Untuk memudahkan visualisasi cerita berikut, aku telah menambahkan link yang bisa diklik untuk menjelaskan beberapa istilah yang kurang dimengerti dengan bantuan beberapa blog teman-teman yang pernah membahasnya (ehem!). Mudah-mudahan bermanfaat.
Entah siapa yang menggagas, pada lebaran tahun ini para penduduk Kampung Blagu berkumpul merayakannya bersama-sama. Kampung Blagu adalah sebuah tempat yang sulit didefinisikan secara geografis. Penduduknya pun sulit didefinisikan secara antropologi, karena memang sangat beragam, berbagai ras, bangsa, keyakinan, dan ketertarikan. Hebatnya, orang-orang di kampung ini hidup berdampingan dengan damai, perbedaan yang ada justru membuat mereka saling melengkapi. Para penduduk berasal dari tempat yang berbeda-beda, namun mereka somehow juga berada di kampung ini secara bersamaan. Aneh memang.
Penduduk Kampung Blagu sangat dinamis. Kehidupan mereka tidak dapat diduga. Mereka punya kemampuan menjelajahi dunia. Dimensi ruang dan waktu tak pernah menjadi penghalang. Seperti tahun ini, seluruh penduduk Kampung Blagu merayakan lebaran di sebuah taman yang luas di pinggiran teluk yang indah. Dari taman tersebut terlihat bangunan gedung pertunjukan mirip cangkang keong, serta sebuah jembatan kokoh yang memperantarai kedua daratan di sisi teluk.
Rencananya mereka akan mengadakan piknik, makan bersama di taman yang luas. Tiap orang mempersiapkan diri dengan baik, berusaha tampil sempurna.
Dariel Mamanda, seorang penulis prolific, tampil dalam kemeja biru tegas serta dalaman t-shirt berwarna putih dan jeans hitam. Pakaiannya memang hampir seragam semua: kemeja biru dengan berbagai gradasi, kaos putih, dan bawahan hitam. Dua lemari penuh isinya begitu. Tapi dia punya delapan rak buku yang isinya djamin sangat beragam dan berwarna. Dia datang bersama kepribadiannya yang lain, Leirad Adnamam.
Nobnob si Nyonya Polisi Kampung Blagu tentu saja tampil paling cantik. Dia datang jauh-jauh dari Kota Jambu dengan baroque set yang bikin ngiler siapa saja yang melihatnya. Mau merampok? Jangan coba-coba! Suaminya punya senjata! Rambut keriting Nobnob sudah lurus dan rapi, dia ke salon sebelumnya buat smoothing. Anaknya yang bernama Abam dan Aria menjadi pusat perhatian karena lucu dan cerdas. Saat ada beberapa orang dewasa yang ingin memberi salam tempel lebaran, kedua anak ini menampik, “Jangan, Tante. Mamaku sudah banyak duitnya.” Tentu saja kepolosan bocah-bocah ini membuat sang mama gregetan. “Kenapa nggak diterima aja sih, Nak?” batinnya selalu.
Masing-masing pengunjung juga tak lupa membawa penganan untuk dinikmati bersama-sama. Suhari, seorang guru yang tinggal di dekat sebuah rawa besar bernama Danau Pinggang, datang bersama istri tercinta, Nobe. Mungkin Nobe keturunan Jepang sehingga bernama demikian, namun sangat fasih berbahasa Banjir, bahasa daerah mereka.
“Kaka, ulun malu cuma membawa wadai amparan tatak,” katanya kepada suaminya.
“Wah, kenapa malu, Ading Sayang? Justru wadai buatan pian sangat istimewa karena lezat. Lihat, Mas Dariel Mamanda yang cuma bawa sebungkus Oreo dan sebotol Nu Green Tea aja gak sungkan.”
Ya, Dariel Mamanda memang hanya membawa sebungkus biskuit Oreo. Paginya pikirannya berkecamuk hendak membawa apa, karena dia tak sempat ke toko untuk belanja lagi. Biasa, dia memang super sibuk seperti setan. Jadilah dia hanya mengambil apa yang tersisa dari atas meja kerjanya, sebungkus biskuit Oreo yang sudah sempat dimakan sekeping. Dan sebotol Nu Green Tea perisa markisa!
Barian Syah, seorang dosen di Fakultas Kedokteran, ternyata juga membawa kue amparan tatak, persis seperti bawaan Suhari dan istri. Mungkin karena mereka berasal dari daerah yang sama. Barian Syah datang bersama rombongan teman-teman institusinya. Dia mengenakan jaket Giordano yang keren. Di ajang kumpul-kumpul itu dia bertemu teman lawasnya, Aldi Soemarno, seorang arsitek yang mengaku supermalas. Dan karena ingin mengukuhkan cap itu, dia memutuskan tak membawa apa-apa. Penampilannya pun biasa, dia malas berdandan. Tapi pada dasarnya dia memang sudah tampan, tak perlu lagi berdandan.
