy menilai si mahasiswi cukup cerdas dan terampil.

Lantas apa sih Sindrom Imposter itu?

Sering disebut juga dengan istilah Impostor Syndrome/Phenomenon atau Fraud Syndrome. Penderita gangguan ini biasanya selalu menilai negatif tiap pencapaiannya dengan memberi kredit pada faktor keberuntungan atau kebetulan semata, merasa diri selalu tak mampu dibarengi kekuatiran yang berlebihan setiap menghadapi tantangan (misalnya ujian atau tugas lain yang dinilai), terintimidasi oleh kritik yang membangun sekalipun, merasa orang lain lebih hebat dari dirinya, dan kekuatiran yang berlebihan kalau orang lain akan menyadari kelemahannya yang sesungguhnya. Walaupun pria dan wanita memiliki kans yang sama untuk menjadi imposter, penelitian menyebutkan lebih banyak wanita yang menjadi penderitanya.

Di lingkungan pendidikan, pelajar yang mengalami Sindrom Imposter akan selalu tertekan dalam menghadapi ujian, tidak pernah merasa siap walaupun ternyata ia bisa tampil dengan baik. Dan celakanya, setelah mengetahui bahwa ia berhasil dengan baik, ia cenderung untuk berpikir bahwa itu hanyalah kebetulan, faktor keberuntungan semata, atau faktor kedekatan dengan dosen. Bila orang-orang di sekelilingnya merasa dia memang mampu, seorang imposter akan menganggap bahwa orang-orang hanyalah berlebihan menilai kemampuannya.

Di lingkungan kerja, wanita imposter yang mencapai puncak karir yang tinggi cenderung mengalami sindrom ini dengan menganggap bahwa pencapaiannya tidak berkenaan dengan kemampuan intelegensia dan keterampilan, namun lebih kepada faktor lain semisal penampilan dan keberuntungan. Parahnya, mereka selalu meyakinkan diri sendiri bahwa sesungguhnya mereka tidak berhak mendapat kredit atas kesuksesan tersebut, karena sebenarnya mereka tak mampu dan orang-orang hanya terkecoh! Intinya, imposter tidak pernah mengakui kamampuannya sendiri.

Kenapa bisa terjadi? Biasanya dimulai dari masa kanak-kanak. Anak-anak yang terbiasa dipuji secara berlebihan oleh orang tua dan orang-orang di sekitarnya akan terdorong untuk selalu mengharapkan yang terbaik, sehingga bila tak mencapai hasil yang diharapkan mereka akan merasa “biasa-biasa saja”, yang justru kemudian dianggap sebagai sebuah kegagalan. Maka berhati-hatilah dalam memberi pujian kepada anak-anak, walaupun setiap orang tua tentu sangat bangga terhadap anak-anak mereka. Hal ini berbeda dengan highly motivated persons dan perfeksionis, karena seorang imposter akan menginternalisasikan kegagalan ini dalam dirinya kemudian kehilangan kepercayaan diri.

Mengapa sering wanita? Sepertinya kecenderungan wanita yang kerap dinilai dari penampilan fisik lebih dari kemampuan intelegensia menyebabkan wanita terintimidasi oleh isu gender ini. Seperti penggambaran tokoh-tokoh wanita dalam banyak karya Sydney Sheldon, wanita yang akan mencapai posisi puncak selalu terhalang oleh penilaian bias gender. Wanita yang mendapat posisi penting di suatu proyek misalnya, sering dinilai sinis memperolehnya karena dekat dengan atasan atau karena penampilan fisk yang menarik, dan bukan karena kemampuan intelegensia atau keterampilannya. Penilaian seperti ini akan melekat dalam pikiran, dan seorang yang berpotensi untuk menjadi imposter dapat mengalami kehilangan kepercayaan diri yang parah.

Setelah imposter, lantas bagaimana?

Mahasiswi Jeremy yang melakukan bunuh diri adalah satu contoh akibat yang ekstrim, tentunya ada faktor-faktor confounding lain yang tak mungkin dinafikan. Namun seorang imposter beresiko untuk menarik diri dari aktivitas sosial karena takut diketahui kekurangan yang sebenarnya (takut dicap sebagai seorang fraud atau penipu). Semakin sukses, kekuatiran mereka justru kian meningkat, termasuk semakin ragu terhadap diri sendiri (seorang imposter selalu ragu akan dapat mengulang kesuksesan yang sama setelah suatu pencapaian). Hal-hal ini dalam kondisi yang berat akan membawa depresi, yang bila tak diatasi akan menjadi parah dan mengakibatkan penderitanya bisa bertindak di luar kewajaran. Bayangkan saja gimana penderita depresi.

In my humble opinion, banyak orang yang memiliki bibit imposter dalam dirinya, hanya saja dalam kadar yang berbeda-beda. So, if you feel like an imposter, take a self-scored test here!

Adalah penting untuk mengenali kualitas diri sendiri, memberi apresiasi yang wajar, dan terbuka terhadap kritik agar kita dapat terhindar dari sindrom ini.

Bagaimana pendapat Sahabat, adakah bibit imposter dalam dirimu? Atau sejauh mana kita perlu apresiatif terhadap diri sendiri agar tak pula jadi jumawa atau malah kepedean?

75 comments:

  • Daniel Mahendra

    Yang ingin kutanyakan: apakah seseorang yang memiliki kecenderungan atau tanda-tanda imposter menyadari keadaan dirinya demikian?

