Sunday, July 19, 2009

Obsesi Pulau Buru

Ide untuk berkunjung ke Pulau Buru pada libur dua hari ini, Minggu dan Senin, sangat menguasai pikiranku sejak pagi. Gara-gara si Om P, pengurus wisma. Dia menemani ngobrol di ruang sarapan tadi pagi, dan dengan bersemangat menceritakan tentang pulau tempat pembuangan para tapol 1965 kepadaku dan B, sahabatku seperjalanan.

Sudah terbayang olehku serunya. Backpacking, hanya untuk semalam saja, berangkat Minggu pagi dan pulang pada Senin malam. Menikmati pemandangan hutan kayuputi, mengunjungi pasar tradisional tempat hasil bumi yang melimpah diperjualbelikan. Om P bilang, beberapa orang lainnya mengakuri dan turut membumbui, Pulau Buru adalah pulau yang paling makmur di Maluku. Hasil pertanian terbesar dihasilkan di pulau ini, surplus untuk sekadar kebutuhan seluruh penghuni pulau, cukup untuk menghidupi seluruh kepulauan Maluku. Beras, sayur-mayur, ternak, unggas, tak habis-habisnya. Semua murah hampir tak bernilai dengan uang. Orang yang sudah mengecap kehidupan di pulau ini akan enggan untuk pergi. Para transmigran, tersebar di 20 unit, hidup makmur dan lupa akan asal mereka. Minyak kayuputi adalah komoditas unggulan. Konon minyak yang dihasilkan di pulau ini murni tanpa campuran bahan lain.

Aku sudah sangat berniat untuk pergi besok pagi (aku menulis ini pada Sabtu malam). Sendirian saja, karena temanku sepertinya tidak tertarik ikut. Ada kapal cepat yang berangkat dari Ambon pada pukul sembilan pagi. Dengan kapal cepat jarak Ambon-Buru akan dapat dicapai dalam 3-4 jam, tergantung cuaca. Pengangkutan ke Pulau Buru ada setiap hari, namun setiap jenis transportasi beroperasi di hari yang berbeda-beda. Kapal cepat berselang-seling hari operasinya dengan feri yang lajunya lebih lambat, kapal putih (sebutan untuk kapal PELNI) beroperasi tiap dua minggu, dan pesawat terbang berpenumpang 20 orang beroperasi setiap minggu. Kesempatanku untuk besok hanyalah kapal cepat tadi.

Kalau tidak karena musim Timur, yang membawa gelombang besar di laut kepulauan Maluku, pasti aku sudah mengepak ransel buat besok pagi. Itulah. Banyak yang menegahku pergi. “Bahaya saat musim begini. Apa sih yang dicari?”

Bukan apa yang dicari. Aku hanya ingin berada di sana, merasakan pulau yang sempat sangat familiar dalam kehidupan penulis besar roman sejarah itu. Presiden Soekarno pun pernah dibuang ke sana. Aku hanya ingin pernah berada di sana, tanpa harus menemukan apa-apa. It' s something intangible.

Masalahnya memang cuaca. Hujan hampir setiap hari di sini. Bulan-bulan begini angin berhembus dari arah Timur, membawa gelombang besar. Saat gelombang sudah terlalu besar, kapal-kapal kecil tidak diizinkan beroperasi. Kalau pun berani, resikonya karam. Paling kurang mabok di perjalanan, apalagi bagi orang luar yang tak terbiasa dengan kondisi kepulauan. “Beginilah romantikanya hidup di sini, harus tahan ombak laut,” kata mereka separuh bangga. “Belum lama yang lalu seorang dokter yang akan mengunjungi pasien di sebuah pulau mengalami kerusakan kapal, terapung-apung di laut hingga tiba di Selandia Baru.” What? Selandia Baru? Bahkan lebih Tenggara daripada Tasmania!

