I swear, this is a very long entry, my second prose fiction. Unless you have an unlimited internet access, I suggest you to read it offline or copy paste it on to your computer. But anyway, whatever!
“Dok, pasien trauma di ruang UGD!” kata Rosa, perawat yang sedang bertugas di Unit Gawat Darurat. Aku sudah tengah melepaskan pakaian dinas sore itu di ruang ganti. Tanpa banyak tanya, aku bergerak ke ruang dimaksud. Sementara berjalan kulirik arloji di pergelangan tangan kananku. Sudah lewat pukul tujuh. Aku janji makan malam dengan Heru tepat pukul delapan malam ini.
“Dokter Indra belum datang?” Mustinya sudah, ia yang menggantikanku di giliran jaga berikut.
“Sedang menangani pasien juga, Dok. Ada pasien intoksikasi di ruang sebelah.”
Kulihat pasien yang terbaring di atas kereta dorong di ruang trauma itu. Perempuan usia awal tigapuluhan sepertinya, riwayat trauma akibat tindak kekerasan dalam rumah tangga. Kepalanya robek akibat benturan dengan benda tumpul, mengeluarkan banyak darah. Lengannya terkulai di sisi tubuhnya yang lunglai. Tungkai kanannya bengkok di bagian tulang kering. Lebam terlihat di beberapa bagian tubuhnya. Kulihat catatan pasien di atas meja. Berdasarkan nilai GCS, tekanan darah dan pernapasannya kuhitung skor traumanya. Pasien ini mengalami trauma sedang. Penanganan perlu segera dilakukan, terutama untuk mengatasi perdarahan dan mencegah renjatan lebih lanjut.
Kuminta perawat mengambil beberapa obat penanganan renjatan. Infus sudah terpasang. Perdarahan hebat. Kecepatan infus diguyur. Kuperiksa luka dan ekstremitasnya. Luka robek di kepalanya cukup dalam, namun sepertinya hanya sebatas kulit, tak mencapai duramater. Yang lebih meresahkan justru tungkai kanannya. Agaknya fraktur tertutup, namun dari gambaran bengkoknya kelihatan seperti complete fracture. Kulitnya lebam namun tidak ada luka terbuka. Kuperiksa seluruh tubuh, mengamati lebam dan mencari tanda-tanda perdarahan organ dalam.
“Lakukan foto rontgen kakinya, aku akan jahit luka di kepalanya!”
Perlu sekitar tigapuluh menit bagiku untuk menjahit luka-luka demi menghentikan perdarahan dan memastikan pasien stabil. Sementara itu dokter bedah ortopedi telah dipanggil untuk melakukan penanganan terhadap patah kakinya. Aku sudah bisa pulang sekarang. Ada kencan yang sudah terlambat kuhadiri. Heru pasti sudah menungguku di sana.
Sepuluh menit kemudian aku sudah berada di belakang setir, mengendarai mobil dengan kecepatan paling tinggi yang memungkinkan di jalanan yang ramai. Malam minggu begini jalanan di kota cukup macet buat bisa mencapai tempat yang kutuju dengan mudah. Kucoba menelepon seluler Heru, tak ada yang tersambung.
Betapa tak sabar aku untuk bertemu Heru. Kukenakan baju hitam panjang yang dibelikannya suatu saat di ulang tahunku. Gaun hitam yang manis dan sederhana. Ingatanku melayang ke tiga belas tahun yang silam.
Waktu itu di sebuah rumah sakit pendidikan di Jakarta. Aku masih seorang residen Ilmu Bedah yang sedang bertugas di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), saat itu sedang menangani seorang pekerja pabrik yang tangan kanannya terjepit mesin grinda. Di saat yang bersamaan empat orang pasien lain masuk, kecelakaan lalu lintas. Ruang IGD yang tak begitu luas pun hiruk-pikuk dengan para pengantar. Saat itu ekor mataku menangkap sekelebat bayangan lelaki tinggi berjalan menuju pintu masuk. Kuperhatikan penampilannya berbeda dari kebanyakan orang yang sedang ramai di dalam ruangan. Dia rapi dan bersih. Begitu simpatik. Dia melirikku sekilas, tersenyum. Perhatianku sesaat terpecah, dan kaget ketika merasakan sesuatu yang basah dan hangat tersembur di wajahku. Luka dari pasien yang baru masuk menyemprot ke arahku. Arteri pecah! Aku pun kembali memusatkan konsentrasiku kepada pasien yang menumpuk, mengarahkan beberapa residen junior dan mahasiswa kedokteran, melupakan distraksi yang menyenangkan sesaat tadi. Saat-saat seperti ini benar-benar memicu adrenalinku.
