Tuesday, October 14, 2008

Nonton Bareng Warga Kampung Blagu

Karena dinamisme yang luar biasa dari Kampung Blagu serta warganya, cerita ini pun mengalami perpanjangan dan pelebaran sama dengan perluasan sejak terakhir ditampilkan dalam trailer. Fiuh, melelahkan juga ternyata! Untung sedang rada sepi assignment. Sekali lagi, cerita ini fiktif belaka. Bila ada kemiripan karakter dengan tokoh-tokoh yang Sahabat sekalian kenal, itu adalah di luar kesengajaan dan tanggung jawab penulis. Tautan hanya menunjukkan bahwa bahasan serupa pernah dibincangkan oleh sahabat yang ditaut. tumbuk

Setelah diskusi yang alot namun untungnya tidak anarkis, warga Kampung Blagu memutuskan untuk menonton fim bersama-sama. Beberapa hari kemudian mereka berkumpul kembali, kali ini secara amat menakjubkan mereka berada di suatu tempat dekat pintu masuk sebuah teluk yang sangat indah. Mereka berada di puncak tebing karang yang merupakan tonggak Selatan harbour entrance tersebut, sejauh-jauh mata memandang terlihat samudera luas yang berbatas kaki langit. Di seberang tampak tebing lain yang merupakan tonggak pintu masuk sebelah utaranya. Saat itu malam terang bulan, mereka berencana menonton di dalam sebuah bangunan rumah bersejarah yang ada di puncak tebing, dekat mercusuar.

Para pria sibuk mempersiapkan perlengkapan menonton.

Dyon, seorang mahasiswa, membawa kain lebar pembatas saf mesjid dekat rumahnya. Kain tersebut akan dijadikan layar tancap. Keputusan rapat kemarin begitu. Mereka akan menonton film layaknya layar tancap. Mas Melo yang pernah nonton di layar raksasa sebenarnya tidak setuju dengan ide itu. “Gak seru!” katanya jumawa, menyebalkan tingkahnya.

Halah, pake gak setuju! Salah situ, kenapa kemarin tidur bukannya ikut urun saran?” sindir Barian Syah.

Iya, nih. Lagian paling banter situ juga tidur, gak layar gede gak layar kecil. Jadi gak penting banget, kan?” Aldi Soemarno langsung nimbrung, padahal dia baru tiba. Biasa, saking pemalasnya dia suka terlambat. Dia bangga sekali dengan cap supermalas itu, dan selalu ingin membuktikan bahwa supermalasnya adalah world class!

Ichal, mahasiswa dari kota Makanyasar yang merangkap sebagai loper koran, dibantu Topik, Dyon, Cakra dan Ndra mendirikan layar. Kelimanya adalah mahasiswa yang rajin. Barian Syah mengomando mereka. Dia masih terbawa profesinya sebagai dosen, suka mensupervisi. Belum lurus, kurang tinggi, lebih kencang, dan sebagainya.

Di tempat lain, Heru Azzura sedang mengutak-atik perlengkapan audio visual bersama Adham Fishy. Heru agak kesal ditunjuk untuk tugas ini sebenarnya, karena dia lebih asyik memotret-motret di acara tersebut. Dia sedang kegandrungan fotografi memang, walaupun masih menggunakan kamera DSLR pinjaman. Apalagi bertugas di Kampung Blagu selalu gratis, tak bisa menambah tabungan buat membeli kamera sendiri. Frans ikut membantu, tapi malah bikin kacau. “Kamu error mulu, sih?” hardik Heru yang memang sedang kesal.

Iya nih!” sambung Adham Fishy tak kalah sengit, “Website aja kamu ilangin gitu, ntar ini pula kamu rusakin! Gak usah pegang-pegang deh! Ntar malah makin gak beres!”

Frans terdiam, dia kesal dimarahi, tapi tak urung malu juga. Diam-diam dia pergi ke kamar mandi, kemudian mengeluarkan sebuah benda dari sakunya: sebuah celana yang dinamakannya Kancut Pembawa Hoki. “Percuma aku sudah bawa-bawa kau ke mana-mana, Kancut! Ternyata kau tak juga membawa hoki! Sekarang aku ganti namamu menjadi Kancut Pembawa Sial!” bentaknya kesal. Belakangan dia memang suka sekali mengganti-ganti nama jimat kesayangannya itu.

Pakle atau Pak Lekry sedang sibuk dengan perlengkapan broadcast radionya. Kegiatan ini akan disiarkan melalui radio Kota Jambu, relay ke seluruh penjuru negeri. Sudah ada sponsornya, pokoknya tinggal siaran. Suara Pakle yang bariton seperti membius setiap kali dia siaran. Sungguh memesona!

Dariel Mamanda merapikan kabel-kabel yang berseliweran di lantai, dia memang perfeksionis sekali, tak bisa melihat ruangan berantakan. Kepribadiannya yang lain, Leirad Adnamam menyapu lantai. Talisuci ingin membantu, namun karena dilihatnya Dariel dan Leirad merokok, dia pun urung. Apalagi dia masih agak pusing akibat mabuk laut, baru memancing dua malaman di laut. “Saya sedang berusaha berhenti merokok, Mas. Saya tak mau tergoda melihat Mas merokok.”

Ah, paling banter cuma lima batang sehari kok!” jawab Dariel. “Aku pun lagi berusaha mengurangi, nih!”

Wah, kok sama, ya?” kata Leirad heran. Keduanya memang aneh, tak hanya tampangnya mirip, kebiasaan mereka pun sama. Aneh!

Di pojokan Pak EVA sedang ngobrol dengan Salamuddin Idris. Salam, begitu panggilan Salamuddin Idris, suka sekali berguru kepada Pak EVA, terutama masalah menulis.

Bagaimana agar bisa lancar menulis seperti Bapak? Saya lihat tulisan Bapak banyak sekali, hampir tiap hari menulis.”