Begitulah. Akhirnya aku hanya bisa ngiler mendengar Om P bercerita lagi sore tadi. Seorang peserta pelatihan kesehatan dari Pulau Buru, Unit 17 Transmigrasi asalnya, turut memberi testimoni tentang indahnya hidup di sana. Makmur, damai. Saya tak tertarik pulang ke Jawa, saya punya segalanya di Buru, katanya.

Ada tradisi yang disebut “pela” di Maluku. Pulau Buru dan Seram, pulau terbesar di Maluku yang terletak di Utara Ambon, adalah dua pulau dengan ikatan pela, berkakak-adik. Pulau Seram adik perempuan, Buru adalah abangnya. Bila dua pulau (atau juga desa) telah terikat pela, maka kedua wilayah dan semua penduduknya adalah bersaudara. Dengan begitu mereka pantang bermusuhan, termasuk menikah di antara penduduk kedua wilayah. Menikah berarti incest.

Ikatan ini membuat masyarakat Maluku rukun, semakin damai setelah lelah dengan konflik sepuluh tahun lalu. “Katong seng dendam. Seng pernah berpikir soal harta yang hilang. Katong su cape bermusuhan, kerugian saja yang ada. Katong pun menyesal mau terprovokasi dulu. Padahal katong bersaudara toh? Bagaimana mungkin beta membunuh saudara sendiri, walaupun diong berbeda agamanya?”

Pengakuan ini banyak kudengar dari orang-orang di sini. Sebanyak-banyaknya yang bisa diajak ngobrol selama seminggu ini tentunya. Namun pengakuan yang kurang lebih seragam membuatku mengerti bagaimana kejadian mengenaskan dulu dan bahwa sesungguhnya nilai-nilai murni di dalam masyarakat Maluku tidak pernah mengharapkan konflik terjadi. Sekarang siapa pun yang hendak mencoba-coba menyebarkan hasutan akan langsung diusir dan tidak diambil peduli oleh masyarakat. Tidak perlu mencari siapa yang salah sekarang. Yang penting adalah bagaimana masyarakat Maluku bisa hidup damai dan berdampingan, kata mereka.

Berkali-kali ungkapan-ungkapan semacam membuatku merinding. Indahnya. Mudah-mudahan para penyebar teror yang bergentayangan di negeri tercinta bisa meniru keikhlasan masyarakat Maluku. Bukankah rasa aman juga merupakan hak azasi manusia yang harus dihormati oleh setiap orang?

Baiklah, sekarang aku batal ke Pulau Buru. Tapi suatu saat nanti. Ya, suatu saat...

Nah, selamat berlibur panjang.***


Continue reading

Wednesday, July 15, 2009

Ambon Manise


Kami berempat menikmati makan malam di puncak bukit, Cafe Panorama nama restorannya. Dari sana kami dapat memandang gemerlap kota di malam hari. Gemerlap yang kumaksud tentulah akan jauh berbeda dari bayanganmu akan sebuah kota besar yang gemerlap seperti Jakarta atau kota-kota besar lain di Indonesia dan dunia. Ambon adalah kota kecil yang bersahaja, daratannya berbukit-bukit di sisi Teluk Ambon yang membuatnya tampak seperti sebuah tapal kuda. Dari bandara kau perlu menyusuri tapal kuda tersebut selama satu jam untuk mencapai kota. Lampu-lampu penerang menjadi penanda bahwa sebuah atau sekelompok bangunan ada di ketinggian mana. Air di teluk merefleksikan lampu dari sampan-sampan yang berada di sisi perairan. Dapatkah kau bayangkan?