Esoknya aku melihatnya lagi, pria di IGD itu. Kali ini ia berdiri di dekat Ruang Bersalin. Dia kelihatan tak tenang, bahasa tubuh yang kerap ditampilkan para suami yang tengah menantikan proses kelahiran sang buah hati. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa kecewa. Dia berjalan ke arahku, agak gugup.
“Maaf, saya sedang mencari Dokter Deri Handoko...” Matanya tajam walaupun tetap terkesan ramah. Eye contact. Ah, aku suka orang yang melakukan kontak mata saat berbicara, percaya diri.
“Oh, Anda siapa?” Aduh, pertanyaanku bodoh sekali. Koq aku jadi gugup bagini? Tentu saja dia keluarga pasien yang tengah mencari dokter kandungan buat menolong istrinya.
Belum sempat aku menjawab, sang dokter yang jadi pembicaraan telah tampak berjalan menuju tempat kami berdiri. Aku menunjuk dengan arah pandanganku, diikuti si pria. Keduanya lantas saling menyapa dan berjabat tangan dengan hangat. Sekejap kemudian mereka terlibat pembicaraan, meninggalkanku terdiam salah tingkah. Pria itu melongokku sebentar, mimiknya memperlihatkan ungkapan minta maaf atau sebangsanya. Aku pun melanjutkan perjalanan menuju ward bedah.
Entah bagaimana suatu siang dalam minggu yang sama pria ini muncul di depan ruang residen, mencari Dokter Maia katanya kepada temanku. Dan saat melihatku, dia tersenyum. Mengucapkan maaf sekaligus terima kasih karena telah mempertemukanku dengan Dokter Deri Handoko.
“Setidaknya terimalah maaf saya karena lupa berterima kasih saat itu.”
Aku mengibaskan tangan. “Ah, biasa saja... Ngomong-ngomong, bagaimana kabar istri Anda?” basa-basi. Pastilah istrinya baik-baik saja, dan bayinya luar biasa cantik. Kalau tidak, tak mungkin wajahnya sumringah begini.
“Istri saya?” keningnya berkerut. “Ah, hahahaha... saya ketemu Dokter Deri bukan karena istri saya melahirkan kalau itu maksud Anda.” Tertawanya renyah dan menular. Aku pun ikut tersenyum, sebagian karena malu telah sekenanya menebak, namun lebih karena ketularan tawanya yang renyah itu.
Dia bernama Heru, seorang arsitek yang mengerjakan proyek pembangunan beberapa sayap tambahan rumah sakit ini, perluasan dari bangunan yang telah ada. Dia menemui Dokter Deri, kepala proyek yang kebetulan seorang obstetrisian itu, untuk membicarakan masalah proyek dimaksud. Sudah dapat ditebak, aku tak sulit untuk jatuh hati pada Heru. Gayung bersambut, dan tak sampai setahun kemudian kami sudah duduk di depan penghulu mengucapkan ijab kabul.
Pernikahan yang manis. Aku mencintai suamiku dengan sepenuh hati. Waktu berlalu, satu tahun, tiga tahun, lima tahun. Kami saling mencinta, itu tak terbantahkan. Tapi sejauh itu, belum ada tanda-tanda kehadiran buah hati di dalam kehidupan rumah tangga kami.