Cakra sang mahasiswa Institut Terbaik (m)Bahmu atau disingkat ITB dengan bangga membawa palaibada, kuliner khas daerahnya. Dan tak luput tumis kangkung buatan mandeh. Dia memang suka sekali tumis kangkung buatan ibunya. Biar kata orang kangkung itu bikin ngantuk, dia tak peduli. Yang penting makan tak terasa makan tanpa tumis kangkung, katanya selalu.
Achong, seorang silap yang sedang dalam pencarian untuk menemukan bidadari, tampil menawan. Achong bukan Cina, hanya namanya saja yang mirip. Rambutnya tersisir rapi. Di tangannya tergenggam sekantung mie dari toko tempat usahanya. Dia akan membagi-bagikan mie gratis dalam acara itu. Tentunya dia sudah bersiap-siap hendak menemukan bidadari di sini. Tapi dia tak mau merebut kekasih orang. “Masa-masa itu sudah berlalu,” katanya bijaksana.
Nobnob si Ibu Centil sudah pasti membawa makanan lengkap, berbagai menu tertata di dalam rantang susun lima: gulai jengkol, semur jengkol, rendang jengkol, balado jengkol, dan tak lupa keripik jengkol. Lengkap sekali, namun semuanya kuliner variasi jengkol. Ibu muda ini memang suka memanjakan orang dengan jenis masakan berbahan utama jengkol.
Soel, pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan komputer, datang membawa makanan sisa berbuka puasa di Hotel Pusara. “Makanan sisanya banyak, sayang dibuang,” alasannya. Soel tentu saja sangatlah tampannya. Dia suka memotret-motret dirinya sendiri karena sadar akan kelebihannya itu. Dia datang bersama teman satu daerah, Frans. Pemuda yang terakhir ini juga suka sekali memotret dirinya. Hobinya mengulik-ulik komputer sampai satu website ngaco dibuatnya, sehingga tak bisa dikunjungi lagi.
Indina, yang punya latar belakang pendidikan di luar negeri, membawa ketupat (instan), namun lengkap dengan ayam opor dan rendang (bumbu instan). Wanita imut ini senang memasak. Temannya Ani, nama lengkapnya Utani, juga ikut. Dia membawa enam potong lumpia. “Ini resep Indina,” katanya menjelaskan. “Cara memasaknya gampang: goreng lumpia di dalam minyak panas.”
“Lha, cara membuatnya?” ada yang bertanya, sudah siap-siap dengan kertas catatan di tangan.
“Wah, tinggal buka kemasan plastiknya aja kali! Ini kan lumpia instan. Where have you been?”
Semua telah berkumpul. Acara pun dimulai. Samali yang terkenal arif membuka pertemuan dengan kata-kata yang bijak dan menenangkan. Sosok guru ini memang dikagumi. Beliau selalu bisa membaur dengan siapa saja, pengetahuannya hebat, padahal hanya seorang guru bahasa di daerah terpencil. Tapi tanyalah beliau apa saja, pasti bersambut diskusi yang mencerahkan.
Setelah kata sambutan yang singkat namun padat, Samali melontarkan ide kepada hadirin. “Para hadirin, untuk mengisi acara libur panjang lebaran ini, aktivitas apa kira-kira yang bisa kita lakukan sambil tetap bisa memelihara silaturrahim di antara penghuni Kampung Blagu? Tapi sebelum diskusi ini kita mulai, ada baiknya kita tak mengaktifkan dering telepon genggam agar tak mengganggu... Nah, ada ide, Rekan-Rekan?”
Dariel Mamanda mengangkat tangan, “Berhubung perpustakaanku masih berantakan, gimana kalau kita sama-sama membenahinya? Semua boleh membaca, asal jangan bawa bukunya pulang. Nanti susah aku memintanya kembali.”
“Wah, Sampeyan gimana sih?” tokoh panutan Kampung Blagu, bernama lengkap Ertis Virmasyah Abrar menyahut. Tokoh yang satu ini lebih sering dipanggil dengan singkatan EVA, lucu memang mengingat beliau adalah seorang lelaki. Beliau datang bersama para mahasiswanya yang katanya perlu dapat apresiasi karena baru menulis buku ajar Sosiologi. “Kegiatan ini jangan sampai menguntungkan pihak-pihak tertentu secara pribadi, dong! Usul saya, bagaimana kalau kita adakan lomba menulis saja, karena saya lihat semua kita gemar menulis. Itu kan kenapa kita semua ada di Kampung Blagu. Perkara hadiah, biar dari saya deh! Saya punya banyak buku buat dibagikan. Bagaimana menurut Sampeyaaaan...?” kata Pak EVA lantang meminta persetujuan hadirin.