Masing-masing semangkuk bakso ikan dan sup ikan menjadi pembuka makan malam kami. Diikuti oleh ikan bakar dengan sambal colo-colo (mungkin maksudnya adalah sambal yang dicolek) dan tumisan sayur kangkung. Nikmat sekali. Minuman teh hangat, masing-masing seteko kecil buat setiap orang menemani makan malam itu. Pemandangan dari puncak bukit itu turut memicu selera, seakan-akan kau jadi tahu dari mana asal setiap hidangan di hadapanmu. Ya dari laut itulah, yang membentang di sisi kanan panorama yang kau pandangi. Dan setiap potong bumbu dan sayuran tentunya berasal dari bukit-bukit ladang hijau yang membentang di sisi kirinya. Uh, aku sampai lupa bahwa aku tidak cukup beristirahat selama dua harmal terakhir, dan tadi sempat hampir menolak undangan yang ramah ini saking lelahnya.

Ya, fisikku lelah luar biasa. Setelah kurang istirahat menjelang keberangkatanku ke Jakarta dua malam yang lalu, aku menghabiskan sisa hari di hotel dengan menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor yang harus segera pula dikirim melalui email. Malam hari menghabiskan waktu dengan tidak beristirahat sempurna karena aktivitas fisik yang berlebihan dan gugup karena harus terbang jauh. Hm... agaknya penyakit gugup terbangku semakin parah belakangan ini, padahal beberapa minggu terakhir aku memang harus kerap terbang. Pukul tiga subuh aku dan temanku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Cengkareng, menyusun tas dan barang bawaan. Pukul empat berangkat ke bandara, dan akhirnya pesawat take off pada pukul 06.30 WIB, terlambat tiga puluh menit dari jadwal sebelumnya.

Setelah transit selama hampir satu jam di Juanda Surabaya, perjalanan dilanjutkan menuju arah Timur Laut, dan mendarat di Bandara Pattimura Ambon dua setengah jam berikutnya. Perbedaan waktu membuat kami tiba pada hampir pukul dua sore. Di kota, para pejabat Prodi Pendidikan Dokter perguruan tinggi sasaran telah menanti kami untuk makan siang bersama. Sambutan mereka luar biasa ramah. Tentu saja, mereka toh saudaraku sebangsa juga.

Kembali ke acara makan malam di puncak bukit. Pak J dan Ibu M, kedua pengundang makan malam ini menceritakan mengenai kerusuhan Ambon sepuluh tahun lalu. Bagaimana mereka harus mengungsi, dan harta benda yang habis terbakar dalam tindakan anarkis tidak menjadi pertimbangan lagi, hanya keselamatan jiwa dan keluarga yang dipentingkan. Namun kini Ambon sudah aman, masyarakat telah belajar untuk tidak mudah terprovokasi dan terpancing isu SARA. Beragam suku, agama dan ras hidup berdampingan dengan rukun di sana. Sungguh malu mengingat bahwa aku sempat ragu untuk menerima tugas menjadi utusan Dikti selama dua minggu di sini. Dengan malu pula kusadari, betapa sedikit yang kuketahui tentang bangsaku sendiri. Apa yang kutahu tentang Ambon selain penduduknya yang memiliki kemampuan olah vokal alami, berkulit coklat serta profil hidung dan bibir yang tegas namun membentuk komposisi manis? Hampir nol besar! Tiba-tiba aku merasa seperti tertohok oleh kata-kata Jean Marais kepada Minke, kau tak mengenal bangsamu sendiri!

Sebelum kembali ke penginapan, tuan rumah membawa kami mengelilingi kota Ambon. Sebentar saja hampir seluruh pelosok kota sudah terjelajahi. Ambon memang mungil. Medannya yang berbukit-bukit memberi tantangan tersendiri dalam berkendara, belum lagi badan jalanannya tak terlalu lebar untuk dilalui dua buah mobil berpapasan.