Hmm... yang penting menulis, menulis, dan menulis!” jawab Pak EVA. “Lihat saya, bahkan saat ngobrol dengan Sampeyan pun saya sebenarnya sedang menulis!”

Wah, saya kok gak melihat ada komputer, PDA, atau bahkan buku catatan tuh, Pak?” Salamuddin memang tergila-gila dengan teknologi.

Ya, saya menulis di pikiran!”

Salamuddin Idris manggut-manggut.

Viron masih agak kesal karena tak jadi lomba mengaji. Dia setengah menggerutu berbicara kepada Pak EVA, “Kenapa tak mengaji saja, ya? Padahal itu kan tandanya kita tak lupa dengan Ramadhan, walaupun telah berlalu.”

Pak EVA mengangguk. Ingat Ramadhan dia jadi ingat kisah perjalanan umrahnya bulan puasa lalu. “Ide mengaji pun bisa dituliskan, Pak Viron! Ide bisa datang dari mana saja,” katanya bijak. Viron manggut-manggut.

Di sudut lain tampak Suhari dan Dokter Randi sedang berbicara serius. “Saya ingin bisa membahagiakan istri saya tiap hari, Dok. Seakan-akan kematian tinggal sehari.”

Wah, niat yang mulia sekali, Pak Suhari. Jarang ada suami yang bercita-cita begitu. Jadi apa masalah Pak Suhari?”

Ah, masalah kecil saja kok, Dok!”

Hmm... tak terlihat bukan berarti tak ada kan, Pak Guru?” Dokter Randi berkedip.

Suhari manggut-manggut.

Tiba-tiba Soel, nama lengkapnya Soel Sepatu, muncul dengan terengah-engah. “Wah, kenapa? Kok terengah-engah gitu?” tanya Mempi, lelaki sedaerah yang saat ini sedang merantau di kota lain. Nama ini diambil mungkin karena dia selalu bermimpi untuk bisa kembali ke kota asalnya. “Di tempat baru gak enak, gak ada keluarga,” sering dia mengeluh begitu.

Aduh, Da Mempi, saya baru dikejar anjing pas jalan ke sini. Huh, dasar anjing! Mana pemiliknya juga galak lagi!” Soel ngos-ngosan, napasnya memburu.

Mempi manggut-manggut.

Di teras bangunan, Jari MK, seorang warga baru yang berkumis dan bertubuh tinggi, duduk ditemani Pak Samali mengamankan tempat acara. Mereka berdiskusi tentang kemungkinan menyilangkan warga Kampung Blagu dengan simpanse, agar menghasilkan keturunan yang kuat seperti simpanse, namun cerdas seperti warga Kampung Blagu.

Saya hanya menyambung keingintahuan para ilmuwan dunia tentang ini, Pak Samali. Kira-kira, spesies hibrid ini kalau berhasil akan kita beri nama apa, ya? Manusianse?”

Hmm... lebih cocok Blaguanse saja! Kita harapkan keturunannya nanti bakal kuat seperti simpanse, tapi belagu seperti warga kampung kita ini,” usul Pak Samali. Lawan bicaranya manggut-manggut.

Kalau saya kok lebih suka disilangkan dengan wanita cantik bergaun putih, ya? Maksudnya agar jangan malu orang yang pernah melahirkan saya,” celetuk Genta, warga penunggu Gunung Krayon, yang tiba-tiba nongol di antara mereka.

Yee... kalau sama wanita cantik sih siapa juga yang nolak?” sambut Jari MK. “Tapi bukannya perkara menyilangkan Sampeyan justru lebih jago? Menyilangkan kambing tapi.”

Ya, saya memang sudah berhasil menyilangkan kambing ketawa dengan kambing sedih, Mas Jari.”

Pak Samali manggut-manggut.

Di dapur para wanita sibuk mempersiapkan makanan. Kali ini mereka tidak repot lagi memasak. Achong yang datang dengan bertelanjang kaki ternyata tak sepenuhnya bertelanjang tangan pula, dia membawakan puluhan bungkus mie ganda, cukup untuk semua orang.

Ah, syukur deh gak ada jengki lagi!” Indina menyindir sambil melirik Nobnob. Lengannya menyikut Utani.

Yang syukur kita dong gak musti makan masakan instan!” Nobnob tak mau kalah menyindir. “Lebih sehat kan, Jeung?” dia mencari dukungan Yumi yang dokter. Dasar Yumi adalah ibu yang tak suka bertengkar, dia senyum saja. Lagipula karena hamil, dia tak ingin mengejek, takut kuwalat.

Tapi Jeung Nobnob kurusan loh sekarang,” puji Utani, ingin berkonsiliasi.

Nobnob tersenyum menanggapi, hidungnya agak kembang-kempis dipuji. “Abis si Mbak gak mau balik lagi abis libur lebaran kemarin, gak dapat pacar di Kota Jambu katanya.”

Cari pembantu memang susah-susah gampang, Jeung,” kata Tantekruis mengamini. “Berapa sih probabilitasnya kita bakal dapat pembantu yang cocok, semisal sampe nama majikan dan pembantu mirip pula!”

Gimana sih, Mbak Tante? Gak nyambung deh teori probabilitas, nyari pembantu dan nama sama,” Nobnob agak sewot. “Tapi ya gitu deh, sekarang saya sibuk jaga anak-anak, Abam dan Aria yang nakalnya minta ampun!”

Sekaligus jadi pembokat, kan?” sindir Indira.

Idih, tapi kan pembokat seksi!” Nobnob tak mau kalah menanggapi.

Tiba-tiba Imerda muncul di dapur. Dia berkaca mata silindris.

Loh, loh! Mbak Imer kenapa terlambat?” kata Nobe. Sebenarnya mereka bisa saja berbahasa Jepang, karena Imerda memang berasal dari Negeri Matahari Muncul. Tapi mereka tak mau pamer kepada orang-orang lain.