“Setuju, aku setuju itu!” imbuh Dariel Mamanda. “Maaf soal ideku yang tadi. Aku pikir menulis itu bukan bakat, tapi latihan. Kalau kita terus berlatih menulis, kita akan piawai dalam menganyam kata!”
“Ya, bener, Mas Dariel! Saya akan menulis cerita suspense horor!” tekad Suhari. Istrinya tersenyum-senyum. “Kaka memang suka sekali cerita horor, film horor, menulis horor. Padahal Kaka kan tau ulun penakut.”
Suhari memandang istrinya penuh kasih, “Ading Sayang, kalau Ading takut kan bisa memeluk Kaka saja. Hihi!”
Achong tersipu-sipu menyaksikan kemesraan keduanya. Tekadnya untuk segera menemukan bidadari semakin tak terbendung.
“Saya akan menulis resensi film dan sinetron Indonesia!” kata Soel lantang.
Dariel manggut-manggut, kemudian menambahkan, “Ngemeng-ngemeng soal film, aku juga suka kalau kita adakan menonton bareng, film Beautiful Brain! Bagus banget! Sudah ratusan kali kutonton.”
“Yee... kalau udah ratusan kali ngapain lagi? Film yang lain lagi dong!” tolak Ubanovsky, pemuda yang suka protes. “Lomba menyanyi saja! Aku suka menyanyi! Aku sudah beberapa kali rekaman. Memang rekaman sendiri di studio sendiri pake dana sendiri sih. Hihi...”
“Saya lebih suka lomba memancing!” lain lagi usul Talisuci. Lelaki ini hobi sekali memancing. Dia bersedia menghabiskan waktu di atas perahu di tengah gelombang laut demi memenuhi hasratnya yang menggebu-gebu untuk memancing itu. Suatu kali Talisuci sakit, hingga ia bertekad untuk berhenti merokok.
“Bagaimana kalau lomba memasak?” kata Indina. “Eits, tapi gak boleh jengkol dan atau dimasakin pembantu!” ucapnya segera begitu melihat Nobnob hendak buka mulut.
“Yee... gak boleh masakan instan juga kaleee...” Nobnob tak sudi mengalah. Indina mencibir.
“Saya kok lebih suka lomba menulis puisi, ya?” kata Zulbasri, seorang guru yang baru berputra satu dengan suara pelan. “Saya suka sekali puisi,” sambungnya malu-malu.
“Wah, gak perlu malu, Pak Zul!” sahut Cakra. “Saya suka kok baca puisi Bapak. Tapi saya lebih suka kalau kita lomba membuat tulisan sejarah dan sejarawan Indonesia seperti Bung Hatta.”
“Lomba mengaji saja. Atau belajar mengaji. Istri saya bisa bantu mengajar bagi yang belum bisa,” usul Viron, orang Minang yang punya surau warisan kakeknya.
“Wah, usul yang bagus tuh!” puji seseorang. Pak EVA mengangguk-angguk di tempatnya.
Adham Fishy (entah kenapa namanya demikian, mudah-mudahan bukan karena baunya seperti ikan), juga mengajukan ide yang segera disambut hangat oleh beberapa orang pemuda lain, “Lomba main PS!”
“Bagusan lomba webdesign dong!” kata Heru Azzura, seorang computer programming dari Pulau Dewata. “Aku udah pernah memecahkan rekor bikin desain dalam 36 jam non-stop loh!” bangganya.
“Aku kok pengennya kita mengadakan lomba balap mobil aja, ya?” Ide lain lagi muncul dari Bobin, seorang mahasiswa baru yang senang sekali ngebut. Wah, padahal pemuda satu ini terkenal bijaksana di kalangan teman-temannya. Tapi urusan di belakang stir mobilnya yang diberi nama Val, dia tak bisa kompromi, musti ngebut!
“Haks... Jangan! Bahaya!” tolak Samali mentah-mentah. Guru yang bijaksana ini tak mau ajang silaturrahim jadi malah membahayakan.
"Ya, lagian saya gak bisa nyetir," kata Ibu Emmy lirih. "Menyetir mobil, sulitkah?"
“Mendingan acara pendidikan seks, judulnya Improve Your Sex Life, biar saya pembicaranya,” usul Dokter Randi, yang senang berbagi tips soal kehidupan seksual yang sehat.