Aih, penatnya tubuhku. Dari jendela kamar penginapan ini aku dapat memandang Teluk Ambon dengan pendaran lampu dari perahu-perahunya. Sore tadi aku mengetahui satu hal, yakni matahari terbenam di arah teluk, sehingga pemandangan senja dari jendela kamarku indah sekali. Ah, sebaiknya aku segera beristirahat, besok pekerjaan besar menanti, aku perlu menyimpan tenagaku buat esok. Kini aku tak terlalu terganggu lagi. Bukankah aku masih memiliki dua minggu untuk menikmati pulau kecil ini dan mengenal bangsaku yang hidup di sini dengan lebih baik?***

Selasa, 14 Juli 2009, hampir tengah malam | Mohon maaf kepada para sahabat karena aku masih belum sempat menyambangi blog Sahabat sekalian. Bila kesibukan ini telah mereda, aku akan hadir segera.


Continue reading

Monday, July 13, 2009

KL: Yang Tersisa


Shop till drop. Itu rencana awalnya.

Rasanya belum puas beristirahat setelah pulang larut malam itu. Esok paginya sebelum toko-toko di mall dibuka, kami bertiga, aku, sahabatku dan putrinya telah berada di KLCC, pusat perbelanjaan dan hiburan di kompleks Twin Tower, sarapan sambil menunggu merchant tujuan dibuka. Pada pukul sepuluh waktu setempat aku sudah berada di dalam Toko Buku Kinokuniya, sementara kedua teman seperjalananku menghabiskan waktu di Petrosains dan Dinotrek, wahana bermain sambil belajar gawean Petronas.

Dua jam berselang. Keranjangku telah berat oleh buku. Aku mengambil tempat duduk, berusaha menyortir buku-buku yang masuk keranjang agar tak terlalu banyak ringgit yang dihabiskan di sini. Namun sungguh berat memilih di antara banyak karya Jodi Picoult, sementara ada beberapa judul lain yang juga memaksa untuk dibeli. Mohon mengerti. Tidak mudah menemukan buku-buku impor di kotaku, sehingga berburu buku adalah mutlak bila aku mengunjungi KL atau kota-kota lain yang memiliki toko buku semacam.

Akhirnya aku keluar toko dengan allowance yang sudah berkurang separuh dari seluruh isi saku, bertukar dengan buku-buku Picoult, Yan Martel, Orhan Pamuk, Patricia Cornwell (karya terbarunya yang selama di Sydney tak terbeli karena masih sangat mahal), Audrey Niffenegger, dan Herman Melville dengan karya klasik Moby Dick, berikut beberapa buku bergambar karya negeri jiran—semacam Benny & Mice—memenuhi kantong belanjaku. Gee! What a (guilty) pleasure!

Aku pun berhenti belanja walaupun belum kehabisan tenaga.

Definitely I wasn't short of energy, I would shortly run out of cash!

Dasar tidak tahu diri. Dengan keterbatasan itu pun aku masih berminat browsing di Mid Valley, mall yang berada di Bangsar. Dengan Rapid KL, bus bertambang RM2 sepanjang hari dengan satu tiket harian, kami sampai di megamall yang tak kalah ramai itu. Hm... Did I tell you I've stopped shopping? Guess I was wrong.

KL wanderers with all shopping bags and trolley kept out of frame

Sore hari kami terkapar kehabisan tenaga di penginapan. Namun itu adalah malam Minggu, keramaian Bukit Bintang sungguh memesona. Pantang berada di dalam rumah di saat-saat demikian. Apalagi hari itu adalah hari pembukaan Mega Sale, malam harinya dilangsungkan beberapa atraksi menarik di Pavilion, mall baru di seberang apartemen. Ada Late Night Sale yang memungkinkan para shoppers memanjakan minat belanja mereka hingga larut malam. Aih, gaya hidup begini ternyata sungguh melelahkan, bagi tubuh apalagi dompet. Mine got drained very quickly. Sesungguhnya aku bukan pecinta belanja, namun pula tak mampu menampik godaan harga rabat di setiap butik dan merchant. Aku sempat tercenung kenapa wanita sangat suka mematut diri di toko sepatu, padahal sadar bahwa ini adalah aktivitas yang riskan, if you know what I mean.