Iya, nih! Abis saya musti jadi model lukisan dulu, taunya lama banget! Berjam-jam duduk mematung. Untung tak harus bugil. Kalau gak kan sekarang saya udah masuk angin. Maaf, ya? Tapi saya bawa sushi roll, koq. Ada teh, kue, dan coklat asin juga, khas Negeri Matahari Muncul.

Semua tersenyum dan langsung mengerubuti penganan yang dibawa. “Eh, eh, jangan dihabisin sekarang, dong! Ntar yang lelaki gak kebagian!” Ibu Emmy mengingatkan. Ibu ini memang bijaksana sekali. Yang lain tersenyum malu, terutama Nobe yang sudah sempat menggigit sepotong kue.

Abis bentuk kuenya seperti wadai amparan tatak, saya jadi kangen sama kue itu.”

Yee... bukannya udah tiap hari makan kue amparan tatak?” kata Alibia, guru dari Kota Sunda Kelapa. “Masak gak bosen-bosen, sih?”

Ketimbang doyan ngopi!” balas Nobe. “Perempuan kebanyakan minum kopi ntar kumisan loh!”

Huu...,” cibir Alibia. Ibu guru ini datang dengan bawaan segambreng, sampai disangka membawa makanan yang banyak. Tapi ternyata karena dia sedang berusaha terbiasa untuk tidak membawa ransel sejak ditegur oleh atasannya—dianggap kurang feminin—jadilah kedua tangan dan bahunya penuh dengan beban tas perempuan yang kecil-kecil ukurannya serta beberapa kantung plastik.

Mbak Imer, aku udah coba bikin telur dadar resep Mbak, loh!” Indina melaporkan. “Sukses!” bangganya.

Wah ya bagus itu! Ganbate!

Lain kali nulis resep lagi ya, Mbak?” pinta Indina. Gadis ini sedang gandrung sekali memasak, melanjutkan kegemaran ibunya yang baru saja berulang tahun.

Tumben gak masakan instan,” celetuk Nobnob.

Ibu Emmy yang sedang asyik menikmati secangkir tehnya jadi terganggu dengan dua orang yang suka berselisih ini. “Aduh, kalian semua ini apaan, sih? Akur saja kenapa? Kita sesama warga Kampung Blagu gak boleh bermusuhan, semua bersaudara.” Indina, Nobnob, dan semua perempuan yang lain pun tersipu-sipu. Mereka berpandangan, kemudian saling berbisik mengucapkan maaf. “Masih lebaran kan, Jeung?”

Memang perempuan tiap berkumpul pasti rame dan ada saja masalah. Ika, sang mahasiswi Fakultas Kedokteran tingkat dua Tribakti menutup telinganya, takut ketularan cerewet. Padahal sehari-hari dia sudah cukup cerewet menurut ibunya di rumah, tapi kecerewetan para perempuan di sini memang luar biasa.

Setelah beres, semua berkumpul di ruang tengah.

Bayou, mahasiswa dari Kota Parang, membuka acara. Pada setiap pertemuan tugas jadi pembawa acara digilir, tujuannya agar para warga punya pengalaman berbicara di depan khalayak. “... Tanpa memperpanjang waktu, waktu dan tempat kami persilakan kepada Pak Samali untuk memandu acara ini.”

Wah, pembusukan bahasa ini, Mas Bayou,” kata Pak Samali. “Pertama, waktu itu tidak bisa diperpanjang, haks! Kedua, waktu dan tempat kok dipersilakan memandu acara. Yang dipersilakan itu kan saya. Jelas pembusukan bahasa ini!”

Bayou terdiam. Bahasanya memang suka keliru dan perlu dikoreksi oleh Pak Samali. Untung guru bahasa ini baik dan selalu sabar membimbing.

Sekarang kita tentukan mau menonton film apa. Terserah warga saja, saya tak tau banyak soal film, maklum Kental kota kecil, tak ada bioskop yang bagus,” kata Pak Pak Samali yang berasal dari Kental kota kecil. “Rekan-rekan sudah membawa film yang mau diputar kan?”

Film yang akan ditonton memang belum diputuskan, tapi semua orang membawa piringan film masing-masing, belakangan baru disepakati bersama-sama.

Ya, saya bawa film horor!” Suhari mengacungkan filmnya. “Ada beberapa, tinggal pilih.”

Yee... film horor, males ah!” kata para perempuan.

Tuh, kan. Ulun kan udah ingatkan tadi, Kaka berkeras banget sih,” rajuk Nobe.

Ading jangan marah, Sayang. Kaka minta maaf, ya? Iya, iya, janji gak nonton film horor lagi.” Nobe pun tersenyum. Mereka berdua memang mesra sekali. Achong memandang dengan jengah. Misinya untuk menemukan bidadari masih belum berhasil sampai saat ini. Entah kenapa susah sekali ia menemukan bidadari, padahal banyak perempuan yang sudi dengannya. Tapi kini Achong tak sendiri, dia berteman dengan Soel dalam usaha menemukan bidadari.

Saya bawa film Mama Maia, sebuah film musikal tentang seorang ibu bernama Maia, mengingatkan kita pada ketenaran lagu-lagu oldies-nya ADDA,” Ibu Emmy mengusulkan. Dia mencari-cari ke dalam tasnya. “Loh, kok gak ada? Haduh, pasti ketinggalan di mobil nih, tadi si Bungsu yang antar saya, namun segera pergi lagi karena pacarnya sudah menunggu.”

Gak pa-pa, Bu. Lagian kita gak suka film itu, mendingan Laskar Perangi. Nih, saya bawa kasetnya!” kata Ndra. “Belum pernah saya sesuka ini dengan film Indonesia loh!”

Film Laskar Perangi? Wah, saya suka juga! Teknik visualnya bagus, filmnya lebih membumi ketimbang bukunya!” kata Imam Brontosan. Tentu saja dia paham betul, dia seorang sutradara.

Saya juga suka! Anak-anak saya juga! Saking bagusnya, mereka gak tahu kalau setting film itu ternyata adalah negeri kita,” kata Viron.

