Laporan bulan puasa ternyata masih seputar acara berbuka. Kali ini acara bubar alias buka bareng Sabtu kemarin bersama rombongan pengajian mahasiswa Indonesia di University of Sydney, bertempat di rumah salah seorang saudara di Dulwich Hill. Anggota yang hadir lumayan ramai, sekitar 30 orang, ditambah anak-anak mereka. Hujan yang sudah dua hari tak kunjung berhenti tak menyurutkan langkah mereka untuk hadir di sini.
Seperti biasa setiap menerima undangan acara, masing-masing tamu dengan sukarela membawa berbagai penganan, walaupun ini bukan acara BYO atau bring your own (food and beverages). Setiap orang membawa a plate to share, biasanya penganan, minuman, atau buah-buahan. Segala jenis hidangan terkumpul di dapur, sementara tuan rumah asyik membakar sate kambing di teras apartemen yang tepat bersebelahan dengan ruang duduk. Karena hanya dibatasi oleh french door, sembari mengaji kita bisa menikmati pemandangan berpuluh-puluh tusuk sate kambing dibakar di bbq set oleh sang tuan rumah. Baunya yang semerbak menggelitik perut untuk mendendangkan lagu lapar dengan irama tidak sabar.
Tapi azan magrib had yet to come. Menunggu berbuka, acara diisi dengan pengajian oleh salah seorang anggota. Selama sekitar tiga puluh menit sang pembicara mengetengahkan masalah ujub dan sombong, dua sifat generik manusia yang merupakan penyakit hati yang tertua di muka bumi ini. Dikatakan bahwa setiap manusia punya potensi untuk menjadi ujub dan sombong. Kalau ujub itu merupakan manifestasi keangkuhan manusia tanpa perlu pembanding, maka sombong punya pembanding, yang biasanya adalah kondisi orang lain.
“... Bahkan disebutkan di sini, walaupun manusia itu hanya tinggal seorang diri di muka bumi, dia tetap berpotensi untuk menjadi ujub,” kata sang penceramah.
“Wah, narsis,” celetuk seorang jamaah.
“Friendster...”
“Hayaah...”
Selesai acara pengajian, terdengarlah suara azan magrib dari radio yang sengaja diset dengan volume kencang. Berbagai menu bukaan langsung diketengahkan. Ada sepiring kurma, kue-kue jajanan pasar sampai jajanan mall (maksudnya, mulai dari kue dadar inti kelapa, sampai inti fla; bakwan dan martabak sampai cheese cakes dan brownies), berbagai jus dan es teler resep modifikasi. Alih-alih melafazkan doa standar berbuka puasa, aku menambahkan doa agar tak kalap menghadapi segala penganan berbuka itu. Dan itu masih menu membatalkan puasa!
Usai sholat magrib, mulailah acara makan malam berjamaah. Menunya nasi dengan lauk soto kambing, lengkap dengan acar timunnya. Sementara itu, puluhan tusuk sate kambing yang gempal-gempal malah dilatahi sebagai camilan. Ada sambal kecap sebagai teman makan satenya. Usai makan nasi semua lemas, energi seluruhnya mengalir ke pencernaan. Otak pun mulai kekurangan oksigen. Akibatnya mata mulai sayup-sayup. Gerakan otot pun melambat.
Namun kita masih punya agenda lain, yakni menentukan kepengurusan baru himpunan ini. Himpunan yang sederhana namun sejauh ini sungguh menjadi pemersatu, tak hanya kaum muslim Indonesia di USyd, juga muslim dari kampus lain yang ingin bergabung. Beberapa teman USyd yang non muslim pun turut senang dapat bersilaturrahim dengan teman-teman setanah air di sini. Bahkan ada pula teman dari negeri jiran yang ikut meramaikan. Wah, pokoknya himpunan ini benar-benar ajang silaturrahim. Biasanya acara pengajian USyd berlangsung tiap bulan dari rumah ke rumah.
Diskusinya tak lama. Semua merasa tak berdaya karena kekenyangan. Tiba-tiba sang nyonya rumah menawarkan, “Eh, masih ada puding coklat dan buah-buahan nih buat cuci mulut. Ada yang mau?”