Awalnya kami masih rajin mencari solusi, namun setelah melewati tahun kelima kami pun mulai apriori. Sebagai kompensasi, kami membenamkan diri dalam kehidupan karir yang kian menanjak. Heru membangun biro konsultasi arsitekturnya sendiri, meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja sebelumnya. Dia tergila-gila dengan pekerjaan dan perusahaannya. Aku juga menghabiskan hampir seluruh waktuku bersama para pasien, sengaja menekuni jalur Emergency Medicine yang senantiasa merangsang limpahan adrenalin itu. Heru bisa dan semakin biasa mengatur hidupnya sendiri, terlebih sejak aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit.
“Kita beli satu unit apartemen di CBD ya?” katanya suatu kali, saat kebetulan kami berdua pulang ke rumah kami di pinggiran kota. Rumah ini nyaman dan indah, halamannya luas, Heru yang mendisainnya. Ini ibarat rumah peristirahatan bagi kami, sanctuary. Konsep ideal yang ditelurkan Heru waktu itu (tentu saja dengan segala kebahagiaanku mendegarkannya) bahwa rumah ini adalah tempat kami pulang dari segala kepenatan hari, menikmati kicau burung yang bersenda gurau dan semilir angin yang membelai-belai pepohonan.
Aku memandang Heru dengan heran.
“Ya, rasanya aku capek pulang-pergi rumah dan kantor, jauh dan macet. Kalau pulang kemalaman, aku kan bisa ke sana saja”
“Hmm... lantas aku bagaimana?”
“Rumah sakitmu kan dekat dari sini, kau lebih baik di sini saja. Aku juga gak bakal sering di sana koq. Lagian itung-itung investasi.”
Begitulah, Heru akhirnya membeli satu unit apartemen baru, bangunan apartemen mewah yang jadi landmark baru di kota, yang pengerjaannya menggunakan jasa perusahaan Heru. Awalnya Heru masih sering pulang ke rumah, namun lama-kelamaan frekuensinya kian menurun. Setelah beberapa waktu Heru malah lebih sering pulang ke sana ketimbang ke rumah kami. Anehnya, aku tidak merasa terganggu, karena aku pun bisa lebih lama lagi berada di rumah sakit, tak harus pulang.
“Kau gila! Pulang sana! Sudah lebih 18 jam kau di sini!” Indra sahabatku suka mengingatkan.
“Heru gak pulang. Biar aku di sini aja. Aku pengen tau perkembangan pasien post-op di ICU itu.”
“Kau gak takut lama-lama kayak gitu Heru bisa selingkuh?”
Heru selingkuh? Tak pernah terbayangkan sedikit pun. Bukan sinis. Dia memang sudah kawin, tapi bukan denganku. Dia tak perlu wanita. Dia sudah menikah dengan pekerjaannya. Itu saja sudah membuatnya bahagia lahir dan batin!
Waktu bergulir. Aku dengan kehidupanku, Heru dengan kehidupannya. Kadang-kadang aku rindu juga padanya, tapi kesibukan segera membunuh rasa itu. Heru tak pernah benar-benar ingin tahu kabar atau ceritaku lagi. Kalau pun kami bertemu di akhir pekan, suasananya casual saja. Saling sapa sebentar, cerita pekerjaan masing-masing, tak benar-benar ingin berbagi. Kemudian istirahat, membaca, atau menonton film. Masing-masing. Heru pun sepertinya lebih banyak menghindari kontak denganku.
Lamunanku buyar. Jalanan macet sekali. Jalan Jati yang merupakan jalan pintas menuju CBD ditutup, diarahkan ke jalur lain.
“Ada apa ya, Pak? Kenapa jalan ditutup?” tanyaku melalui jendela mobil yang terbuka kepada seorang bapak yang berdiri di pinggir jalan.
“Oh, anu Bu. Ada taksi nyerobot pintu kereta. Tabrakan sama kereta tuh.”
Ah, aku mendesah, aku benci sekali orang-orang nekat ini. Atau lebih tepatnya ceroboh? Instingku menyuruh turun dan melihat apa yang bisa dibantu. Tapi sudah ada polisi di sana, mustinya sudah ditangani. Kulirik arloji. Sudah hampir satu jam aku terlambat dari janji kencanku. Janji kencan, eh? Aku tersenyum sendiri dengan kata itu. Kali ini aku benar-benar ingin memprioritaskan Heru dalam kehidupanku. Bahkan sudah berniat begitu pun aku masih juga terlambat. Kulanjutkan perjalanan dengan pikiran tak tenang.