Dan saya sudah menemukan kekurangan mendasar pada film Laskar Perangi!” cetus Mansuk, si Manusia Sukar. “Kita bisa berdiskusi sambil menonton nanti,” usulnya.

Huu... nonton mah nonton aja kali! Masak nonton kayak rapat kelurahan, pake diskusi?” balas yang lain sebal.

Lagipula semua kan sudah pada baca bukunya, ngapain kita tonton lagi? Ambo bawa kaset Maling Kandung, tentang anak kandung komplotan maling nan durhako, bertobat dari profesi maling, eh... malah dikutuk jadi batu. Sedih sekali ceritanya,” kata Zulbasri semangat. Kalau sedang bersemangat, guru yang satu ini memang suka keceplosan bahasa daerah.

Ya, ya, benar juga! Tapi yang lain deh! Film Beautiful Brain aja! Nih, saya bawa, kaset original!” siapa lagi kalau bukan Dariel Mamanda. Leirad mengangguk-angguk setuju. Lagi-lagi mereka seketertarikan dan seide.

"Wah, jangan film yang mainstream, dong! Sesekali film lain yang gak kalah bagus, semisal Kura-Kura Terbang, film kemanusiaan dengan backdrop perang Irak," kata Emi, dosen Fakultas Kedokteran juga. Belakangan dia memang lagi getol-getolnya menonton film-film yang susah dicari.

Jangan film Barat, jangan film luar negeri!” cetus Ubanovsky. “Jangan mau dijajah oleh para kapitalis itu! Mereka memang sengaja, seperti ide globalisasi itu, hagemoni! Film negeri sendiri saja!”

Soel merasa mendapat angin. “Saya suka film Indonesia! Kalau perlu yang ada bintang Chinta Laurah. Suka sekali, dia pintar menyanyi pula, bahasanya pun bagus!” Sebenarnya Soel ingin nonton film komedi seperti “Kunantikan Jandamu”, “Mupeng” singkatan dari “Muka Gepeng”, atau “Suami-Suami Ditakuti Istri”. Dia memang ingin menghibur diri setelah putus cinta yang begitu menyakitkan. Tapi sayangnya dalam film-film itu tidak ada artis pujaannya, Chinta Laurah.

Yee... menurutku itu sih sinetron, bukan film. Aku gak suka! AADC alias “Ada Ada saja Dengan Chinta” kan?” Ibu Guru Alibia salah mengerti. Dipikirnya film yang ada artis Chinta Laurah berarti film AADC alias Ada-Ada saja Dengan Chinta.

Kok jadi AADC?” untung ada yang tanggap. Suara Yogya, nama sebenarnya Agayogya, terdengar dari sudut ruangan. Dari tadi dia diam saja mengamati jalannya diskusi. Tapi Yogya memang kritis, sehingga tidak bisa melihat kekeliruan dibiarkan. “Setau saya, Chinta Laurah itu yang berperan dalam film serial lama di televisi, yang jadi putri kedua Michael Londo di film Little Hut on the Prairie!”

Lha, makin error!” cetus yang lain.

Udah, udah! Yang penting film orang dewasa, deh!” usul Aldi Soemarno. Topik, si mahasiswa yang selalu merasa gendut mengangguk kuat-kuat, masih ngeres, walaupun dalam hati dia ingin sekali menonton film animasi Jepang, Maruto. Bobin pun mengangguk menyetujui. Film dewasa membuat adrenalinnya terpacu, persis seperti saat ngebut dengan Val, singkatan dari Valsafah Hidup, nama mobil merahnya yang baru dipasangi GPRS, alat pelacak medan.

Bagus tuh, ada pendidikan seksualnya. Kita kan perlu terus meningkatkan kualitas kehidupan seksual kita!” saran Dokter Randi. “Pendidikan seks yang baik bisa membuat kita menikmati foreplay, afterplay, dan play play!”

Dan bisa sekalian belajar anatomi juga!” kata Ika.

Ya, ya! Kita nonton film dewasa aja deh! Kan semua udah di atas tujuh belas toh?” Semua akhirnya setuju.

Iboe tersipu-sipu. Padahal dia hampir mengusulkan film anak-anak Sherina. Dia memang cinta sekali pada dunia anak-anak, cerita anak-anak, termasuk juga film anak-anak. Diurungkannya niatnya mengambil kaset itu dari dalam tas. Cakra juga tersipu-sipu. Dia hampir saja mengusulkan film sejarah, berjudul “(Meluruskan) Pengkhianatan G30S/PKI”. Film itu sebenarnya pesanan Dariel Mamanda. Seperti Dariel, Cakra memang ingin sekali bisa meluruskan sejarah negeri ini.

Nah, kita sudah memutuskan, kita akan nonton film dewasa, haks!” kata Pak Pak Samali bijaksana. Kasihan Pak Samali, karena jarang sekali menonton, dia tak tahu apa yang dimaksud dengan film dewasa itu. “Silakan filmnya diputar, Mas Heru!” katanya kepada Heru Azzura yang menanti di dekat peralatan audio visual.

Film dewasa, betapa menyenangkan. Karena semua suka film dewasa, maka dipilihlah yang paling dewasa, berjudul “Kisah Sepasang Kakek dan Nenek”.

Film pun mulai diputar. Semua terdiam menahan napas, pandangan warga nanar ke arah layar, menanti filmnya muncul dengan berdebar-debar.

Tiba-tiba... JEGREKK! Mati lampu! Huuu... semua berseru kesal. Negeri ini memang tak berubah, mati lampu adalah makanan sehari-hari. Terdengar keluh kesah warga.

Saya bilang juga apa? Mendingan kita lomba menulis, tak ada kendala seperti ini. Semua bisa mengerjakannya masing-masing di rumah,” kata Pak EVA. “Sekarang lihat! Mati lampu kegiatan batal deh,” sambungnya.

Padahal saya sudah berkali-kali mengingatkan, menulis itu sangat penting, lebih penting dari menonton film. Manusia harus menulis kalau tak ingin dibilang makhluk prasejarah. Nah, bagaimana menurut Sampeyan?”