  • superlazy

    Thanks bu Dokter, artikelnya handy
    Btw ada yg mo beli bibit impostor gak? xixixi

  • sawali

    Sindrom Imposter? wah istilah yang baru saya dengar nih, mbak yulfi. ternyata berbahayam juga yah, apalagi kalau harus berakhir dg bunuh diri spt yang dialami jeremy. kaykanya kok mirip dg gejala orang yang mengindap sindrom perfeksionis, ya, mbak. duh, kok jadi ngawur saya, hiks.

  • Marshmallow

    @daniel mahendra:
    menyadari diri imposter tentu tidak (istilah ini juga masih belum populer).
    menyadari diri mengalami gangguan psikologis, bisa jadi juga tak semua, karena orang sering menganggap bahwa kondisi seperti itu hanya terkait kepribadian saja, tak jadi masalah.
    dan tak menyadari akan adanya masalah itulah justru yang jadi masalah bukan, DM?

    @superlazy:
    handy, ya? makasih.
    idih, malah jualan di sini.
    kenapa? bibit imposter kamu kebanyakan ya?

    @zoel:
    mudah-mudahan gak imposter ya, zoel?
    tapi kepedean, gak?

    @sawali:
    ciri utama imposter ini terletak pada kepercayaan diri yang lemah dan tidak mengakui kemampuan diri sendiri, pak sawali. resiko mereka sebenarnya lebih kepada anxiety.
    kalau orang perfeksionis justru sangat yakin akan kemampuan dirinya, dan lebih beresiko untuk depresi.
    tapi bisa jadi ada orang yang menderita sekaligus keduanya.
    contoh mahasiswi itu adalah kasus yang ekstrim, pak, dan mestinya ada faktor-faktor pemberat yang lain.

  • alris

    Sindrom Imposter, pas baca postingan ini baru tahu ada yang seperti itu. Wah, mesti hati-hati nih dalam memberi pujian. Semoga gak terjangkit.

  • yulism

    Mbak Hemma saya take a test dan hasilnya saya moderat score saya 51. Berbahayakan hal ini atau bagaiman?. Wah maap lho malah konsultasi gratis... :P thanks dan Sukses selalu untuk Ibu Dokter dan tidak lupa Selamat hari Dokter ya.

  • edratna

    Lingkungan saya menekankan pada pencapaian nilai tinggi, dan rasanya duluu....jika orang ditanya, penginnya meneruskan ke kedokteran atau teknik (kalau di Indonesia ya ITB atau ITS). Ini membuat beban bagi saya, yang nilai SMA ku termasuk bagus, sehingga baik ortu atau guru2 SMA mendorong kesana. Di satu sisi saya suka pelajaran yang terkait dengan biologi, kimia dsb nya...tapi saya penakut (takut gelap, takut hantu....ini dulu lho), bahkan kalau ke kamar mandi malam-malam mesti ditemani...zaman dulu bentuk rumah ada pavilyun nya, dan kamar mandi dan WC terletak paling belakang di pavilyun rumah.

    Syukurlah akhirnya saya masuk pertanian, dan ketemu teman-teman seluruh Indonesia, dan nilai saya termasuk yang rata2 saja. Disinilah saya mulai belajar konsep dan bisa melihat keadaan orang lain. Kebetulan saya kost di tempat dosen, yang seperti ayah sendiri, beliau sering diskusi,dari cara belajar sampai memilih pacar ...hahaha... beliau mengatakan, kalau mau pacaran, om punya langganan bakso yang tempatnya nyaman, dan murah...dijamin asyik deh buat pacaran.

    Di IPB teman-teman bersaing ketat, dan saya, seperti gaya blogku, bingung milih jurusan mana...yang akhirnya memilih penjurusan hanya oleh alasan sepele banget (mestinya kapan2 ditulis ya). Dan...akhirnya kerja juga di lingkungan perbankan, ketemu orang ekonomi, Hukum dsb nya (yang jurusan ini nggak saya lirik saat SMA). Padahal....ternyata menyenangkan, bahkan saya harus belajar psikologi manusia yang menarik sekali.

    Marshmallow, hal-hal seperti inilah yang membukakan mataku, bahwa banyak kesempatan, dan keindahan jika kita memahami diri sendiri dan orang lain. Sejak itu saya berjanji, akan mendampingi anakku, menjadi teman baginya (si bungsu kadang stres, karena teman-teman dekatnya nilainya rata2 di atas 3,8...busyet deh... padahal bagi saya, IP si bungsu 3,4 dari elektro ITB sudah hebat banget. Cerita Marshmallow saya pernah dengar entah dimana...jadi sekarang saya tetap mencoba dekat dengan anak-anak, mendengarkan keluhannya, kadang hanya sebagai pendengarpun sudah cukup bagi mereka. Mungkin saya pernah ngomong sama DM kalau bukan Yoga... saya harsu banyak bicara hati ke hati dengan anak-anak, agar dia tetap merasa berguna betapapun pencapaian yang diperolehnya. Dan sekarang...masalahnya adalah kerja dimana, mau kemana, bagaimana jika nanti berkeluarga, ibu dulu pakai baby sitters apa tidak...dsb nya. Kadang saya stres, tak mampu menjawab semua pertanyaan mereka.....hehehe
    (sorry kok jadi curhat...:P)

  • Marshmallow

    @alris:
    ternyata memberi pujian harus bijaksana ya, da alris?