Ichal, Ndra, Dyon, serta Topik yang suka merasa diri gendut, semuanya mahasiswa, langsung merespon dengan tersenyum ngeres. Yang sudah menikah hanya senyum-senyum simpul, malu-malu.
“Gak pa-pa, kan? Justru bagus, biar kita lebih ngeh. Seks itu dari sudut pandang kedokteran memang menyehatkan dan karenanya musti dijalani dengan sehat. Bener kan, Dok?” kata Ika, seorang mahasiswi kedokteran tingkat dua yang cantik, meminta persetujuan Dokter Randi.
“Saya berpikir dalam suasana lebaran ini kita musti meningkatkan kepedulian sosial kita terhadap masyarakat yang kurang mampu, seperti anak-anak jalanan,” Iboe, seorang pemuda pemerhati anak jalanan berkata dengan hati-hati. Namanya memang aneh, karena kalau dibaca menjadi Ibu. Yumi, seorang ibu yang sedang mengandung anak ketiga berusia 4 bulan tersenyum menyetujui. Dia suka ide kepedulian sosial, terutama soal anak. Dia jadi ingat kedua anaknya yang sudah lama tak bertemu karena dia harus menuntut ilmu di negeri seberang. Air matanya menetes haru. Ibu Emmy yang sedang rindu dengan putranya yang merantau ke benua yang jauh juga ikut sendu. "Si Sulung gak bisa pulang lebaran ini," katanya lirih.
“Ide apa pun terserah, yang penting semuanya akan disiarkan melalui radio saya!” janji Pakle, nama aslinya Pak Lekry, yang memang bekerja di sebuah stasiun penyiaran terkenal di Kota Jambu.
Banyak sekali ide yang tertuang. Semua ide brilian, namun sayangnya hanya satu yang bisa diakomodasi. Semua terdiam, berpikir. Di tengah keheningan, tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon, mengganggu sekali bunyinya. Semua menoleh ke asal suara. Di kejauhan, sengaja duduk menyendiri, Mas Melo yang bertampang garang namun ternyata mudah sedih alias melo itu, terkantuk-kantuk di atas kursi. Dia memang makan banyak sekali, kalap melihat berbagai penganan yang disajikan. Tiga piring dihabiskannya sendiri. Badannya yang tegap seperti kuli angkut dermaga Tanjung Priok hampir terjatuh dari kursi yang kecil, miring ke kanan, miring ke kiri. Dari arah duduknya itulah suara telepon yang mengganggu itu datangnya.
Semua orang memandang Mas Melo dengan sebal. Padahal dari awal sudah diingatkan agar telepon genggam jangan diaktifkan deringnya. Lebih mengesalkan karena saking mengantuknya dia sampai tak kuasa menggerakkan tangan untuk mematikan suara yang bikin meradang itu. Kriiiingggg.... kriiiiingggg... sangat tak enak di telinga. Entah kenapa haregene masih ada telepon genggam yang deringnya seperti itu.
Kriiiingggg.... kriiiiingggg... Suara itu terus mengusik alam bawah sadar yang diselimuti rasa kantuk. Suaranya tak mau berhenti, ngendon dengan bandel di otak. Dengan terpaksa, menggerakkan seluruh kekuatan...
“...Haloh...?”
“Woi, jangan lupa kelas sore ini! Jangan tidur mulu!” suara temanku di seberang.
Ternyata aku bermimpi sepanjang tidurku yang nyenyak siang tadi. Mungkin karena saking nyenyaknya, aku langsung lupa isi mimpiku saat terbangun, hingga tak bisa kuceritakan lagi. Wah, mimpi apa ya tadi? Sepertinya mimpi yang sangat menyenangkan tentang orang-orang yang kukenal entah di mana.

Disclaimer:
Cerita di atas adalah fiksi semata.
Bila ada kemiripan tokoh dan karakter dengan kejadian sebenarnya, itu adalah di luar kesengajaan dan tanggung jawab penulis.
Kepada pihak-pihak yang mungkin merasa tersinggung, penulis tidak berniat menyinggung siapa pun. Suwer!
Mohon dimaafkan lahir dan batin aja dong.
Kan masih lebaran? *kedip-kedip*
Wakakakakakakkkkkkk........!!!!!!!!!!
Aku ngakak nggak habis-habisan mbaca cerita ini.
Wakakakakakakkkkkkk........!!!!!!!!!!
Marshmallow dodoooooooooolllllllll..........
Wakakakakakakkkkkkk........!!!!!!!!!!
Keren!!! Keren!!
Wakakakakakakkkkkkk........!!!!!!!!!!
Dan Dariel Mamanda? Wakakakakakakkkkkkk........!!!!!!!!!!