Hari ini, dua belas tahun sudah usia perkawinan kami. Aku menyodorkan berkas pengunduran diri kepada Direktur Rumah Sakit siang tadi, yang tentu saja disambutnya dengan penuh rasa tak percaya, diikuti dengan segala bujukan agar aku tetap tinggal, gaji dan posisi naik kalau itu yang kuinginkan. Kau terlalu berharga bagi rumah sakit ini, katanya. Ditambah bonus liburan ke luar negeri: kau hanya perlu berlibur, Maia, kau bekerja terlalu keras. Tapi tekadku sudah bulat, aku ingin berhenti! Aku sudah tahu apa prioritasku sekarang. Heru dan pernikahanku ada di urutan pertama.
Dua bulan lalu, saat ulang tahun Heru, kami merayakannya di rumah kami yang indah, sanctuary itu, bukan di apartemen. Aku memasakkan makanan kesukaan Heru, mengenakan gaun terbaik yang kumiliki. Heru sudah empat puluh. Aku ingin dia merasa ulang tahunnya kali ini bermakna. Life begins at forty. Dan aku ingin dia menghabiskan hari pertama dalam permulaan kehidupannya itu dengan manis bersamaku. Sudah banyak ulang tahun yang terlewat dengan kesendirian, tapi tidak kali ini.
Aku tiba-tiba merasakan telah menemukan cintaku kembali. Kekasihku semakin tampan di usianya kini, kian matang dan berwibawa. Dia mengenakan kemeja biru tua yang rapi, dagunya kelimis, semerbak parfum Benetton menyemburat dari tubuhnya. Beberapa helai rambut kelabu di kedua pelipisnya justru membuatnya tampak kian menawan. Kami memadu kasih. Kurindukan lelaki ini. Kurindukan dekapannya yang penuh kasih seperti dulu. Dan malam itu, malam ulang tahun Heru keempat puluh menjadi tonggak lahirnya cintaku kembali kepadanya.
Namun esoknya Heru harus berangkat ke Taiwan untuk proyek selama dua bulan di sana. Pembangunan hotel yang sangat prestisius katanya. Heru memang kerap meninggalkanku untuk proyek-proyek prestisiusnya, tapi tak pernah aku merasa berat hati seperti saat ditinggalkannya pagi itu.
Dua bulan aku menanti dia pulang. Tak pernah aku merasakan rinduku membuncah sebesar ini. Padahal Heru kerap meninggalkanku berbulan-bulan lamanya. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamanya saja mulai sekarang, dan berhenti dari pekerjaanku yang gila di rumah sakit. Aku tak sabar untuk menyampaikan berita baik ini padanya. Sengaja kurahasiakan.
Kuparkir mobil di depan bangunan hotel. Kami berjanji untuk bertemu di sebuah cafe kecil di lantai bawah. Di cafe itu dulu kami suka merayakan hari ulang tahun perkawinan kami. Rasanya sudah ratusan tahun berlalu sejak ritual itu selalu kami rayakan, yang biasanya dilanjutkan dengan menghabiskan malam di salah satu honeymoon suit-nya yang romantis.
“Kutunggu kau di tempat biasa pukul delapan,” katanya di telepon tadi malam. “Aku nyampe bandara jam enam.”
“Kau tidak ingin kujemput?”
“Tak usah. Aku gampanglah. Yang penting kau datang pukul delapan, jangan terlambat!”
“Aku tak akan terlambat,” aku berjanji, lirih. Kudengungkan janji itu di dalam hati. Tak ada yang lebih penting dari pertemuan ini. Aku akan menyampaikan berita bahagia ini kepada Heru. Tak sabar rasanya.
Aku turun dari dalam mobil dengan hati-hati, takut gaunku lecet. Kuperiksa dandananku sebelum turun tadi. Oh, kenapa jadi gugup? Seperti kencan pertama saja. Ini sudah pukul sembilan, aku harus bergegas.