I knew I needed time to rest and sober.

Pada hari kepulangan esoknya kami masih belum reda dari mabuk belanja, hangover berat. Tubuh sudah penat. Koper menggelembung, protes kelebihan beban. Beruntung seorang mahasiswa kami asal Klang Selangor dan ibunya menawarkan untuk mengantar sehingga kami tak repot menyewa taksi atau kendaraan umum lain menuju bandara. Mereka menjamu makan malam di sebuah rumah makan spesial sup di Shah Alam, ibukota Negeri Selangor, pada perjalanan ke bandara.

Pukul sepuluh malam kami meninggalkan KL, sehat namun bangkrut. Aku mengucap syukur tidak harus lebih lama lagi di sana.***

Ditulis pada Senin, 6 Juli 2009, pagi hari setelah tiba di rumah kembali. Tulisan ini dijadwal. Saat tulisan ini dipublikasi aku mungkin sedang berada di atas pesawat menuju Jakarta, untuk terbang kembali esoknya menuju pulau kecil di Timur Laut Indonesia. Sampai jumpa pada episode Itinerary berikutnya, kali ini di tanah air.


Continue reading

Friday, July 10, 2009

Demi Sebuah Suara

Sungguh mengherankan bagaimana semangat cinta tanah air bisa mengalahkan segala rasa negatif yang sejatinya melenakan.

Sebagai penduduk baru, aku belum mendapatkan undangan untuk mencontreng di daerah ini. Keputusan MK untuk dapat memilih dengan membawa KTP membuatku bersemangat mendatangi TPS terdekat pada pagi hari. Namun aku tidak mendapati namaku tercantum sebagai DPT di TPS dimaksud. Petugas kemudian mengarahkan untuk mendatangi TPS kelurahan jiran, mencoba peruntungan di sana. Heran tentu saja, mengingat tetanggaku terdaftar di sebuah TPS, sementara aku yang tinggal tepat di sebelah rumah dalam blok dan kompleks yang sama terdaftar di kelurahan lain.

Aku datangi TPS tetangga. Sempat enggan karena TPS ini terletak di daerah yang kurang kondusif, dan tentunya lebih jauh. Namun semangat untuk dapat menyalurkan hak suara mengalahkan rasa enggan tadi. Syukur ternyata namaku terdaftar di sana. Dengan bersemangat aku menunjukkan KTP. Namun niat tulus untuk memberikan secuil kontribusi dalam Pilpres ini masih tertantang oleh kendala lain: aku harus menjemput sendiri formulir C4 di kelurahan sebagai tiket suara.

Sebelah hatiku memprotes, “Susah banget sih untuk memilih saja? Mendingan pulang dan tidur! Jarang-jarang dapat libur di tengah minggu begini. Toh satu suara doang, tak akan berarti banyak.”

Apa boleh buat. Sebelah lain hatiku terlalu bersemangat untuk mengakomodasi rasa malas dan balik kanan melanjutkan istirahat di rumah. Alih-alih, aku arahkan perjalanan menuju kantor kelurahan dan menjemput formulir C4 di sana. Untunglah para petugas melayani dengan ramah dan persuasif, sehingga aku melupakan rasa keberatan menjalani itu semua.

Seorang petugas di kantor kelurahan sempat mencandaiku, “Jangan sampai gara-gara kehilangan satu suara, calon presiden pilihan Mbak nggak menang, ya?” Hm... aku bahkan tidak berpikir sejauh itu. Aku hanya akan merasa malu bila kendala sekecil itu membuatku menyerah dan mengabaikan hak pilihku. Berlebihan? Mungkin. Dan mungkin ini bukan benar-benar sebuah semangat cinta tanah air. Entah apalah ia. Tapi aku merasa bentul-betul lega setelah berhasil mengalahkan rasa negatif yang melenakan demi sebuah suara.***


Continue reading

Monday, July 6, 2009

KL Revisited: Home Is...