Dodol banget deh kamu!
Bagaimana menurut Sampeyaaaan...?
Wakakakakakakkkkkkk........!!!!!!!!!!
Ketawa lagi ah, Wakakakakakakkkkkkk........!!!!!!!!!!
Idenya segar!
Sialnya ide ini sebetulnya hendak kupakai untuk cerita keduaku, lanjutan dari cerita "Sebuah Tempat Bernama Cinta", di mana aku memasukan kawan-kawan blogger secara fiktif di cerita itu nantinya. Tapi kok "dicolong" sama Marshmallow! Hhh!
Tapi aku masih saja ngakak mbaca cerita ini berulang-ulang. Wakakakakakakkkkkkk........!!!!!!!!!!
Leirad Adnamam? Lho, kok saya ada di situ, Mbak? Ihh.. si Mbak ini.
sebuah fiksi yang menarik dan berimajinasi tinggi. sungguh bukan hal yang mudah utk membangun sebuah setting lengkap dengan karakter orang2nya yang khas. apalagi, narasi ini, diakui atau tidak, menggambarkan sebuah komunitas di dunia maya. butuh kejelian dan kecermatan tersendiri dalam menggambarkan sosok orang yang di-review. hebatnya, mbak yulfi sanggup melakukannya dengan baik hingga membuat dahi saya berkerutan saking kagumnya, haks. pemlesetan nama yang dimirip-miripkan, dalam penafsiran saya, juga dimaksudkan untuk menggambarkan karakter orang yang selama ini mbak yulfi temukan di dunia maya sehingga menimbulkan citraan tertentu. wew... kalau boleh ge-er, ternyata saya termasuk bagian dari masyarakat blagu juga, haks. baru kali ini saya membaca sebuah kisah secara online sampai 3 kali, saking terpesonanya. wah, salut, salut.... aku berani memberikan nilai narasi ini 99,99, hehehehehe ....
@DM:
woi, sadar, DM!
ngakak terus, ih!
lagian aku kan gak nyolong, aku juga baru nulis siang ini, gak tau kalau kamu niat ide yang sama.
gpp kan, tetap ditunggu koq kelanjutan kisah "sebuah tempat bernama cinta" dengan penasaran.
pasti bakal beda, dong.
satunya karya penulis profesional hebat, satu lagi karya amatir yang newbee.
ps. pengarang yang hebatnya itu boleh jadi aku kan, ya? wakakak...
becanda. aku tentu yang newbee-nya, DM.
bagaimana menurut sampeyan?
@leinad adneham:
masak sih bung leinad ada di situ?
perasaan aku gak tulis nama siapa pun yang aku kenal deh.
@sawali tuhusetya:
pujiannya bikin saya gak kuat banget, pak.
itu sih karangan sederhana untuk lucu-lucuan aja.
kalau memang mau mengakui ada niat tertentu, saya ingin bahwa para pengunjung blog ini, yang belum tentu saling mengenal, jadi ingin berkelindan dari sini, membawa rasa penasaran untuk berkenalan.
dan kalau lagi nih, cerita di atas ditujukan untuk komunitas maya tertentu yang saya kenal, tentu saja anda ada di sana, pak sawali!
dan itu semua adalah kalau.
makasih loh pak udah baca berulang-ulang, saya gak keberatan kok dikopi saja, biar irit akses.
Komen dolo.. bacanya entar hehehehhe
aha...
wanna be a standing commedian? success enough mam... :)
Hilariously funny n creative...
Btw, tokoh "Barian Syah" mirip banget lho dengan temen saya yg juga dosen kedokteran, (juga) kolektor jaket Giordano :P
jengkol? kykny nobnob msti brhati2 dg mslh batu d sal.kmihnya (bnr g? tkut slh, hehe)
bikin sakit perut, bukan karena apa2. Tapi karena menahan lucu, meringis menahan ketawa karena membacanya di warnet.
wakakakakakakakakaka.........
sumpah meringis abis, apalagi yang ada jengkol itu
wakakakakakakakaka
hati2 lho uni, ntar ada yang marah lho........
wakakakakakakakakakaka
@kancuters:
iya, boleh, boleh.
untuk fanz apa sih yang nggak?
@bakhrian:
standing comedian?
sitting one or typing comedian aja kali, be.
aku kurang suka berdiri lama-lama, varises. hehe!
@supalazy:
wah, ada yang mirip teman ente rupanya?
yang mirip ente ada gak?
eh, gak perlu repot lagi nyari info tambahannya, li, udah aku kasih link tuh!
@ikeys:
wah, kalau urusan batu saluran kemih mah mendingan, cuman urusan sendiri doang, ke.
yang masalah kan yang menyangkut ketentraman hidup orang banyak.
wakakakak!
ah, lagian cerita ini fiktif doang kok.