Kupercepat langkahku saat kulihat bangunan cafe kecil itu. Kecil namun kami suka ambience-nya. Atmosfirnya romantis, disainnya unik. Heru sudah reservasi di situ, aku tinggal menyebutkan namanya saja, kemudian aku diantar ke sebuah meja kosong. Ternyata Heru belum tiba.
“Saya pikir Pak Heru sudah menunggu,” heranku.
“Belum, justru Ibu yang duluan tiba. Silakan.” Sang pelayan menarikkan kursiku.
Jadi justru Heru yang terlambat. Apakah pesawatnya delayed? Atau justru dia lupa? Rasanya tak mungkin. Dudukku gelisah. Aku tak sabar ingin bertemu Heru.
Beberapa belas menit berlalu. Sudah beberapa gelas air putih dan dua kali ke toilet saking gugupnya.
Kuambil telepon genggam dari dalam tas. Kutekan nomor Heru. Ada nada sambung. Satu kali, dua kali...
“Halo...?” terdengar ragu-ragu, suara seorang wanita.
***
Continued to Matahari Kasih

pertama...!!!!! hahahaah
a small part of this story like de ja vu for me...
hmmm ahik ahik...
hore..... saya mengalahkan mas DM disini (yang selalu pertamaxx)... amankan posisi dulu..
baca dulu ahhh
quote: "Kuperiksa luka dan ekstremitasnya. Luka robek di kepalanya cukup dalam, namun sepertinya hanya sebatas kulit, tak mencapai duramater. Yang lebih meresahkan justru tungkai kanannya. Agaknya fraktur tertutup, namun dari gambaran bengkoknya kelihatan seperti complete fracture. Kulitnya lebam namun tidak ada luka terbuka"
wow, deskriptif nya bersifat medis banget, langsung ketahuan siapa pengarangnya nih hohoho
==========================
ternyata kepercayaan sang isteri yang demikian besarnya hingga resign dari tempat kerja nya malah dapat hal yang sungguh tak diduga...
ternyata om heru taj menikah dengan pekerjaan tapi menikah dengan "yang lain"
sedih,
=================
kemarin om DM juga membuat cerpen pasutri dengan PIL/WIL, kok lagi musim yah? takut nih besok kalau saya berumah tangga.
waduh, kasihan juga tokoh aku, mbak. sudah demikian sabar menumbuhkan kesetiaan terhadap heru, tapi agaknya kehidupan heru dah mulai berubah. kisah ini memotret realitas sosial yang dihadapi oleh pasutri berusia muda yang masih belum stabil dalam menghadapi berbagai tantangan dan godaan. kisah yang bagus dan menarik, mbak yulfi, layak utk dibukukan.
@Catra:
Huh Catra, awas ya! Padahal nggak jauh beda jaraknya. Gini ini kalau lagi repot kerjaan, "software" manualnya jadi kesendat.
Hhh... baiklah. Kali ini aku nomor 6. Lihat saja nanti.
Nah, baca dulu. (eh, Jum'atan ding. Haduh!)
@bakhrian:
ini fiksi, be.
de javu dari mana?
dari hongkong?
@catra:
loh, jangan buru-buru menyimpulkan yang gak baik dong, cat.
ini kan cuman fiksi.
bukan musim sih.
cerita ini uni siapkan udah lama, tapi kelamaan di atas kompor, alias nulisnya lambat banget.
keduluan terus deh sama para penulis beken di blog-blog lain.
@sawali:
hihi...
belajar menulis, pak.
masih jauh banget dari kualitas untuk publikasi seperti itu.
tapi makasih banyak, pak.
ceritanya belum selesai, koq.
namun tiap entry dibuat seolah-olah (bakal) berdiri sendiri.
@DM:
jumatan dulu!
lagian tadi manual software-nya gak diaktifkan.
salah sendiri.
@marshmellow: protes!!! kan kubilang sebagian kecil.... bukan seluruhnya yang de ja vu...
hmmmm
Siip! Jadi ini mau dijadikan cerita berseri yang masing-masing berdiri sendiri. Kalau disatukan bisa jadi mosaik, membentuk..... Jangan-jangan marshmallow mau dibikin novel nih. Waw! Kapan saya mulai nulis novel ya, dari dulu gembar-gembornya saja.