Sudah dua tahun lebih tidak mengunjungi kota ini. Yang pasti kini ia lebih molek, lebih ramai, dan lebih memantapkan diri sebagai kota metropolitan.

Dari bandara (yang luar biasa ramai saat liburan begini) aku dan sahabatku menuju penginapan, sebuah apartemen di pusat bisnis dan hiburan Bukit Bintang, sekadar meletakkan barang bawaan. Dengan monorail kami menuju mantan kampusku, yang berjarak tak lebih dari lima kilometer dari sana.

... And suddenly I was home!

Bukankah rumah adalah tempat di mana hatimu berada? Well, hatiku pernah terpaut di sini, dan akan selalu begitu. Berada di compound ini aku merasa bagian dari keluarga besar itu lagi. Menapaki lantai kayu bangunan tuanya, melalui lorong-lorong laboratoriumnya, menghidu bau bahan-bahan kimia. Yes, I was home!

Kami menyelesaikan beberapa urusan di sana, bertemu para guru dan sahabat, makan siang bersama, bercengkrama, bertukar kabar. Akrab, dekat, bersaudara, saling menghormati, saling menghargai. Aku bagian dari mereka, dan mereka adalah bagian dariku. Ah, aku sampai lupa pada konflik Ambalat dan Manohara, lupa pada kebencianku akan pertikaian dua negara berjiran ini; tidak ada juga yang mengingatkan bahwa sejatinya kami berbeda, yet we are coming from the same origin. Serumpun.

Dah dengar tak Makmal Entomologi got burnt last week?” hampir setiap orang yang kutemui menanyakan itu, dengan bahasa Melayu campur sari. Makmal atau Laboratorium Entomologi yang menempati gedung tertua di kompleks ini, lebih 100 tahun usianya dengan banyak bagian terbuat dari kayu dan papan, terbakar seminggu sebelumnya. Mereka masih overwhelmed dengan cerita ini. Semua sibuk berkisah, bagaimana AC yang korslet memicu percikan api, api yang kecil menjadi besar terdedah bahan-bahan kimia, dan bagaimana kerusakan oleh api saja sesungguhnya tidak akan sebesar ini, bila saja pancuran air yang kuat dari bomba—sebutan untuk pemadam kebakaran—tidak menjungkir-balik semua peralatan dan perabot laboratorium yang ada. Mereka pun bercerita bagaimana seorang sahabatku yang tengah asyik bekerja di dalam biliknya harus dievakuasi, namun yang teringat olehnya adalah semua spesimen penelitian tesisnya.

Mereka juga bercerita bahwa pandemi H1N1 membuat liburan dibekukan bagi kebanyakan mereka, harus bersedia dipanggil sesewaktu untuk menangani kasus. This is a stressful time, kata mereka. Ya, aku teringat bagaimana pandemi ini membuat beberapa tambahan regulasi saat memasuki sebuah negara, dan bagaimana banyak orang mengenakan masker di bandara maupun di dalam kota di antara keramaian.

Lepas tengah hari semua urusan yang menjadi alasan utama kedatanganku selesai. Waktunya menikmati Kuala Lumpur! Dan bukan disengaja kalau pada masa kedatangan kami tengah berlangsung KL Mega Sale, yang berarti diskon besar-besaran untuk hampir semua produk di hampir semua merchant dan butik di Kuala Lumpur!

Kami menghabiskan sisa hari di Berjaya Time Square, mall dengan ketinggian sepuluh lantai dan dua menara puluhan lantai untuk kondominium dan hotel. Sementara sahabatku dan putrinya bermain-main di Cosmo World, sebuah indoor theme park, aku browsing buku di Borders. Malam hari kami menikmati tayangan “Transformers 2” di teater IMAX-nya. Kelelahan membuatku (lagi-lagi) tertidur pada beberapa belas menit terakhir film, justru pada bagian-bagian yang paling seru sepertinya. D'oh! Dua kali menonton di IMAX Time Square, keduanya adalah film “Transformers”, dan pada keduanya pula aku tak sanggup menahan kantuk.