    @yulism:
    intinya kita sudah mengetahui, mbak yulis, jadi kita tahu bahwa ada "sesuatu" yang musti kita perbaiki.
    yang berbahaya adalah kalau kita tidak menyadari potensi ini sehingga kemudian lalai dan tidak berusaha untuk berubah.
    terima kasih banyak, mbak yulis. saya gak tau lho kalau ada Hari Dokter segala. hihi!

    @edratna:
    membaca pengalaman ibu selalu menarik, karena banyak hikmah yang bisa dipetik.
    memang hidup di lingkungan yang sangat mendukung untuk berprestasi adalah sebuah rejeki, tak banyak orang yang dapat menikmati kondisi seperti itu. anak jadi lebih termotivasi dan merasa nyaman akan apa pun pilihan hidup yang ditempuhnya.

    saya salut dengan cara ibu enny membesarkan anak-anak, dan saya selalu membaca bagaimana ibu dekat keluarga.
    masalah apa pun, termasuk dan terutama masalah psikologis, sering terselesaikan melalui media diskusi dan berbicara (orang memang selalu butuh penyaluran uneg-uneg ya, bu?).
    kalau terapis sudah tersedia di rumah tangga sendiri, kita tak perlu lagi mencari terapis berbiaya mahal di luar sana kan?
    terima kasih atas bagi-bagi ceritanya, bu enny.

  • fatamorgana

    tulisan beraroma psikolog yg menarik. Saya suka. Wanita lebih peka dan lebih suka memakai emosi jadi mungkin lebih mudah mengalami hal ini ya, bu? Wah,dapat ilmu psikolog baru nih.

  • Moh Bakhrian Syah

    nice posting
    i love it...

    and i have known where is my feet... xiixixix

  • iman brotoseno

    Menarik,kalau dikaitkan bahwa imposter bisa berkaitan dengan gaya hidup terkini. Cuma kalau side effectnya bisa kehilangan PeDe, apakah self motivated bisa mengembalikan? Mungkin bisa atau jadi tambah depresi

  • Eru Sky

    *woh belajar ilmu baru ne*

    Memang ga boleh berlebihan itu ya :D
    Kepedean nanti narsis-syndrome
    Kerendahan nanti imposter-syndrome

    Tapi saya pilih narsis-syndrome aja ah,
    nampak harmless he he he he

  • Marshmallow

    @fatamorgana:
    kalau kaitannya ke emosi aku belum pernah baca sih, gan. tapi salah satu yang disebut sebagai "penyelamat" wanita dibandingkan pria adalah kebiasaan curhat!
    seorang pria imposter bisa lebih parah gangguannya karena tendensi pria yang menyimpan emosi dan uneg-uneg sendiri itu. hnah!

    @moh bakhrian syah:
    makasih, be.
    so you've found out where your feet are. good to know that. (emang selama ini ngilang ke mana mereka, be?)

    @iman brotoseno:
    di negara-negara yang lebih aware, banyak diadakan pelatihan di kantor-kantor bagi para pegawai. metodenya bisa bermacam-macam, yang jelas semuanya bertujuan membangkitkan rasa percaya diri dan penghargaan terhadap diri sendiri.

    mengherankan bahwa banyak di antara penderita adalah top level managers yang sudah doktor dan PhD, dan mereka masih kurang percaya diri! (kebanyakan adalah wanita. hehe! aduuh, kenapa sih? pede aja kali, ye?)

    @eru sky:
    oh yeaah? hihi! mau narsis aja musti pake alasan.

  • imoe

    waduh...gawat baget niyyy buk...ternyata aku baru tahu yang beginian...pake prinsip hidup ananda aja...'terima hidup apa adanya'...ya gak....semoga kampung blagudi hindarkandari hal begituan...

  • rea

    waduh, serem juga ya... bisa dibilang nggak percaya diri ya? hehe. ayo semua, tumbuhkan rasa percaya dirimu dan yakin kalau kamu bisa (tapi jgn berlebihan juga). hehe

  • 1nd1r4

    I've taken the test, it's moderate. But more often aq sih kepedean...heheheh....atau lebih tepatnya membesarkan hati sendiri karena always ended up doing my assignment in the last minutes...sigh

  • shierly

    saya dapet score 51!!! lumayan lah...tidak banget2 imposter, meskipun saya yakin sebenarnya setiap manusia itu menyimpan bibit imposter (CMIIW). saya bukan imposter, saya tidak narsis, tapi saya adalah orang yang selalu berpikir bahwa saya adalah orang paling beruntung di dunia dengan semua yang saya miliki :D
    Tuhan menciptakan saya dengan sempurnanya, begitu indah, baik hati, pemurah, tidak sombong, rajin menabung dll.... tapi saya tidak narsis2 banget kok bu, beneran d :p

  • awi

    oh ternyata ini juga salah satu jenis penyakit ya, berarti bisa disembuhin donk. soalnya aku kasihan banget liat temen SMP dulu, dikeluarganya dia anak bungsu, semua kakaknya sukses dan berprestasi, dia sebenarnya juga pinter tapi nggak PD gitu, tiap mo ujian dia stress, yg ada dia gagal dan gak naik kelas, karena stress itu, padahal di kelas pinter. thanks ya udah di share, jadi tahu nih

  • Syamsuddin Ideris

    Waduh....saya membacanya sambil buka-buka kamus nih. Maklum banyak bahasa "planet" lain yang kurang ngerti plus istilah-istilah kedokteran dan psikologi...
    Jadi...maaf ya belum bisa comment lebih jauh. Lagi mencerna. Hiks

  • dekroy

    Bravo untuk postingannya.
    Ngeri juga ya....dan sepertinya memberi apresiasi yang wajar, dan terbuka terhadap kritik agar kita dapat terhindar dari sindrom ini. ini juga perlu diterapkan pada anak2 kita ya...agar mereka tidak imposter. Ngeri asli nih.