@catra:
siapa yang mau marah, cat?
kan ceritanya fiktif.
lagian semisal mau dikaitkan juga ada justifikasinya kok.
hihi...
lumayan tuh nyari link buat info-info tambahannya, jauh jalan uni semalaman, ngoprek-oprek blog orang sekampung.
astaga naga. sejak kapan nama saya berganti Zulbahri oiii.....
He he...
Ide yang segar uni. Membaca ceritanya bikin sakit perut. Habis ketawa aja. Ketawa sendiri lagi.
Onde Uni, mano ubek sakik paruiknyo?
kira-kira tuh mimpi bisa diwujudkan ndak ni? Para blogger ngumpul di kampung blagu (baconyo balagu)?
Kemaren coba sampai 5x tapi ga bisa komeng? knp yah? Ayooo kita ngumpul di kampung Blagu...Indina dan Ani mirip 2 sosok manis yang kukenal :)
hahahahahahahahaha...
lucuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu....
mba, kenalan yaaaaa....
chandra nih...salah satu fansnya (hueks!) mas daniel...
Wah... suatu prosa yang cantik, disusun dengan penuh kelihaian :D
Membaca cerita ini ga cukup kalo hanya membuka blog ini aja, tapi harus juga membuka semua link yang disediakan di cerita dan membacanya satu persatu untuk lebih menghayati karakteristik masing-masing karakter... :D
Aih, aku juga ada di prosanya... Tapi tenang mbak, aku ga akan minta honor kok... Jadi kalo mau ngemunculin aku di cerita-cerita mbak selanjutnya silahkan saja *ngarep* :D
Hahaha iya, lucu. Ngakak abis
@zulmasri:
yee... gimana sih, pak zul?
perasaan saya gak nyinggung-nyinggung pak zul deh.
*sambil ngasih obat sakit perut*
oh, jadi para blogger pengen bisa berlebaran ala kampung blagu juga, ya?
ntar deh kita usulkan.
(usulkan ke siapa ya? presiden? oh, menkominfo aja! hihi!)
@indira:
nah, kenapa gak bisa?
sampai 5x pula? wah... wah... *geleng-geleng kepala heran*
mau ngumpul di kampung blagu, hayuuu...
dua sosok manis yang mana, in?
wakakak... ge-er banget!
@ano a.k.a. chandra:
wah, berarti kita sama dong, chand, pengagum (hoekkk!!!) mas daniel mahendra.
hidup kita!!!
@bowbee:
makanya disediakan tautannya, bob, biar bisa lebih menghayati.
tapi aku gak bilang kalau itu berarti aku menceritakan tokoh yang ditaut loh, ya?
hmm... jadi kamu gak minta royalti.
ya iyalah, kan aku gak nyeritain siapa-siapa di sini, dari mana royaltinya?
dari hongkong? aneh!
@uchan:
tumben gak protes, chan?
kompor, mana kompor?
wakakakak...
Bagaimana menurut Sampeyaaaan...?
Wakakakakakakkkkkkk........!!!!!!!!!!
huahuahuhuah nama saya soel :) nama yg bagusss,, masak si ganteng hauhauhauhau
Ha..ha...ha......
Danau Pinggang?
Bahasa Banjir?
(Trus kamu juga pakai beberapa kalimat dalam bahasa banjir, dalam percakapan nobe-suhari. empat jempol buat kamu!!!)
Kami ketawa membacanya marshmallow. Lucu sekali. Kocak abiz!!!
Liat tu si dariel, juga gak bisa brenti ketawa.
Aku bisa banyangin bagaimana sang guru samali dengan kebijakannya, ha..ha...ha...... Trus si achong, cakra, dan karakter-karakter lainnya. Cool!
bikin lagi cerpennya ni :D
*turun dari ojek*
"Wah rupanya ini toh yang namanya Kampung Blagu.."
*memandang berkeliling*
"A-ha.. pasti itu orangnya"
*melihat sosok mas melo, yang kepalanya berasap karena ide-ide yang nggak pernah habis*
*Menuju mas melo, jabat tangan kuat-kuat*
"Mas.. Mas.. minal aidzin wa faidzin ya.. "
hahahahahahaha hahahahahahahah hahahahahaha
hahahahahahaha hahahahahahahah hahahahahahah
NGak kebayang gimana uni saat nulisnya...pasti ngakak habis ya..... wakakakakakakakaka
GOKIL BANGET............bikin sinetron bagus niy...hahahahahahahahahahah
NGebaca comment para teman juga lucu lucu....lho kok semua pada lucu ya..........
hahahahahahahahahahahahahahaha
hahahahahahahahahahahahahahaha
Hidup Kampung Blagu.................