Kawasan Bukit Bintang senantiasa ramai, seperti malam itu. Tengah malam sekalipun, banyak pedestrians berjalan atau hangout di sekitar Berjaya Time Square, Sungei Wang, dan terutama Lot 10 yang menyediakan banyak kafe teras dan outdoor. Kini ada pula mall baru yang sangat prestisius, Pavilion, tepat di seberang apartemen, menambah lokasi plesiran bagi para penikmat belanja. Banyak produsen fashion dunia membuka butik di sana.

Sultan Abdul Samad Building, Dataran Merdeka pada malam hari, salah satu heritage building di KL

Inilah wajah Kuala Lumpur pada malam hari, kota metropolitan yang menjadi tempat plesiran dan tujuan wisata banyak bangsa di dunia. Kota yang teratur dan rapi, yang walaupun kemacetan sudah menjadi pemandangan umum kini, tidak pernah terdengar suara klakson atau terlihat aksi ugal-ugalan di jalanan. Kota yang gemerlapnya mengundang hedonisme dan keserakahan duniawi. Kota yang di banyak musimnya, terutama musim belanja, justru lebih dimonopoli oleh orang-orang Indonesia juga.

Kota yang pernah aku panggil rumah.***

KL Plaza, Bukit Bintang | Jumat, 3 Juli 2009, malam sepulang menonton Transformers 2 di IMAX Berjaya Time Square.


Continue reading

Wednesday, July 1, 2009

Nurdin Mandi Padi

Di Medan, teh manis yang disajikan dingin atau dengan es disebut teh manis dingin, bukan es teh manis. Dengan cara yang sama kopi dan aneka minuman-biasa-hangat lainnya yang disajikan dingin juga akan disebut demikian: kopi dingin, milo dingin, kapucino dingin.

Untuk menyingkat sebutan, seperti kebiasaan masyarakat kita yang doyan singkatan dan akronim, maka teh manis dingin akan disebut “mandi”, teh pahit dingin disebut “padi”. Ya, sebagian yang sedang diet restriksi gula akan lebih menyukai minum teh dingin tanpa gula, alias teh pahit dingin, alias padi.

Lantas apakah nurdin?

Nurdin adalah nutrisari dingin. Ha! Ketiganya adalah menu yang sering dipesan para anggota penikmat warung Mas No di belakang gedung Patologi Anatomi di kampusku.

Berikutnya adalah “kapucino tiga jadi dua”. Ini kelakuan beberapa orang yang suka minum kapucino dingin. Sama seperti nurdin, tentunya satu sachet kapucino yang hanya pas bila ditambah 200ml air itu akan kurang manis bila ditambah lebih banyak air dalam wadah besar yang menjadi gelas sajinya—belum lagi bila esnya mencair—sehingga penjaga warung biasanya menambah gula ke dalam seduhan. Konsekuensinya rasa pahit kopi kemudian jadi terlampau tersamar. Solusinya, beberapa orang—termasuk aku—suka memesan kapucino berpasangan agar masing-masing gelas berisi satu setengah sachet kapucino, bukan satu. Jadilah tiga sachet kapucino untuk dua gelas, alias kapucino tiga jadi dua. Ribet dah!

Itu di warung Mas No yang tidak menyediakan minuman kesukaanku yang lebih utama. Lantas kalau di warung lain? Sudah pasti teh botol dingin—dari kulkas, bukan pake es—yang punya slogan “apa pun... minumnya teh botol itu,” bukan teh botol yang lain. Rasa pahitnya pas, apalagi sekarang ada pula varian yang less sugar. Dari dulu aku memang bukan penggemar teh dengan beraneka perisa, apalagi buah-buahan. Paling jauh beraroma melati saja.