  • alifia82

    Mbak Marsh
    Ah saya mah gak ada itu imposter-imposteran kayaknya, soalnya saya keren heheh.. Ya udalah buat orang kecil kayak saya, masih banyak yang perlu dipikirin selain imposter, buat makan besok misalnya…
    Eh mbak, saya punya seorang anak (konsultasi heheh) itu sangat tidak PD, padahal nilainya paling baik di kelas. Jauh diatas kawan-kawannya. Saat ulangan, selalu tanya-tanya jawaban, padahal dia tahu sebenarnya. Kalau gurunya meleng, dia menyontek di buku teks atau kawan. Dia marah kepada dirinya sendiri saat mendapat nilai delapan sehingga demi mendapat nilai 10, dia rela curang dan mencontek. Dia senang menghina kawan yang nilainya rata-rata dan kawan yang rumahnye jelek, wajahnya biasa-biasa saja dan seterusnya. Bagi anak ini, yang paling berarti adalah orang yang cantik cerdas dan kaya raya. Ini berasal dari ibunya yang memiliki prilaku yang sama—berdasarkan pengaduan dari ortu murid lain dan pengamatan kami. Sang ibu menentukan standar sangat tinggi kepada anaknya sehingga saat anaknya mendapat ulangan 7, dia akan menghukum anaknya tanpa mau tahu seberapa berat topic pelajarannya saat itu. Dan yang parah, itu berlaku bagi setiap mata pelajaran. Artinya sang anak musti mendapat nilai terbaik di kelas dari matematika, IPA, IPS, Kesenian, ketrampilan, olahraga, bahasa arab, bahasa sunda, fiqh, hafalan qur’an dan lain-lain sekaligus yang tentu tidak ada anak yang mampu memenuhi standar itu. Saat kami melaporkan sang anak mencontek dan memanggil ibunya, walikelas anak itu mencoba bicara bahwa pengharapan ibunya yang terlampau tinggi itulah yang menyebabkan sang anak curang, justru anak itu malah dihukum kurung di dalam kamar (kecuali sekolah) selama seminggu. Tidak hanya anaknya, kalau sang anak mendapat nilai 6, selain anaknya dihukum sang ibu akan datang ke sekolah memaki-maki guru yang bersangkutan. Dia akan menyalahkan sang guru yang tidak becus mengajar sampai membuat soal ulangan terlalu sulit. Saya pernah dimaki-maki loh mbak karena memberi nilai anak ini 6,5 pada nilai sikap social dan ketrampilan social. Sang ibu semakin mengamuk saat saya memberi tahu bahwa nilai anaknya pada dua point tersebut adalah nilai terendah dikelas heheh (apalagi saat dia tahu bahwa anaknya sebenernya terendah sesekolah ya?)
    Sekarang anak itu sudah dipindahkan ke sekolah yang menurut ibunya ‘terbaik dan tidak sekolah tidak becus seperti sekolah kami’. Cukup lega juga saya sebab seharusnya anak ini menjadi anak saya tahun ini jika dia tidak pindah. Anaknya seburuk apapun prilakunya sih saya gak merasa berat untuk berusaha demi dia (menurut saya dia tetap korban), tapi berhadapan dengan ibunya yang saya gak tahan :P
    Mbak, tu anak apa jadi imposter nanti udah gedenya ya? Apa lebih buruk? Apa orang yang imposter itu memiliki orangtua yang perfeksionis? Si ibu itu perfeksionis bukan mbak? Trus gimana caranya menangani bibit imposter?

  • Marshmallow

    @imoe:
    mudah-mudahan warga kampung blagu gak ada yang imposter, deh.
    prinsip hidup ananda ya? setahuku ananda itu pejuang, moe. dia orang yang tak mudah menerima "apa adanya". buktinya dia terus berupaya untuk memperbaiki nasib. nah!

    @rea:
    ya, tumbuhkan rasa percaya diri.
    if you think you can, you can.

    @indira:
    jeeeuung... jadi situ last minute person juga in terms of assignment?
    OMG!! dapat temeen... we're in the same boat loh, jeeeuuung... hehe!

    @shierly:
    yupe, IMHO, tiap orang memiliki bibit imposter, berbeda kadarnya saja.
    kuncinya mungkin kejujuran ya, shier. jujur dalam menilai diri sindiri.
    dan yang tak kalah penting, membuka diri terhadap kritik dari orang lain. karena penilaian diri sendiri sering subyektif.
    orang lain yang bisa menilai diri kita dengan lebih obyektif (walaupun tak ada penilaian yang absolut obyektif di dunia ini, apatah lagi mengenai kepribadian). makasih, shier.