Ha ha ha Wakakaaaaaaaaaaaaak ... ada-ada azza, kreatif. Tu kan, ide dan polesan menulis itu bisa dari apa dan mana saja. Dah makrifat nich.
Oh ya, saya pernah bikin cerpen sungguhan 'mencatutu' nama-nama bloger ( http://webersis.com/2007/12/24/universitas-kolam-ikan/ ). Asyik juga kali kalau dilombakan.
Bagaimana menuerut Sampeyan?
@DM:
hus! ngakak mulu, ih! hap!
@zoel:
sejak kapan nama zoel berubah jadi soel?
aneh!
@suhadi:
wah, ada suhu dan mbak nove.
mari, mari, silakan duduk.
bawa oleh-oleh apa dari danau panggang?
ah? wadai amparan tatak?
wah, saya suka sekali. makasih ya? buatan sendiri pasti?
idih, kedip-kedipan mata gitu. mesra amat sih?
hihi!
@fanz:
tambuah ciek!
yee... abisin dulu baca cerpen-cerpen yang lain atuh.
masih ada tuh di bawah, scroll down, deh.
(deeuuu... katanya gak suka baca posting yang panjang. gimana sih? hihi...)
@taliguci:
sshh... jangan ribut, mas melo lagi tidur.
dia itu makannya gembul, tidurnya banyak.
(mas melo terbangun, meraih jabatan tangan taliguci sambil menguap lebar.
"hoaahmm... he-eh, maaf lahir dan batin juga, ya? zzzz...")
tuh, kaan... kamu ngganggu tidurnya aja sih, ky.
kalau terbangun dia minta makan lagi ntar.
@imoe:
wah, kalau ngetiknya sambil ketawa ntar gak kelar-kelar dong, moe.
iya, hidup kampung blagu, euy!
(kampungnya blagu, orang-orangnya juga blagu banget!)
@pak ewa:
hihi...
ada pak ewa rupanya, terpaksa komen balasan saya ulang biar masuk di sini.
pak ewa ada cerpen yang sama rupanya?
wah, ketinggalan saya.
ntar saya unduh.
dibikin lomba? trus hadiahnya buku-buku pak ewa kan?
haha! kalau menurut saya: setuju!
ihik...walaupun sekelebatan, dirikyu ternyata ikut nebeng juga oi! Ibu dokter meni pinter euy...
Bisa aja...
cerpennya asyik juga...
Met Lebaran juga....
Maaf Lahir Bathin....!
Waduh, kayaknya saya kenal deh para tokoh di cerita itu. Apalagi yang namanya Topik itu, sepertinya pernah ketemu...hehehe
gak bosam-bosan bacanya un
numpang ngakak ya un........
hahahahahaha
met lebaran ya un, di kampung blagu.....
Eh, kayanya saya kenal bahasa BANJIR itu...
Umay rasa badingsanak kita... :D
@utami:
yakin ada ami di situ?
perasaan gak ada deh. itu kan fiksi.
sek, aku cek lagi. kalau ada aku hapus ya?
hihi!
@ammadis:
bisa dong...
maaf lahir dan batin juga.
@orangndut:
wah, hebat dong pernah ketemu tokoh fiktif.
aku aja pengen banget ketemu semua tokoh itu, tapi gimana dong? gak eksis sih.
@catra:
iya, silakan, cat.
lima kali baca dapat payung warna-warni, lho.
ada tuh yang udah dapat.
@manusia super:
mansup a.k.a. fadil! (baru ngelirik blognya soalnya. hihi!)
kayaknya kenal?
kita dasar badangsanak sanagara kalu.
salam kenal, dangsanak!
ahuahua....just can't stop smiling...*ketawa sinchan*
curang...namaku ga di link....hikshikhss...
Ha ha ha Siip.
my one-and-only-one-word comment:
"huaduh"
"keren"
mbak, ta usulin masuk di empat mata nya tukul aja ya??
juga rekor muri sebagai expert tropmed dan juga penulis lucu.. hihihi.
lanjut...!!
Dari kemarin komentarku ga bisa masuk...mudah2an kali ini bisa.
Aduh...saya geli sekali, betapa pintarnya menilai masing-masing blogger hanya dari tulisannya.....dan saya kira nyaris tepat. Atau karena dokter ya, bisa baca karakter orang dari tulisan?
eh.. di kampung blagu ada yang namanya Fishy ya?? hmmm keren juga.. Jonathan Fishy.. hihihi.. pasti tampangnya keren juga.
wuihh... panjang amirrrr
hahahahahahahahaha wahhhhh daku telat baca nya nih maklum baru pulang kampung....duhhhh eike mau GR dikit ahhhh udah kesebut jadi salah satu pemeran di kampung blagu.....sapa lagi sih yg punya baroque set,abis di smoothing and doyan jengkol kalo bukan sayah?...hahahahahaha, eh kelupaan....punya anak adam and arya and punya suami bersenjata hahahahahahaha...salut deh bu dokter!!!!