“Mauuu...,” koor jamaah. Heran!
Semua bergembira dalam acara ini. Bertemu dengan kerabat setanah air di negeri orang, pada saat berbuka puasa. Indahnya! Anak-anak mereka pun saling berteman, asyik ngobrol dan bermain, bersenda gurau (dalam bahasa Inggris logat Oz banget gitu loh!).
Sebagian orang tinggal buat menjalankan ibadah shalat tarawih. Aku memilih pulang, takut kemalaman. Maklum, bidadari negeri tropis, takut diculik kalau pulang kemalaman. (Hihihihi... Ujub a.k.a. narsis)
Tulisan ini sengaja kutulis dalam keadaan telah berbuka puasa. Membayangkan menu kemarin saja membuatku lapar berkali-kali.

Ya ampun!!! Ngaku udah berdoa supaya nggak kalap menghadapi segala penganan berbuka aja, masih beringas gitu menghadapi makanan?
Ck-ck-ck, HY... HY... Perbaikan gizi sih perbaikan gizi... Tapi, aduh! Jangan malu-maluin aku gitu dong... (Lho?! Maksudnya?! Hihihi!).
Inget perut woiii...!!! :p
Besok mau buka dengan sate kambing madura depan rumah.
(diucapkan dengan tangan terkepal dan mata berbinar binar).
wah, sempat terkejut dg judul postingannya, mbak yulfi, hehehehe ... wew... ternyata buka bareng. setelah sering berkunjung ke blog ini, saya jadi tahu bagaimana kiprah muslim d negeri kanguru. ternyata aktivitas religi selama ramadhan di USyd tak kalah bersemngat di negeri kita. salut banget, mbak.
Senmangat terus....jangan patajh semangat...sering-sering bubar biar kekompakan terjamin dan paling ngak, bisa saling ngingatin bahwa sesama muslim bersaudara.....
@DM:
perbaikan gizi kan tidak memandang perbedaan gender, status, serta selisih ruang dan waktu, DM.
kalau ada kesempatan mah diembat aja!
mau gak mau ya jadi begitu deh, maksudnya... uhm... apaa... istilahnya... uhm... kalap gituuu...
(maunya nyari istilah lain yang kurang kesan kalapnya, gagal! kalap mah kalap aja kali)
justru karena ingat perut tersayang ini makanya gitu, DM.
@superlazy:
wakakakakakak...
aku ngbayangin wajah cuekmu itu bertekad, li. aseli lucu!
lagian kalau bertekad mbok ya bukan soal menu bukaan gitu napa?
k-e-d-o-k-t-e-r-g-i-g-i!
@sawali:
malah mungkin lebih terasa karena kita jadi minoritas di sini, pak.
karena lebih tertantang, maka manusia jadi lebih berjuang untuk yang terbaik.
hmm... jadi ingat ada yang pernah bilang, entah siapa: perfection is not created in a perfect condition.
(nyambung gak ya?)
@imoe:
jadi... jadi... hakikat bubar yang sebenarnya untuk itu ya, moe?
memupuk silaturrahim gitu?
bukan untuk perbaikan gizi dan kalap?
hiks...
salah kaprah dong aku selama ini.
hihihi...
jadi laper nih uni mposting tentang bubar sekarang masih siang saya baca, ada fla, ada cheese, ada sate kambing.
disini saya cuma makan palaibada ni ohohoho, :mrgreen:
apakah di sana ada palaibada?
hmmm... kayake enak sekalii... tapi tante dokter, mana foto2nya?? Kalo makan2 kudu mesti difoto dong. yah itung2, walau kita gak ikutan makan, tapi tetep kebagian pemandangannya ajah. Takut narsis yah??? :D
tambuah taruih...
benar-benar acara balas dendam nan dahsyat yo ni... uni mambaok randang samo es tebak ndak ka tampek acara? pasti yo ni...
namun acara seperti di atas pasti amat bermanfaat. bertemu dan saling lepas kangen.
tapi... jadi mbayangin kembali acara balas dendam itu, hingga kekenyangan. ha ha. pasti banyak yg ngelanjutin dg sahur bersama ya ni? soalnya sdh gak kuat pulang, hujan lagi.
