Saturday, October 11, 2008

Marshmallow was in Canberra

Setelah perjalanan selama empat jam lebih, tibalah rombongan di Canberra. Cockington Garden menjadi tempat perhentian pertama selama satu jam. Dari sana barulah perjalanan dilanjutkan memasuki kota.

Maafken, Sodara-sodara! Bukan mau narsis, soalnya foto di Cockington Garden cuman ini, ntar disangka hoax kalau gak ada skrinsyutnya. (Duh, alasanku begitu indah dibaca yak?)

Canberra lengang sekali merupakan gambaran pertama yang struck me saat memasuki kota ini, state yang secara geografis berada di dalam kawasan New South Wales—yang beribukota Sydney—rumah sementaraku ini. Canberra adalah satu di antara sedikit ibukota negara yang khusus didisain sebagai kota pemerintahan saja. Itulah kenapa kota ini sangat lengang, penuh dengan bangunan pemerintah dan kantor-kantor pemerintahan yang tertata rapi. Saking lengangnya, beberapa kali aku ketemu iklan bertuliskan ajakan untuk menetap secara permanen di Canberra, sebangsa: "Love it here? Why not live here?" atau "Invite your friends to stay in Canberra permanently." (Kebayang gak kalau Jakarta kayak gini? "Ayo menetap di Jakarta, lengang banget! Gak perlu bikin KTP, gak perlu lapor Pak RT!")

Kunjungan berikutnya adalah Floriade, sebuah taman tulip yang luas. Beragam bunga tulip tumbuh di sana, bewarna-warni. Beragam jenis tulip tersebar di seantero taman, beragam pula warna dan konfigurasinya. Ada yang disusun berdasarkan keseragaman warna, ada pula yang sengaja dicampur dalam satu bank, dan beberapa bahkan membentuk konfigurasi tertentu semacam keyboard piano dengan barisan tulip hitam (sebenarnya ungu gelap) dan putih.

Di dalam taman terdapat pula sebuah danau tempat beragam unggas hidup, termasuk sepasang angsa hitam berparuh merah yang sangat cantik dengan empat anak mereka yang masih sangat muda karena kelihatan masih botak bulunya. Melihat keharmonisan keluarga angsa ini, tak heran kalau angsa dijadikan hewan lambang cinta.

Setelah satu jam lebih di Floriade Garden, perjalanan dilanjutkan menuju Parliament House. Sebenarnya ada dua gedung parlemen di Canberra, yang kami kunjungi—berada di satu ketinggian—merupakan Parliament House yang baru. Menurun dari sana tepat di seberangnya terdapat Old Parliament House yang memanjang dan bercat putih.

Untuk masuk ke dalam Parliament House, pengunjung harus melalui pemindaian. Di situ aku terpana menyaksikan keramahan para petugas. Walaupun bertubuh besar dan gagah (uhuy!), penampilan mereka tidak membuat takut karena jauh dari kesan sangar dan menyeramkan. Kayak gini aku demen aja keluar masuk deh. Hihi! (Sambil ngelamun seandainya aku pura-pura pingsan kemudian dibantu pernapasan buatan. Huaaa... ngarep!)

Konstruksi baja yang menjulang di puncak Gedung Parlemen baru, diambil dari roof floor, serta Gedung Parlemen lama bercat putih yang berada tepat di seberangnya.

Setelah sekitar 45 menit di Gedung Parlemen, perjalanan dilanjutkan dengan mengelilingi kota Canberra, termasuk memasuki kawasan kompleks kedutaan besar. Terdapat kantor-kantor kedutaan berbagai negara dalam kompleks yang luas tersebut. Saat melalui kantor Kedutaan Besar Cina, semua penumpang berseru penuh kebanggaan, kecuali kami bertiga tentunya. Tak lama bus pun melintasi kantor Kedutaan Besar Indonesia, dan giliran kami bertiga yang berseru norak. Rasanya bangga melihat kantor kedutaan negara kita di negeri orang, padahal biasa banget sebenarnya kan? Tapi rasa memang tak pernah bohong!

Kota Canberra kami tinggalkan pada pukul lima sore, pulang menuju Sydney. Pulangnya kita bertukar bus, bergabung dengan bus perusahaan travel serupa yang akan kembali ke City Entertainment Center, berhubung bus yang kami tumpangi terdahulu akan pulang menuju Hurtsville. Di bus ini kami bertiga—aku, Fika, dan Herlina—duduk terpisah jauh, sehingga perjalanan membuat bete, tidak ada lagi teman ngobrol. Televisi di bus memutar konser Andi Law yang lagi-lagi Beijing banget. Syukurnya di bus ini sang supir tak terlalu talkative seperti William, supir di bus sebelumnya. Jadi sewaktu si supir ini sekalinya ngomong, kupikir pasti penting. Aku bertanya pada ibu yang duduk di sebelahku, tak kusangka si ibu malah tersenyum menunjukkan ketidaktahuannya.

Hah? Jadi ibu itu gak ngerti bahasa Mandarin juga?” tanya Fika sewaktu aku ceritakan.

Bukan gak ngerti bahasa Mandarin, tapi gak bisa bahasa Inggris!” jawabku.

Perjalanan yang aneh namun cukup menyenangkan. Paling tidak aku belajar satu ungkapan dalam bahasa Mandarin: xie xie. Tadinya kupikir xie xie berarti “turun dari bus”, karena supir mengucapkannya saat para penumpang turun dari bus. Sekarang aku mengerti, xie xie ternyata berarti “hati-hati di jalan!”.

41 comments:

Post a Comment

Thanks for your comments, it's an honor.