Saya yakin Heru setia kok. Sedikit godaan adalah wajar. Jangan-jangan taksi itu... Ah, sudahlah, saya ikuti sekuel berikutnya aja yah..
Beda banget sama kolak pisang raja. Yang ini jauh lebih keren, tapi kolak pisang raja juga bagus. Kalau saya guru, kolak saya kasih ponten 8, yang ini 10 deh. Putar-balik alur ok punya. Semangat!!!!
Post the next part please! cant wait!
@bakhrian:
iya, iya.
jangan marah dong, be.
lagian situ juga sih yang mulai.
@suhadi:
aduh, gak kuat nih dikasih poin 10.
gak kebanyakan, suhu?
saya memang lagi menikmati bikin cerita dengan alur backward forward gitu, mudah-mudahan gak membingungkan.
suhu pasti bisa nulis novel yang bagus.
saya sih udah bisa prediksi dari cerita-ceritanya selama ini.
@superlazy:
puasa melatih kesabaran!
kalem napa?
Saya suka sekali paragraf-paragraf di IGD itu, rancak (pinjam istilah Pak Sawali). Saya yakin jalinan fiksi yang bagus juga harus punya speed yang berbeda, melihat pada situasi yang ingin digambarkan. Dan, speed yang kamu berikan saat di IGD itu begitu pas. Apalagi kamu bicara soal adrenalin. Saya bisa membayangkan adegan-adegan itu dengan sangat baik, kesibukan-kesibukan yang terjadi. Ah, andai saya disuruh menyutradarai adegan ini.
Yang 'agak kurang', tapi sama sekali tak membuat jelek keseluruhan rawian indah ini adalah, saat si aku terhalang kemacetan. Deskripsinya (ah, saya memang deskriptis!), menurut saya perlu ditambah bagaimana ruwetnya kemacetan itu. Mungkin ada polantas dengan alat pemandunya yang menyala-nyala, suara klakson, atau, ... whatever-lah, biar diberi satu paragraf gitu. Terlalu cepat melompat ke "Ah, aku mendesah...dst."
Siapa tahu ini bagian penting dari cerita yang akan disajikan. Kalau perihal kemacetan dan tabrakan taksi-kereta api ini penting, pantas untuk sedikit diulas supaya ada tertanam di benak pembaca. Gak hilang.
==========
Woii, feedbacknya udah kepanjangan dan saya sudah berubah jadi tukang omong tanpa segenggampun teori sastra yang dikuasai.
(*pulang, dan tertunduk malu)
duh, lagi musim cerpen nih.
tapi salut. mengakhiri cerita ini keren, bagus sekali. terus bikin lagi uni. yang banyak....
Komentar dulu, baca ntar ajah. Itu juga kalo dikirimin email :P. Bagus2, prosanya bagus.... *padahal belon baca :D*
ngomen dulu baru baca
nyahahaha
@suhadi:
waduh, saya makasiiiihh banget invaluable feedback-nya, suhu.
justru menurut saya sangat berarti.
jangan pernah sungkan mengkritik, saya suka sekali belajar dari suhu.
mengenai deskripsi kemacetan itu, mungkin saya memang sengaja menghindari pembaca dari distraksinya.
@zulmasri:
karena musim cerpen itulah maka saya pun jadi ketularan, pak zul.
tunggu deh prosa berikutnya.
hehehe...
@fisha dan fanz:
woi, dibaca dulu dong baru komen!
gimana seeehh...
Gag ngerti >_<
*mencoba membaca sekali lagi*
Teteup ga ngerti >_<
Dibandingkan dengan “Kolak Pisang Raja”, cerita “Matahari Hati” berada jauh di bawahnya. Deskripsi pada “Kolak Pisang Raja” begitu kuat, hidup, dan berhasil memunculkan karakter yang nyata.
Tokoh Arif dan Reni sangat memainkan pengaruh pada pembaca. Berbeda dengan “Matahari Hati”. Deskripsinya kering, tokohnya lemah, dan kurang hidup. Tokoh Heru dan aku kurang muncul karakternya. Dialog dalam “Matahari Hati” pun sangat landai.