Btw, nggak tersinggung kok...jadi gak perlu minta maap.....
@kotaksurat:
idih, malah bangga masuk warga kampung blagu yang norak banget.
let me guess, kamu menyamakan diri sama salah satu mahasiswa yang ngeres itu, kan?
ngakuuu... ngeres kan?
@pak ewa:
iya, pak, makasih.
udah dua kali loh.
@andi sugiarto:
"haduh" dan "keren" bukannya dua kata, bang?
aih, abang ini.
lagian masak saya dibilang mirip tukul, eh apa tadi?
*pura-pura gak ngerti pertanyaannya, pokoknya bangga aja dibilang mirip artis*
makasih ya, bang?
@edratna:
gpp, bu enny. saya udah baca email ibu kok.
cuman belum sempat balas aja, abis banyak tugas. *alasan, padahal ngerjain tugas selalu last minute*
tulisan justru sangat membuka kepribadian seseorang kan, bu?
jadi gak perlu dihubungkan dengan profesi deh kayaknya, ibu juga pasti bisa membaca karakter setiap pemilik blog dari tulisan masing-masing.
tapi ini kan bukan tentang para blogger, bu.
@fisha:
fishy?
ada apa dengan fishy (AADF)?
bau gitu?
@wempi:
siapa suruh baca semua.
kalau mau singkat, baca aja kesimpulannya noh di paragraf terakhir: bahwa tulisan ini mimpi doang!
gak penting banget kan?
makanya ngapain dibaca? iseng amat wempi mau tau mimpi orang! hihi!
@jengkol mania:
huahahahahah... ngakak!!!
haduh, rupanya si dia itu situ ya, jeung?
iiihh... kok mau-maunya sih disamain sama si tokoh itu? kan norak banget orangnya!
ahahahahahah....
aduuhhhh... sekali ini aku yang sakit perut dibuat pembaca.
aduuhhh... tolooongg... nangis deh aku, kram nih perut dibuatnya.
hihihi... *ngakak gak brenti-brenti*
wew... aku sempat baca postingan mbak yulfi tentang nonton baring warga kampung belagu lewat google reader, setelah berkunjung ke sini saya ubek2 kok nggak ada, hehehe ... kenapa?
idem pak sawali. gak ada tulisan nonton barengnya uni. nonton film gelap di kegelapan malam ya ni? he he
Iya nih, sempat dapat tautan via blog tentang tulisan itu. Tapi begitu di-klik nggak tertaut kemana-mana. Kenapa nih...
mampir lagi ah........ baca2 komen orang hohohoho
Saya kok ketagihan mampir di sini ya? hihihi. Enak, ada kopinya... double esspresso.. dijamin melek..
@sawali:
kalau nonton baring warga kampung belagu memang tidak ada, pak.
pak sawali pinter juga loh main plesetan.
hati-hati kepleset beneran loh, pak, licin!
*sambil masang pengumuman: awas lantai basah, baru dipel!*
@zulmasri:
nah, udah saya jelaskan di pos terbaru, pak zul.
@DM:
hehe!
@catra:
rajin bana, sutan?
baraja lai sarajin tu?
@andi sugiarto:
wah, ada yang ketagihan.
terpaksa dibawa ke pusat rehabilitasi medis, nih. hihi, maksa.
gpp kok, bang, gak dilarang.
silakan aja, mudah-mudahan double espresso-nya pas ya?
ondeh mandeh... rancak bana carito uni ko... cerdas dan kreatif. maaf, baru sempat mampir hari ini, keenakan liburan sih... hehehe... :)
oya, saya punya usul nih, gimana kalau kampung blagunya diwujudkan beneran. ya, semacam komunitas maya gitu. seru juga kayaknya, apalagi kepala sukunya kita angkat sang bundo kanduang: uni marshmallow, eh... hemmayulfi... SETUJU saudara2...? :)
@vizon:
lamak bana liburnyo, yoh?
eh, gak usah usul yang macam-macam deh, da.
apalagi pake melibatkan saya segala.
ntar diaminkan malaikat, bahaya! (bukan bahaya bagi saya, tapi bahaya bagi komunitasnya: kacau ntar)
yang jelas kalau kampungnya ada, da vizon yang selalu tugas baca doa, ya?