@catra:
palaibada ndak ado, cat.
catra bisa bikin palaibada?
wah, hebat dong.
di sini nyari daun susah setengah mati!
kalau ada pun mahal setengah mati!
@fisha:
yee... sengaja dong gak pake foto.
timbang narasi doang udah pada ngiler gitu, gimana kalau pake foto coba?
@zulmasri:
es tebak!
my favorite!
bikin kangen pulaaaaanngg...
biasanya kalau udah makan sate padang, minumnya es tebak!
yummm...
biar kenyang dan hujan, tetap musti pulang, pak zul.
kasian tuan rumah.
dan bawaan saya pastinya salah satu penganan yang disebutkan di entry.
kalo dulu malah ga ada acara tarawih bersama... masing-masing pada ada urusan... jadi setelah buka puasa ya ramah tamah sebentar... terusannya ya pulang...
padahal kalo tarawih seru juga kali ya.... apalagi kalo acaranya di Auburn...berasa sekali nuansa muslimnya....
e eh.. baru nyadar aku kalo narsis ntu ada potensi ujub, hehe
uni, bisa dibungkus ga? buat sahur..
Wah menmang kalau menjadi minoritas di negeri orang itu bawaannya jadi rukun dan kompak yah...
Sipp lah
Mbak, di ostrali ada siaran radio yang mengumandangkan adzan juga yaa?? cool. .
emang banyak muslim disana?
@bakhrian:
mungkin dulu itu babe kuliah di USyd yang lain, makanya gak ada tarawihnya.
ngeheheheh...
@dion:
oh, kata ustadznya narsis emang bisa jadi ujub!
makanya gak boleh narsis.
ehm...
jajanannya mau berapa bungkus, dion?
@silo:
gitu deh.
tapi bukankah sebaiknya semakin banyak kita semakin bersatu ya, pak?
@indrapamungkas:
ada dua radio islam kalau aku gak salah, sering dengar juga sih.
soalnya di sini kan banyak juga imigran muslim dari timur tengah dan negara-negara asia, in.
sepertinya memang aku berada pada usyd bagian utara kali... nah ente bagian selatan... nyambungnya ya di paddy's hahahahah
Wah, ternyata si marshmallow juga bisa kebablasan ya. Gak cuma saya.
Jangan bikin malu DM dong (*nah lho?) Apa hubungannya.
@bakhrian:
oh, aku malah nyangka ente dari usyd cabang banjarbaru, be.
hehehe...
peace, bro!
deeuu... ada yang kangen one dollar-nya encim-encim pasar paddy's nih.
@suhadi:
ih, koq jadi DM?
dia gak diapa-apain aja udah cukup malu-maluin koq, suhu.
(sori, DM. suhu nih yang mulai. marahin aja tuh!)
Huhuhu...I love buber :-D plenty of delicious food and for sure we always can bring some home...we also had buber last sunday, I was brave enough to bring martabak manis and tempe bacem...Alhamdulillah no one was get poisoned :-D
@indira:
take home some left-over food?
exactly!
i brought home the soto kambing myself.
(gak mau rugi banget gak sih?)
anyway, nobody got poisoned? how come?
hahahahaha....
Too bad there wasn't any photo shown...
On second thought, It might be better this way or else it will cause jealousy and ngiler-state for moslem bloggers... :D
Btw makanan pembukanya aja sebanyak itu ya... Itu sih kalo aku dah cukup buat buka, ga perlu main dish lagi dah... :D
Yup ... kolak, ck ck ck ngiler
@bowbee:
emang gak perlu ada foto di sini, bob, secara gitu ya: bahaya!
makanan pembukanya emang segambreng, bob.
tetapi oh tetapi, selera orang-orang yang mengerubutinya juga buas!
jadi teteup, masih perlu makanan utama.
@pak ewa:
pak ewa, salah kotak komen deh kayaknya.
pindah ke atas yuk?
yang ada di sini mah sate kambing...