Semua terdiam. Pak EVA benar. Mereka tercenung.

Tiba-tiba keheningan malam mati lampu itu terpecah oleh suara dering telepon yang mengganggu. Kriiiingggg.... kriiiiingggg... Terlihat layar telepon genggam yang bersinar terang dari arah Mas Melo yang tertidur. Dia baru menghabiskan tiga mangkuk mie ganda yang sengaja disisakan Achong untuknya.”Makasih banyak!” kata Mas Melo terharu kepada Achong saat menerima tiga porsi mie itu. Mas Melo memang gampang sekali terharu. “Tetap semangat, Sobat!” sahut Achong sambil mengacungkan tangannya yang terkepal. Dan lihatlah sekarang, setelah menghabiskan tiga porsi mie Mas Melo pun sukses tertidur.

Kriiiingggg.... kriiiiingggg... Telepon itu terus berdering, suaranya yang nyaring mengusik alam bawah sadar yang diselimuti rasa kantuk. Suaranya tak mau berhenti, ngendon dengan bandel di otak. Dengan terpaksa, menggerakkan seluruh kekuatan...

...Haloh...?” seperti de javu.

“...Ya... halo...?” suara di seberang, hati-hati. Ah? Tak salahkah telingaku? Suara ini telah membangunkanku dari mimpi tentang Kampung Blagu serta para warganya yang aneh dan belagu, membuatku terkesima.

Baby?” aku pun berseru.

Hayah!

55 comments:

  • Syamsuddin Ideris

    Haa.ha..ha..saya sangat senang membaca cerita virtual ini. Sungguh sesuatu yang fresh, segar dan extraordinary...

    Apalagi cerita tentang pak Salamuddin Ideris yang senang teknologi sedang belajar menulis pada Pak EVA..he..he..he..kok mirip saya ya, perasaan jadi nggak enak nih...jangan-jangan...

  • Syamsuddin Ideris

    Wuakakakaka....
    Sampai saat ini saya masih ngakakakakak...
    Pokoknya malam ini terhibur membaca cerita penduduk kampung blagu menonton film. Moga nanti diteruskan dech serial "kampung blagu" jadi sebuah film juga, tinggal hubungi mas Hanung aja ya...
    (***pokoknya comment malam ini aku borong semua***) habis nggak puas kalo cuman satu comment aja...
    Ha..ha..ha...***masih terus tertawa***

  • Syamsuddin Ideris

    Berbakat juga nih Bu Dokter ngelucu..
    Biar nanti saya belajar juga ya bikin cerita yang fresh dan lucu kayak "serial kampung blagu"..Kan mengajar di kelas jadi enak, anak didik jadi terhibur.

    Jadi tidak hanya belajar teori EWT pada pak Ersis dengan slogan "Menulis Itu Mudah" tapi kayaknya harus belajar ngelucu juga nih, pada bu Dokter dengan slogan "ngelucu itu susah"..mungkin teori yang akan dikeluarkan nanti MLT alias MarshMellow Laughing Theory..he..he..he..

  • utchanovsky

    gini bu, bagusnya yg dilink di sini, dikasih bold. Biar keliatan siapa2 aja yg diajak di sini.

    Btw nama saya jadi aneh di sini

  • yulism

    Mbak cocok juga jadi penulis cerita parodi lho, lucu sekali. Yakin nanti kalau dah jadi dokter pasti pasiennya pada seneng datang. thanks

  • Zulmasri

    pertama, sadis. warga kampung blagu mau disilangin sama simpanse? hah. pak sawali, eh, pak samali bgm ini? rekayasa genetika luar biasa atau berbahaya?

    kedua, akhirnya malin kundang ada versi baru 'maling kandung'. masih penasaran ya uni?

    ketiga, saya sdh bisa nebak akhir ceritanya, gak jadi nonton. cuma gak nyangka aja penyebabnya: lampu mati. ending yg cerdas.

    keempat, secara keseluruhan cerita ini bikin saya senyum-senyum sendiri. padahal saat baca cerita yg pertama (lebaran di kampung blagu) saya ketawa ngakak. dengan kata lain, cerita pertama lebih menggigit (sorry, kritik model ketawa)

    kelima, selamat. uni berbakat nulis cerpen. saya tunggu cerpen edisi kampung blagu lainnya, minimal 10 edisi. nanti boleh diserahkan pada pak ewa atau mas dm untuk dibukukan

  • DM

    @Yulism:
    Mbak Yulis, sebetulnya Marshmallow itu memang tukang dongeng parodi keliling di kampungnya (di Kampung Blagu). Hanya saja dia sedang nekat sekolah dokter. Mungkin pasaran mendongeng sedang turun di sana. Jadi dia coba-coba jadi dokter saja. Siapa tau laris.

    Nah, nanti kalau dia sudah jadi dokter (hihihi! Ngakak sungguhan deh) pasti pasiennya pada seneng dateng. Pura-pura sakitlah. Minta diobatinlah. Padahal...

    *cepet-cepet kabur setelah nulis komen ini. Keburu Marshmallow bangun* Hihihi!

  • ichanx

    ini kisah pribadi, atau cerpen humor sih?

  • Catra

    @ Ichanx
    dua2 nya om, hehehe

    tante mallow emang punya daya ingat yang luar biasa. Butuh interpretasi yang baik untuk membuat cerita seperti ini. hehehe, dan itu dibuktikan dengan lebaran dan nonton di kampung blagu hahahahaha

  • Ersis WA

    Komentar apa ya, seru baca aja kali. Untung naman saya ngak dibawa-bawa, he he

  • Marshmallow

    @syamsuddin ideris:
    wah, kalau perasaan sedang gak enak, ke toilet aja, pak syams. hihi!
    jadi tokoh salamuddin idris mirip pak syams? yakin? aneh juga ya pak syams bisa mirip sama warga kampung blagu yang pada belagu ini?