    @awi:
    nah, itu satu contoh tipikal, wi. contoh yang spesifik banget.
    dan orang-orang seperti itu banyak di sekitar kita, mungkin bahkan diri kita sendiri.
    aku juga kenal seseorang yang seperti itu, dan dia end up menyusahkan orang-orang di sekitarnya karena selalu menolak melakukan tugas yang dibebankan, tidak PD dapat melakukannya, dan cemas luar biasa. akhirnya walaupun sebenarnya mampu, dia benar-benar gagal seperti apa yang dipikirkannya.
    balik-baliknya sugesti lagi: if you think you can, you can, toh? tengkyu, wi.

    @syamsuddin ideris:
    maaf banget loh, pak syams. tidak bermaksud membuat susah. lagian bahasa planetnya masih planet bumi juga kok. hehe!

    @dekroy:
    wah, saya gak berniat menakut-nakuti loh, bang dekroy.
    artikel ini semata-mata untuk mengingatkan, bahwa kondisi seperti itu sebenarnya suatu gangguan psikologis, dan kita harus berhati-hati sebelum jatuh ke kondisi yang berat.
    sebagai orang tua, tentunya kita bertanggung jawab mempersiapkan putra-putri kita menjadi yang terbaik yang mereka mampu kan, bang?

    @alifia82:
    soal kamu keren sih aku udah lama tau, tau bohongnya maksudku. haha!

    menarik banget kisahmu, al. aku justru menyayangkan si anak pindah, karena di tempat baru dikuatirkan guru-gurunya termakan hasutan si ibu bahwa bukan anaknya yang salah, tapi sekolahnya, sehingga mereka jadi tidak awas, walaupun lambat laun bakal ketauan juga belangnya, tapi kan makan waktu.

    dalam kasus itu kupikir bukan si anak sendiri yang perlu diterapi, tapi orang tuanya juga kudu wajib! aku menilai orang tuanya bukan hanya perfeksionis, tapi imposter sekaligus, sehingga selalu tidak secure dengan dirinya, dan berusaha menutupi semua kelemahannya serta alergi terhadap kritik.

    aku juga belum berpengalaman mendidik anak-anak, jadi gak bisa kontribusi banyak, tapi teoritis sepertinya menerapkan reward and punishment dengan bijaksana adalah salah satu jalan.
    bila si anak berhasil, perlu diberi penghargaan, dan bila dia melakukan kecurangan (bukan kesalahan), musti diberi hukuman, dan semuanya harus disertai umpan balik biar mereka mengerti di mana letak kebaikan maupun kekurangannya.
    menanamkan kejujuran--terutama kepada diri sendiri--sejak awal itu penting, sehingga anak terbiasa melakukan self-evaluation dengan tepat, mengakui kelemahannya dan menghargai kelebihannya. teori ini akan jadi konkrit kalau berhadapan dengan kasusnya langsung ya, al.

    dan benar, kepribadian orang tua yang negatif akan meracuni kepribadian anak, terutama bila kondisinya ekstrim seperti kasusmu.
    makasih untuk bagi-bagi ceritanya, bu guru.

  • pincurantujuah

    waduh kurang ngerti ne bahasanya----hahaha..kok gda berkunjung ge Uni dokter..

  • fisha17

    kayaknya gua rada-rada imposter neh. so what i've to do? :D

  • Marshmallow

    @pincurantujuah:
    kurang ngerti?
    P7 bagarah ko mah.

    @fisha17:
    hmm... udah coba minum baygon?

  • fatamorgana

    bu dokter, kalo aku mau konsultasi kesehatan boleh gak? via email ato blog ? Feenya piro? he he heh konsultasinya jauh amat ya

  • orangndut

    Owh, kalau gak salah bahasa Jawanya Rendah Diri ya?
    Alhamdulillah aku lulus tes imposter, jadi aku bukan orang yang imposter...itu semua karena aku suka poster sih, apalagi poster-nya si Ferrari, Lamborgini, atau Mercy...hehehe.

  • imoe

    To UNi Mallow : iya niyyyy ANANDA tuh emang pejuang...tapi dia jugaberserah diri pada tuhan....bukan pasrah...tapi setelah berjuang..s.emua diserahkan pada tuhan...yaaa kan.....bener gak gitu penokohan karakternya...btw...kapan lanjutan anandanya niy.....dia udah di ausie lho....

  • imoe

    To UNi Mallow : iya niyyyy ANANDA tuh emang pejuang...tapi dia jugaberserah diri pada tuhan....bukan pasrah...tapi setelah berjuang..s.emua diserahkan pada tuhan...yaaa kan.....bener gak gitu penokohan karakternya...btw...kapan lanjutan anandanya niy.....dia udah di ausie lho....

  • Marshmallow

    @fatamorgana:
    ya ampun, konsultasi sampe lintas benua gitu, gan? gak salah? hihi!
    kirim email aja deh, aku kan terikat sumpah hippocrates untuk menjaga kerahasiaan pasien.
    (serius nih!)
    lagian susah ngomongin fee di depan orang banyak gini, gak enak ntar nyebutin nominalnya.

    @orangndut:
    iya, rendah diri ditambah ngeyel, fik, gak mau dibilangin.
    syukur deh kamu gak imposter, selamat ya?
    makan-makaaaan...