Latar belakang kedokteran dan arsitek terkesan sekadar tempelan. Sayang sekali untuk tema semenarik itu. Mestinya bisa digarap lebih dalam lagi, agar memunculkan atmosfir yang kuat. Sehingga profesi tokoh-tokohnya yang gila kerja tampak jelas. Tidak sekadar menyodorkan kesibukan kerja yang lagi-lagi hanya tempelan.
Ini prosa kedua? Nggak peduli! Ini soal selera. Tapi sebagai proses kreatif, tetap patut dihargai. Karena menulis memang soal keberanian. Satu orang menghadapi banyak pembaca. Dan dari yang banyak itu, berhak memuji atau mengkritik. Kalau nggak kuat, habis. Kalau kuat, orbitnya makin luas. Ya, menulis memang soal keberanian.
Maaf, sekali lagi ini soal selera. Tidak praktis lantas menyurutkan gairah menulismu yang sedang menggila. Tetap posting cerita lanjutannya. Karena siapa tahu bakal menemukan bentuknya. Ini semata penilaian sekadarnya. Bisa jadi ada segi yang menarik di cerita lanjutan.
Tetap menulis!
@eru:
gak ngerti ya, ru?
ntar deh aku terjemahkan ke bahasa bali.
suksma!
hehehe...
@DM:
wah, muncul nih review yang ditunggu-tunggu.
mungkin kompleksitas cerita agak mempengaruhi proses penulisannya, sehingga di sini aku lebih mengedepankan tema ketimbang penokohan.
sementara di "kolak pisang raja" aku berusaha menutupi kesederhanaan tema dengan menggali penokohan lebih dalam.
thanks heaps, DM.
kritik dari kamu sama sekali tak menyurutkan, malah semakin memotivasi koq.
dan aku udah selesaikan semua babnya sampai akhir, jadi tunggu aja kemunculannya!
waduhhh saya ketinggalan ya un.....kayaknya semua ketularan pak suhadi, nulis cerpen...kalo gitu saya mau coba juga aaahhhhhhh.
Punya uni unik banget...pokoknya unik lah...dengan latar belakang medis..hehehehehe
Kalo saya pake latar belakang apa ya...secara saya sarjana peternakan...hahahahahahaha
Hmm... arloji di tangan kanan.. Kidal kah?
'Oh, anu Bu. Ada taksi nyerobot pintu kereta' Sebelum baca yang kedua, tebakanku ni ada apa-apa nih... Bener ga yah..
Oke, saatnya lanjut baca yang kedua...
1.
D**n you right what a long story. But i enjoy it anyway.
Btw ini bukan cerpen karena ada perubahan alur hidup drastis dalam ceritanya jadi dimasukkan dalam tipe prosa. Perubahan itu terjadi saat heru kecelakaan.
wkakaka just guessing kmungkinan besar jg salah. :D
Salam kenal
@imoe:
kalau imoe nulis cerpen, aku yang duluan mendukung!
latar belakang bisa apa aja yang menarik, toh?
@bowbee:
wah, aku salut nih sama bobby yang selalu jeli melihat detil.
karena penulisnya selalu pake arloji di lengan kanan, jadi kelepasan deh di ceritanya.
nah, lebih baik emang baca aja, gak usah preempt alias nebak-nebak, oke?
@wisnhu:
syukurlah kalau kamu enjoy.
ini memang aku label prosa, jie.
tapi kalau mau dimasukkan novel kayaknya dari segi kuantitas masih kurang banget.
GCS... (atau "tingkat kesadaran"[?]...), skor trauma, renjatan, ekstremitas, duramater (atau "dura mater"[?]...) dan, fraktur tertutup...
:: Sebetulnya siapa sasaran pembaca cerpen ini? Jika ditujukan untuk umum, apakah penggunaan "bahasa akademis" yang notabene agak-agak elitis ini sudah dipertimbangkan sebelumnya? Jika bukan, mungkin sebaiknya dipasangi disclaimer seperti ini;
Attention, coz there were several difficult/special terms here, then to prevent you headache, I suggest you have access to Dorland Dictionary or Google. Thank you... Yuu...