    MLT = Marshmallow Laughing Theory? haha!
    "yang penting tertawa, tertawa, dan tertawa!
    jangan takut tertawa, ide apa saja bisa dijadikan bahan tertawaan," itu bunyi teorinya kali ya?

    @utchanovsky:
    idih, nambah kerjaan aku aja dong.
    kamu aja yang bold sendiri!
    lagian nama kamu memang jadi siapa kok lucu?
    GR banget deh si uchan.

    @yulism:
    wah, ini kan fiktif, mbak yulis.
    tapi makasih loh apresiasinya.
    nanti saya ceritakan ke pasien-pasien saya tentang mbak yulis. (loh?)

    @zulmasri:
    pertama (*pak zul mode: on*), pak zul klik deh tautannya, ada artikel yang bagus banget di situ soal penyilangan. pake foto korban penyilangan segala lagi. haha! *sungkem sama pak yari nk*

    kedua, saya memang masih penasaran sama lanjutan studi kisah malin kundang di blog pak zul, gak sabar nunggu sambungannya.

    ketiga, selamat udah bisa nebak, pak zul. lain kali ada hadiahnya untuk tebakan yang tepat. (hadiahnya buku pak eva, hihi!)

    keempat, gpp, saya menghargai pendapat pembaca. no worries, dan makasih kritiknya, pak zul.

    kelima, minimal sepuluh episode? wah, kerja keras, nih! lagian siapa juga yang mau nerbitin cerita ngasal kayak gini?
    tapi tetep makasih, pak zul!

    @DM:
    padahal apa, hah?
    emang suka banget deh menghina aku.
    biarin, i am cool.
    untung aku lagi kurang sehat, kalau gak udah tak kejarrr pake sapu...

    @ichanx:
    hmm... ini kisah pribadi atau cerpen humor sih? bingung...

    @catra:
    makasih, cat, dibilang daya ingat luar biasa.
    tapi masak sih? ingatan tentang apa?
    ini kan fiksi, ngarang doang.

    @achoey:
    kena apa, kang achoey?
    pasti belum baca yang lebaran di kampung blagu, kan? hihi!
    baca dulu deh!

    @ersis wa:
    saya kan emang gak bawa nama siapa-siapa, pak ewa. ini baru komen yang tepat!

  • sawali tuhusetya

    waduh, jidat saya kembali berkerutan membaca postingan mbak yulfi. tertawa ngakak sambil guling-guling, kekekeke .... selalu saja ada yang baru, segar, dan kreatif. ini model backlink yang tersamar, tapi sangat membantu penaikan trafik blog para sahabat, meskipun mbak yulfi tak bermaksud seperti itu. betapa cermatnya mbak yulfi memperhatikan karakter setiap postingan yang mbak yulfi temukan di kompleks blagu, eh, blogsphere, bahkan juga termasuk komentar yang terdapat di dalamnya. salut deh!

  • zoel

    huahuhuahuah ngakak dulu ahh,,, ampe atit peyuttt

  • Bakhrian

    salut buat ibu yang satu ini...
    tidak henti-hentinya bikin orang lain geleng-geleng kepala...

    salut bu..
    keep go on...

  • novnov

    Saya sedang berada di sebuah tempat yang entah dimana, yg jelas saya sedang bersama orang yang rasanya pernah saya kenal tapi saya belum pernah bertemu sedetikpun dengannya...yang saya heran kenapa dia tau kalau saya doyan jengkol dan saat ini sedang sibuk jadi babu berkelas ya?....tiba2.....
    *pyarrr...bunyi gelas yg dipecahkan dengan sukses oleh Arya*

    Bunyi itu sekaligus menyadarkan saya dari mimpi saya bertemu bu Dokter Marshmallow di kampung blagu......

    Ahh ternyata cuma mimpi......

  • Yari NK

    Huahaha... wah ini komen plesedan ya.... Tetapi bagus deh... kreatif sangat.... berhasil menggambarkan keamburadulan, kedinamisan ketidakteraturan sekaligus keramahan di 'dunia blog'.... :D

  • Marshmallow

    @sawali:
    terima kasih, pak sawali.
    komen-komen tertentu, sama seperti tulisan di posting, yang menarik perhatian akan membekas.
    tidak hanya saya, blogger lain juga sepertinya begitu.
    nah, saat mau menuliskan cerita tinggal ditautkan. hehe.

    sayangnya beberapa yang masih saya ingat dengan jelas sudah tak bisa ditaut lagi karena blognya sudah tidak eksis.
    cermat dalam kurung kurang kerjaan banget ya, pak? hihi.

    @zoel:
    sakit perut ke toilet sana!
    aduuuhh... bau dong kalau dibuang sembarangan.

    @bakhrian:
    thanks, be.
    keep moving on and on, just like you do.

    @novnov:
    haha... si novnov tukang mimpi juga rupanya.
    mau dibantuin nyari pembantu baru, gak?

    @yari nk:
    makasih, mas yari.
    emang dunia blog itu amburadul gitu?
    bukan saya yang bilang loh ya?

  • alifia82

    hehehehehe...
    Wee.. Lucu bu dokter. Baru kali ini saya tau ada dokter yang lucu. Saya lagi meriang sampai ketawa-tawa. Kalo dibayangin seru juga ya tinggal di Kampung Blagu.

  • Si Maria.

    Huahaha, lucu ceritanya.
    Mbak, emang di situ masih suka njeglek juga ya listriknya...???

  • edratna

    Aduh...duh...duh...perutku sampai sakit kebanyakan ketawa...dan ketawa sendiri didepan kompie.Si mbak mengintip dari pintu.."Enten nopo, bu?" tanyanya.

    Wahh benar-benar nih, saya geli banget....pinter sekali mengkaitkan karakter penulis, apa yang ditulis dengan lainnya....hahaha

  • Andi Sugiarto

    huahahahaha... kalo ada filem dewasa yang lebih dewasa lagi aja... !! huahahaha... Bu Dokter.. kalo konsultasi sama njenengan, ga cukup 15 mnt ya? Pake acara ketawa bersama dulu sih..