    @imoe:
    ghyaaaa... dibahas.
    iya, ananda itu tawakal, bukan pasrah.
    lanjutannya? duuhh... kita tawarkan ke yang lain aja deh ya, moe? biar seru. lagian aku gak sempat banget niy sekarang.
    (lagian kamu pake ngelempar dia ke Oz. ke bandung kek, jogja kek, surabaya kek, biar lebih banyak yang bisa ngelanjutin gitu)

  • Zulmasri

    dari penjelasan di atas, anak sekolahan kayaknya banyak mengalaminya ya ni? soaknya rasa tak percaya dg kemampuan dari dalam diri banyak menghinggapi pelajar. nggak heran, budaya ncontek terjadi di sana-sini

  • DM

    @ Marshmallow dan Imoe:
    Lha? Kok Bandung? (*sok GR*)
    Oh, ya-ya-ya, Bandung. Ada Catra kan?
    Hehehe. Iya-iya, ada Catra :p

  • genthokelir

    satu pembelajaran yang bagus untuk saya di sini ( pada tulisan tulisan Mbak eh Buk ya mbak aja deh )
    membaca soal diatas adalah menguntungkan sekali dimana orang kebanyakan menemui sidrom di atas tentu sebenarnya kalangan sebagian laki2 juga iya kali cuman karena kebanyakan laki2 cuek dan tak peduli.
    cuman salah satu dari empat karakter manusia yang menguntungkan adalah kalo dirinya tahu bahwa ia tahu atau mengerti .maka akan mensikapi hal tersebut dengan bijak sana tapi kalo sempet dia tidak tahu kalo dirinya tidak mengerti hal tersebut wah repot juga ya mbak
    " makanya baca artikel mbak Yulfi " halah kok di jawab sendiri hihihi
    pokoknya salam hormat dan minta ijin kopi paste tapi bukan untuk di publis ,kekayaan intelek tulisan ini
    jangan di laporkan ke KPK ya mbak ( lho apa hub nya )
    pokoknya di tunggu tulisannya mbak
    salam dari keluarga di Gunung kelir

  • Catra

    Saya juga punya teman seperti itu dulu mbak, selalu pesimis sebelum mengerjakan sesuatu. Tidak pernah puas dan merasa hasil kerja nya selalu jelek. Paibo hati. Padahal saya nilai hasilnya tidak terlalu jelek2 amat kok. bisa dibanggakan juga.

  • Marshmallow

    @zulmasri:
    nah, budaya nyontek itu satu contoh konkrit, pak zul. banyak siswa yang lebih percaya teman dan contekan (yang belum tentu lebih benar ketimbang hasil pemikirannya sendiri), padahal itu hanya karena tidak percaya diri.
    sebelum ujian kebat-kebit tak karuan--sampai teman saya ada yang muntah-muntah luar biasa--padahal sebenarnya dia siap (orang memang takkan pernah siap menghadapi ujian, tapi tak harus cemas berlebihan kan, pak?).

    @DM:
    woi, ada tiga kota yang disebutin ya, if i'm not mistaken. kenapa juga musti baca yang bandung doang?
    ya iyalah di bandung ada catra. emang siapa lagi? emang kamu di bandung gitu?

    @genthokelir:
    makasih banyak, mas totok. alhamdulillah kalau memang bermanfaat. silakan dikopi saja.
    masalah itu memang sejatinya untuk diselesaikan kan, mas? kalau kita tidak tau ada masalah, ya gimana mau menyelesaikannya.
    lelaki secara psikologis memang lebih PD ketimbang wanita, padahal menurut penelitian (evidence loh ya, mas. nothing's personal) para pelajar lelaki yang menyatakan diri lebih siap dan PD dalam ujian justru punya nilai yang lebih rendah dibandingkan para pelajar wanita yang sebelum ujian merasa tidak siap.
    memang percaya diri itu yang musti ditumbuhkan, percaya diri yang jujur.

    @catra:
    ya, paibo hati alias penyedih, selalu menilai diri buruk dsb, pity him/herself. itulah yang meracuni, cat.

  • achoey

    Wah saya baru tahu akan hal ini. Alangkah indah jika selayaknya kita selalu berbaik sangka pada Alah dan sesama. Meyakini setiap apa yang kita dapatkan adalah hasil jerih payah dan ijin Tuhan. Tetap rendah hati saat berada di atas awa. Dan tetap sabar serta tawakkal meski dicemoohkan.

  • cena

    walah, gw sebagai pelajar juga sering ngalamin hal ini,but life must go on kan?

  • Yari NK

    Wah... saya jadi ingat.... di dekat rumah saya ada kos2an. Beberapa tahun yang lalu ada seorang mahasiswa (cowok pula) yang tiap kali mau ujian semester stresnya minta ampun, bahkan nggak jarang sampai nangis segala. Sepertinya dia terlalu dibebani oleh tuntutan keberhasilan (walaupun semua orang juga begitu). Bedanya si cowok mahasiswa ini memang tiap kali ujian semester nilainya selalu jeblog. Kalau ini nmanya sindrom apa ya?? Hehehe.... :D

  • fatamorgana

    mampir aja deh. Aku bawakan gurame goreng nih. Enaaak lho! ha ha ha ha...

  • kajiankomunikasi

    Mungkin bagi kita agar sindrom imposter tidak makan korban lbh banyak, kita prl bergaul dengan beragam tataran pergaulan: ya bergaul di tataran tinggi (supaya dpt belajr dari mrk yg berprestasi) dan di tataran rendah (supaya dpt menaikkan posisi kita)... Yah kembali ke obat tradisional, syukuri apa yg telah kita dapatkan seraya tidak henti-hentinya berusaha dan berdoa. Semoga... Salam hangat utk Marshmallow.