*hehe, no prob sih sebenere, cuman, buat saya yang gelarnya hanya S-3 ini (alias SD, SMP, SMA), ya pasti cuma bisa bengong saja, harus "berjuang" sufaya bisa mencerna kalimat-kalimat yang dipenuhi atribut medis seperti ityu (yuu...). Aha-, kecuali dilampiri footnotes, mungkin para pembaca awam seperti saya, setidaknya masih bisa bernafas lega (walau memang kesannya bakal ndak lazim kalau cerpen pake futnuts, haks!).
.
.
.
Heru...
Ada apa dengan nama ini? Merepresentasikan seseorang (yang berpengaruh bagi kehidupan pribadi) di dunia nyata-kah? Ataukah pemakaian nama ini digunakan begitu saja (impromtu)?
Ndak penting ya? :-| Yo wis... cuma pengen tau
*iseng-iseng mikir, Heru itu gabungan dua kata ya, "He" (dia) & "ru" (ru-asanya gimanaaa gitu)*
*ngumpet di kolong meja, cekikikan*
.
.
.
Kucoba menelepon seluler Heru...
Menelepon seluler... -nya Heru? Jadi, yang ditelepon itu selulernya ya...
*dilempar marshmallow*
*mangap-, amm!! mmm... delicous...*
*dilempar lagi*
*a-, aamm! mmm... yummy...*
*mangap lagi*
*plaakk!!! X-D*
*dilempar sendal*
.
ahem, yah, menurut pemahaman saia yang sempit ini, kalimat tersebut serasa ambigu gitu. I think, dengan kalimat "menelepon Heru" saja, sudah cukup, (si "seluler" ndak usah diajak), tidak perlu ditambahi kata lain lagi sebagai pleonasm.
.
.
.
Sudah dapat ditebak, aku tak sulit untuk jatuh hati pada Heru. Gayung bersambut, dan tak sampai setahun kemudian kami sudah duduk di depan penghulu mengucapkan ijab kabul
Lho? Tidak disebutkan 'kan, kalau Heru belum (benar-benar) beristri, kecuali sekedar mengatakan kalau ia hanya hendak ketemu Dokter Deri? Atau memang sengaja dibuat begitu ya, dengan asumsi bahwa pembaca bakal mudheng sendiri walau tidak disebutkan secara eksplisit...
*manggut-manggut*
.
.
.
Awalnya kami masih rajin mencari solusi, namun setelah melewati tahun kelima kami pun mulai apriori. Sebagai kompensasi, kami membenamkan diri dalam kehidupan karir
yang kian menanjak
Ini kok seperti ndak logis ya. Lha memangnya mertua-mertua mereka ndak pada ngrungsuh minta momongan apa? Masa' membiarkan saja?
Ah, tidak tahu juga, ding. Biarlah, itu urusan mereka, rumah tangga orang lain, ndak perlu ikut campur, ya kan? *halah*
.
.
.
Udah, he he...
komentarnya udah kepanjangan, dan saia memakai style yang sama dengan komentar sebelumnya, yah, repetisi yang membosankan ya ^^;
Sowie, bukannya sok mau intelek atau apa, tapi mau bijimana lagi dunk, inginnya komen seperti ini, ya ini, ndak apapa yaa... Mbak Marsh... ;-P
.
bubbye...
@aris:
wow! comprehensive as usual.
mengenai medical jargon, mungkin memang perlu dikasih penjelasan. tapi cerita ini rasanya udah menjelaskan dengan sendirinya, per se.
well taken, ris. lain kali mungkin musti dipertimbangkan.
soal alurnya yang dibuat rapat, tentu saja mengingat ini cerpen. kalau dijelaskan semua, selain bakal membosankan, juga jadi terlalu berlarut-larut. toh yang kamu sebutkan itu bukan bagian yang esensi dalam cerita ini.
thanks for such a thorough response, i appreciate it.
saya kapok dah komen kek seperti di atas itu ~_~
*musti banyak2 dulu belajar, dan tidak tergesa-gesa*
*kesannya jadi serba ilfil gini*
*haduh*