  • imoe

    hahahahah jadi pilem dewasanya apaan ? hehehehe lucu sekaligus salut...uni daya ingatnya luar biasa.....sekaligus bantuin promosikan blog kita-kita...sekali lagi saya terkekeh-kekeh baca ini hahhhhhah kok BISA ya...bu dokter ngelucu begini...mending jadi pelawak aja niy...hahahaha kayaknya kalo uni bikin novel dengan tema lucu-lucuan pasti OK tuh...hahahahahahah HIDUP UNI MALOW, HIDUP KAMPUNG BLAGU......kapan niy...arisan kampung blagunya....

  • Marshmallow

    @alifia82:
    makanya, pindah ke kampung blagu aja, yuk?
    tapi, tapi... kok kayaknya meriang dengan ketawa gak klop deh.
    ulang, ah! yang bener tapi!

    @si maria:
    di mana, mar? di kampung blagu?
    tuh, buktinya masih. hehe.

    @edratna:
    eh, ada yang berulang tahun di mari.
    lagi ultah kok sakit perut, bu?
    kasian loh si mbak kebingungan liat ibu enny ketawa sendiri.
    ntar dikirain lagi ngapain lagi.
    makasih, bu enny.

    @andi sugiarto:
    pastinya ketawa bareng, bang.
    kalau saya ketawa-tawa sendiri ntar bingung dong, mana yang dokter mana yang pasien. hehe!

    @imoe:
    oh, jadi selama ini aku promosiin blog lain toh?
    wah, blogku sendiri kapan dipromosikannya nih?
    *sambil nagih ongkos promosi*

  • aldi soemarno

    Hehehe, Bu RT ternyata jago plesetan juga. wakakakak. Ide-ide konyol itu dari mana sih?
    100% gak nyangka, soalnya casing (tampilan)nya jaim gitu. hehehehe. Trus, saya baru tau kalo Mas Melo itu ternyata jumawa, menyebalkan, plus tukang tidur n makan. Next time ending-nya jangan pake dering HP lagi, yang lain kek, dibangunin bunyi petasan, atau bunyi perut yang kruyuk kruyuk, misalnya?

    (sengaja telat komen, last minute man :P)

  • Ikkyu_san

    hahahahahahahhahahahahaha
    aduuuuuuuh
    aduhhhhhhh
    nahan tawa dulu ya
    trus mau diklik tuh satu-satu linknya
    BTW aku kok selalu susah masuk blognya bu dok ya? heraaaan banget.
    untung hari ini saya sabar ...tungguin terus hehhehe
    ternyata berobat pada bu dok yang ahli berdongeng itu memang harus sabar dan kudu antri spy dapat giliran.
    Salam mbak dok

  • Dyon a.k.a si Dion

    hahahaa... mantabh bener bu dokter sastra! wiihhh... kreatipp! btw, Dyon skrg udah ga jadi mahasiswa lagi lhoo, hehe..

  • 1nd1r4

    Hahaahah....a never ending friendly fight between Indina and Nobnob :D . Feels like having big vibrant virtue family ... keep up the good writing sista!

  • surauinyiak

    setelah selesai menonton film bersama, viron mengajukan usul, "bagaimana kalau besok setelah mengaji, kita nonton film laskar blagu? kabarnya film itu bagus"

    marslow tidak sepakat, "sebaiknya kita belajar bahasa mandarin aja dulu, masa nonton terus? jangan sampai kejadian memalukan sewaktu jalan2 ke canberrok dulu terulang lagi..."

  • genthokelir

    wah salut buat Anda ... panggil apa ya Buk atau Mbak ya....
    saya kagum dengan kreatifitas merangkai kata menjadi kalimat yang bermakna namun ada link dan akhirnya menautkan beberapa postingan orang lain yang tentu berjasa untuk membberi tahukan tulisan orang juga
    terima kasih salam hormat saya.

  • Marshmallow

    @aldi soemarno:
    lho, ini tokoh fiktif kampung blagu kok nyasar ke sini?
    ayoh, masuk ke dalam set lagi!
    casing jaim? gak merasa deh, bro!
    trus supaya konsisten, ending-nya sengaja dering telepon terus.
    bunyi perut kruyuk-kruyuk, ya?
    ya, ya, aku ngerti maksudnya. puwaasss?

    @ikkyu-san:
    kok susah ya, mbak?
    mungkin karena mbak imel kejauhan kali, di tempat di mana matahari terbit.
    *gak nyambung*
    hihi! gak usah ngantri, mbak. pasiennya sepi kok.
    dan silakan diklik, artikel-artikel yang ada di sana bagus-bagus banget!

    @dion:
    eh, si dion kemana aja?
    aku lupa, ternyata kamu udah lulus, ya?
    kangen bangeeett...
    ada missing link deh jadinya satu paragraf.
    kasih tau dong rumah barunya di mana.

    @koko:
    belum tuh!

    @indira:
    never ending! haha!
    feels like a big virtual family, doesn't it?
    i hope everybody feels the same way too, because indeed we are!
    thanks, sis!

    @surauinyiak:
    hahaha...
    masih berlanjut ceritanya rupanya, da?
    laskar blagu pemainnya warga kampung yang pada belagu itu pasti, ya?

    @genthokelir:
    panggil "mas" saja, mas! mas melo. hihi!
    terimakasih kembali, mas gentho, dan salam hormat saya.

  • alifia82

    Iya deh mbak kepala suku kampung blagu, ntar saya ulang komentnya. Sekarang masih clenut-clenut kepalanya.
    Kalo beneran ada, saya mau pindah ke kampung blagu.
    Bikin kumpulan cerpennya mbak..
    Bikin Filmnya....
    Siapa tau jadi sitkom yang sukses!!

  • Yoga

    Ni... pasti dirimu suka komik, kartun dan sebangsanya...
    Kocak sekali kampung ini, kapan diajak tur jalan-jalan kampung Blagu?