  • Yoga

    Setelah membaca tuntas tulisan, komentar dan reply-nya, jadi makin paham. Teringat pula banyak kasus bunuh diri yang terjadi justru saat seseorang dalam kondisi terbaik (menurut kacamata orang banyak), mungkin ini salah satu penyebabnya.Ni, kapan menulis tentang kebalikan imposter ini?

  • suhadinet

    Saya sepertinya adalah seorang penderita sindrom imposter, cuma gak parah. Saya suka gak percaya kalau apa yang saya peroleh saat ini adalah karena kerja keras saya. Tapi, sekali lagi. Gak parah. Ha..ha...

  • imoe

    @ Uni Mallow dan @ DM : Iya...ke bandung, trus surabaya....kayak lagu anak-anak aja...naik kereta apai...ke bandung..surabaya....Uni mallow harus tanggung jawab tuh...kan sekarang ananda di ausie...ROH nya ada di Uni hayo.....jangan ngelak...hehehehehe . Iya kan mas DM ?

  • DM

    @ Imoe:
    Tul banget, Bung Imoe. Ayo kita kompori terus! ;)

  • Marshmallow

    @achoey:
    yep, berbaik sangka! menarik, kang. saya setuju. makasih.

    @cena:
    bener banget, hidup memang harus terus berjalan! makasih, cena. belajar yang rajin, ya?

    @yari nk:
    itu bego aja kali, mas, gak pake sindrom-sindroman. hehe!
    saya gak bilang kalau semua penderita imposter pasti cemerlang loh ya? imposter itu kan psikologis; sedang kecerdasan itu kognitif, beda aspek.
    makasih, mas yari.

    @fatamorgana:
    mana? mana guramenya? hhh...

    @kajiankomunikasi:
    benar, sejauh tujuannya baik, sebaiknya kita tak membatasi diri dalam bergaul.
    ora et labora ya?
    terimakasih, mas, salam hangat kembali.

    @yoga:
    bunuh diri memang sudah kasus yang sangat ekstrim, yo. pastinya ada banyak faktor yang memberatkan.
    tulisan tentang kebalikan imposter? hmm... kapan ya? kayaknya gak dalam waktu dekat deh. tugas masih numpuk. hehe!
    sabar ya? makasih, non.

    @suhadi:
    kenapa gak ikut kuisnya, suhu? biar ketauan seberapa parah "ketidakparahannya" itu. hehe!
    iya, iya! percaya kok, gak parah.

    @imoe:
    roh siapa di tanganku? weh, kok baru ngeh sekarang kalau aku memegang kendali atas kehidupan seseorang ya? hiii... sereeemm...

    @DM:
    kompor mana lagi, DM? yang kemarin dinyalain aja masih panas nih, udah hampir meleduk pun!

  • esensi

    hmm...
    untungnya saya laki-laki
    kekekeke....
    .
    *ditimpuk sendal sama yang punya blog*
    X-D

  • novnov

    mbakyu...kayanya situ udah tau kan ya sayah masuk golongan yang mana hahahahahaha...miss u mbak sumpah, benci aku bener2 gak ada waktu buat blogging hiks, paling buka bentar, publish kmen trus log off lagi...halah babu yg sok sibuk nihhh

  • Sawali Tuhusetya

    sedang jalan-jalan, mbak yulfi, sekaligus silaturahmi ke mbak yulfi sekalian ngetes komen. sudah kangen postingan mbak yulfi yang baru.

  • Sawali Tuhusetya

    wah, pakai net sekolah, ternyata malah lancar nih komenku, hiks, meski memakai id blogger google. saya curiga, jangan2 koneksi net saya di rumah yang sedang ngambeg dan sensi. mudah2an tdk sedang terjangkit sindrom imposter, hiks.

  • Marshmallow

    @esensi:
    iya, untung banget deh kamu laki-laki, ris.
    untung juga aku perempuan.
    (pada ngomongin apaan seeehh...)
    *mendingan nimpuk pake batu, soalnya sandalku mahal. sayang!*

    @novnov:
    iya, jeung, situ termasuk sindrom narsisistik. hihi! tau banget kalau itu mah.
    duh, kasian deh yang gak punya asisten. sini aku bantuin jaga adam dan arya.
    *dalam hati berniat nyulik*
    nyeh..nyeh..nyeh...

    @sawali tuhusetya:
    tersanjung banget dikangeni guru maya saya.
    ntar deh saya sempatkan nulis, pak. belakangan memang lumayan sibuk. *belagu banget*
    nah, mudah-mudahan internet pak sawali tak mengidap sindrom impostor, ya?

  • utchanovsky

    Sip, nice info gan

    langsung menuju TKP

    >>>>>>>>>>>>>>>>> whuzzzzz

  • si Dion

    lhah, no bisa. welaah.. knapa kemaren ga bisa yak..
    alo uni pa kabar?:D mangap uni kemaren ndak ngasih tau ada kondangan soale ndak bisa ngomenk je, skrg bisa krn coba pake kompi laen. anw, makasih udah dateng yak, jg udah diganti linknya ;)

  • Marshmallow

    @utchanovsky:
    waaaahh... jadi uchan impoten, eh, imposter? moderate pulak!
    selamaaatt... makan-makaaaann... (hihi!)

    @dion:
    o gitu ya? abis aku emang baik banget sih sama kamu; udah kumaapin, kudatangin, trus kuganti tautannya. kurang apa coba?