  • si Dion

    ho'o ni lama ga jalan2. rumah barunya lg diberesein uni, masih berantakan. tar deh kalo udah siap huni diundang kondangannya. tar ajakin warga kampung blagu lainnya yak! kqkqkq
    diari uni makin yahud aje euy..

  • Marshmallow

    @alifia82:
    kasian bu guru sakit.
    gpp, gak wajib diulang kok. cepat sembuh ya, bu guru?
    dibikin sitkom? terus yang jadi pemainnya siapa? para blogger?

    @yoga:
    komik yang gimana dulu, yo?
    aku memang suka komik, asal komik dewasa.
    suka cerita, asal cerita dewasa.
    suka film, asal film dewasa.
    hakhakhakhak... *error*

    @si dion:
    bener nanti kita diundang semua, ya?
    diary makin yahud ya? uhuy, tersapu-sapu milu deh kena puji.
    soalnya biar blog ini lebih komunikatif dan visitor friendly.

    @wempi:
    hayah, tiap datang komennya sama aja deh.
    dibilang baca kesimpulannya aja, kalau ini cuman mimpi.
    lagian iseng banget sih baca mimpi orang?

  • catra

    ^^^ semakin iseng makin asyik uni. hehehe

    eh shoutbox nya ilang ya? pengen teriak nih
    teriak disini aja ya,
    uaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

  • fisha17

    siapa neh manusia terimut di kampung blagu??? hmmmmm.. kayaknya aaaaa..

  • bowbee

    *ngakak dulu, mengheningkan cipta, baru komen... :D*

    Keren banget ya si Bobin, nama mobilnya Valsafah Hidup... Jadi pengen kenalan... hehe :D

    Bagus mbak ceritanya, akankah ini berlanjut??? Semoga terus ada lanjutannya secara bertahap...

  • kucingkeren

    btw..kampung blagu itu di mana ya?? :-) pa kbr nih..udh lama gak silaturahmi

  • Marshmallow

    @catra:
    SB-nya error, gak bisa dikomen, entah kenapa.
    jadi uni remove aja.
    eh, eh! jangan teriak-teriak di sini, orang-orang lagi pada mau nonton film tuh.
    film dewasa!

    @fisha:
    yang paling imut?
    yang jelas bukan adham fishy deh.

    @bowbee:
    ghyaaa... pake mengheningkan cipta segala.
    ya, si bobin emang keyeeenn...
    mobil merahnya juga.
    dilanjutkan ya?
    hmm... *pikir-pikir*

    @kucingkeren:
    eh, ada emaknya si ammar jr. pakabar, jeung?
    abis blog si kucingpemalu udah gak ada lagi, jadi kita gak pernah arisan di situ lagi ya?

  • afwan auliyar

    huhhhh..... panjang, ceritanya seru seh.... tp lom selese di baca.... bersambung dulu ampe paragraf 10 ... :)

  • Orangndut

    Wah, sekarang saya bagian mendirikan layar ya? How interesting...hehehe

  • Marshmallow

    @afwan auliyar:
    iya, emang panjang banget.
    kalau dibagi takut gak seru membacanya terputus.
    udah ditandai pake bookmark, kan?
    jangan dilipat, ntar rusak.(buku kali dilipat?)

    @orangndut:
    loh, siapa yang nyuruh kamu mendirikan layar?
    ayoh, turunin!

  • mantan kyai

    kampungnya belagu yah??? ke laut aja kalee :D

  • fatamorgana

    wah, untung kita baru kenalan. Kalo gak namaku bisa dimasukin juga nih. Untungnya lagi, aku sudah kenal novnov dan pak Sawali. Kalo gak makin bingunglah aku. Hebat, bu dokter! Kenapa gak jadi novelis aja sih? Atau wartawati gicu?

  • Catra

    si uni kemana nih sibuk assignment nih sepertinya

  • Marshmallow

    @mantan kyai:
    ke laut juga bisa. kampung blagu gak punya batasan geografis kok.

    @fatamorgana:
    weh, malah bersyukur, ya?
    wong yang lain juga gak ada yang masuk kok, cuman numpang backlink doang.
    jadi novelis? wadaw! mimpi kali yee...

    @catra:
    hadir!

  • DM

    Mbak, misi ya, Mbak...
    Kalo mau memperpanjang KTP Kampoeng Blagu, ke siapa ya, Mbak...

  • Marshmallow

    @DM:
    misi lewat mari, mas. iya, lewat situ.
    hati-hati kejeduk kursi ya dengkulnya?
    mau manjangin KTP yah?
    sini, saya bisa kok manjanginnya, gak usah ke mak erot segalalaaahh...
    *ngambil gunting, kertas, dan lem, trus KTP-nya dipanjangin*

  • suhadinet

    Ha..ha... sory, ketawanya telat. Lucu sekali marshmallow. Profil Suhari memang lucu. Trus, mbak nove sampai ketawa-tawa membaca wadai amparan tatak.

  • Marshmallow

    @suhadi:
    wah, akhirnya... suhu kemana aja?
    susah nih sekampung pada kehilangan semua.
    syukurlah suhu sudah kembali dan sehat walafiat.
    ya, tokoh suhari itu memang lucu, jiplakannya juga sepertinya begitu.

    salam buat mbak nove, saya mau juga dikirimin wadainya sesekali. hehe!

  • kajiankomunikasi

    Huaha..ha..kok ada semacam kemiripan pola dengan kisah CERBUNGku ya mbak Mars? Padahal aku baru bacanya sekarang ini! Mungkin grand theory yang kita gunakan sama ya..haa..ha.. Aneh ya.. :mrgreen:

  • Marshmallow

    @kajiankomunikasi:
    haha! bisa gitu ya, mas hejis?
    berarti memang kita menggunakan pendekatan yang sama nih, mengedepankan tokoh-tokoh yang dikenal untuk membintangi fiksi (dodol). hehe.
    syukur-syukur gak ada yang protes, ya?

Post a Comment

Thanks for your comments, it's an honor.