  • si Dion

    e eh kurang apa yak?!? kurang garam kali, hihi
    kalo umpama kita berpendapat bahwa smua pencapaian kita adalah krn adanya campur tangan Tuhan apakah itu imposter juga uni? seakan menganggap diri sendiri tidak punya kemampuan selain 'bantuan' dari Tuhan. jadi kalo tanya ke pak ustadz ttg kemampuannya thd sesuatu maka pak ustadznya itu selalu menjawab "ah, saya mah cm manusia yg begini2 aja, Allah lah yg membuat saya mampu dan berhasil". gimana ntu?

  • fatamorgana

    posting dong....posting baru....
    gak ada orangnya 'kan??? Eh, ada lho.....KABUUUURRRR!!!

  • spydeeyk

    hmmm.., makin aneh2 aja yah penyakit orang sekarang, perasaan dulu kakek saya ga pernah cerita klo dizaman nya ada penyakit itu.., apa td.., imposter ya.. he2.. *kaburr..*, anyway.., infonya bermanfaat banget.., thx mbak.. :D

  • Marshmallow

    @si dion:
    itu sih rendah hati (seperti aku, ahuhu...), beda dengan rendah dirinya impostor.
    kalau perkara pertolongan Tuhan udah pasti, tak ada sesuatu pun yang terjadi di dunia ini tanpa kuasa-Nya, kan? tapi kita gak boleh mengecilkan kontribusi usaha kita juga dong. mana ada rejeki datang tanpa ikhtiar.
    kayak contoh si ustadz deh: emang dia bisa pinter kalau modal bengong doang tanpa usaha menimba ilmu? gak kan? makanyaaa...

    @fatamorgana:
    hihi! tunggu tugas-tugasku kelar dulu ya, say? ASAP deh!

    @spydeeyk:
    jaman kakek kamu? jangankan impostor, teori-teori sigmund freud saja pun belum masuk indonesia kali, spy. hihi!
    makasih ya?

  • ammadis

    Jadi intinya salah asuh gitu tho...??? Klo menilik standart pendidikan yg diinginkan orangtua sekarang thd anaknya...mungkin too hibgh ya...???!

  • suhadinet

    Ya udah saya ikut kuisnya dulu ya. Ntar balik lagi ngasih laporan. Eh, bikin dong fiksi tentang penderita sindrom imposter ini...

  • suhadinet

    Ternyata enggak, skornya kecil kok. Ha..ha... senangnya.

  • fatamorgana

    aku juga lagi sibuk nih. tapi kupaksain ngeblog. mana ada tanggung jawab posting cerber lagi. ha ha ha...cari penyakit ya? kemarin gak sempet ngeblog, rasanya gimana gitu.

  • Ersis Warmansyah abbas

    Sekadar tambahan: Seharusnya semakin sibuk semakin banyak ide, semakin mungkin menulis (lebih cepat). Pengalaman saya sih begitu ...

  • Marshmallow

    @ammadis:
    berharap sah-sah saja toh, mas?
    yang musti dihindari itu kan kalau harapan tidak tercapai lantas jadi frustrasi.

    @suhadi:
    syukur deh kalau suhu ternyata gak impostor.
    selamaaat... hehe!

    @fatamorgana:
    wah, aku pun sakit nih rasanya gak ngeblog, tapi kudu tega!

    @ersis w a:
    wah, kalau soal ide gak usah ditanya deh, pak.
    malah udah saya tulis dan dijadual untuk tampil pada waktunya. (saya selalu terobsesi untuk menyelesaikan tulisan secepatnya, dan idenya suka muncul di saat sibuk, persis seperti pak ewa)

    masalahnya mempublikasi tulisan bagi saya tak sekadar submit trus ditinggal, saya selalu merasa tertarik untuk terlibat dalam diskusinya; akan membebani pikiran kalau tidak.
    nah, itu yang belum sempat saat ini.

    jadi sementara blogging saya tempatkan di prioritas kesekian dulu, sampai beberapa waktu ke depan. first things first. hehe!
    makasih loh pak atas sarannya.

  • David P Pangaribuan

    Informasi yang sangat penting bagi saya dan akan meluangkat waktu dan lebih banyak mendengar dalam hubungan dengan anak-anak saya.

    Jujur saya sangat takut .. , karena selama ini saya terlalu meminta mereka untuk belajar keras dan berprestasi (demi masa depan mereka)

    Terima kasih ya Ibu Dokter

    Salam

  • alifia82

    Iseng mampir. Kangen euy sama bu dokter..

  • FATAMORGANA

    ada peer buat kamu, bu dokter. ntar kalo sempet mampir liat kayak apa peernya ya. tks

  • Donny Verdian

    Ayo kopdar bareng aku dan Chandra..
    aku udah di Sydney... kalo tertarik, msg di blogku ya..:)

  • Anonymous

    Buuu...
    Ditantangin kopdar ma DM!!!

    -Chandra-

  • lovepassword

    Lha terus cara mengatasinya gimana Bu Dokter?

  • Avis

    Tulisan ini sangat bermanfaat,

    Imposter di satu ekstrim dan kepedean (Over Confidence) pada ekstrim lain, sama saja "bahaya"nya untuk kesehatan Jiwa. Makanya tidak terlalu gampang jadi orang tua, sebagai "significant Other" bagi anak-anak kita. Perlu banyak pengetahuan dan bertimbang dalam menerapkan pujian (secara umum reward) terhadap prilaku anak-anak kita

Post a Comment

Thanks for your comments, it's an honor.