Untuk minuman terakhir ini kami belum menetapkan sebutan uniknya. Mungkin “sordin”? Hmm...

Sekarang, apa minuman yang biasa kau pesan? Apa sebutan uniknya? Dan bagaimana bagimu ia nikmat disajikan?***

Musim panas membuatku ingat kepada minuman-minuman dingin yang menyegarkan. Huf!


Continue reading

Thursday, June 25, 2009

Korupsi Jangan Tanggung

Seorang temanku masuk bui gara-gara korupsi. Baca-baca sih korupsinya mencapai dua milyar lebih. Kaget juga karena tak pernah menyangka, soalnya hubungan kami lumayan baik, sempat bekerja sama dalam beberapa penelitian dengannya. Dia adalah kolega, baru selesai dari masa jabatan Kepala Dinas Anu sebelum ditahan, dan sudah pula memenangkan pemilihan untuk menjadi direktur di salah satu Rumah Sakit Umum di sini. Masa jabatan yang baru dilaluinya sebagai Kepala Dinas termasuk yang paling berhasil selama beberapa periode kepemimpinan. Maklum, dia memang mumpuni di bidang penyakit infeksi tropis, sehingga musim penghujan yang baru lalu tidak memberi kesempatan bagi banyak kasus demam dengue merebak di kota ini, tidak seperti masa-masa kepemimpinan sebelumnya. Singkatnya, dia memiliki peluang yang baik dalam membangun karir di pemerintahan, walaupun sebagai praktisi kesehatan dia juga termasuk yang terpandang.

Dulu semasa masih aktif di kampus, temanku ini sering didaulat menjadi MC dalam acara-acara kolegalitas. Dia sangat talkative, pintar membanyol dan menghidupkan suasana. Leluconnya selalu baru, dan dia lihai menyampaikannya dengan gaya yang memukau.

Pada suatu kesempatan Pertemuan Nasional kolegalitas yang diakomodasi oleh kampusku, aku dan dia berpasangan sebagai MC dalam gala dinner di malam terakhir. Aku masih ingat saat dia menyumbangkan sebuah lagu, setelahnya aku katakan kepada hadirin, “Pemirsa, inilah bedanya penyanyi profesional dan penyanyi gratisan.”

Apa itu?” tanyanya.

Kalau penyanyi profesional, musik dan suara kompak, tak ada istilah lomba-lombaan. Tapi kalau penyanyi gratisan seperti Abang, suara beradu cepat dengan musik. Soalnya penyanyi profesional kan dibayar, semakin lama dia bernyanyi, semakin mahal bayarannya. Sebaliknya penyanyi gratisan mau cepat selesai saja, karena tak dibayar!”

Hadirin tertawa, teringat bagaimana pasanganku tadi bernyanyi dengan suara mendului musik, sehingga pemainnya kesulitan menyesuaikan kecepatan musik dengan lirik. Kebayang kan orang yang bernyanyi dengan musik tertinggal di belakang?

Pernah juga kami melakukan perjalanan ke sebuah kantong malaria, aku, dia dan beberapa orang rekan terpaksa duduk di dalam kabin ambulans yang tidak ada bangkunya, sehingga kami lesehan di lantai kendaraan yang kotor, tergoncang-goncang sepanjang jalanan yang rusak tanpa bisa berpegangan pada apa pun, terbanting kanan-kiri.

Banyak kenangan lainnya, semasa itu dia belum lagi menduduki jabatan struktural, masih sama-sama fungsional. Dia orang yang mudah akrab, rendah hati dan sederhana. Maka tak heran bila aku bagai disambar petir mendengar berita penangkapannya. Tak sampai hati juga.

Isu mengatakan bahwa sesaat setelah kasusnya tersingkap oleh badan pemeriksa yang berwenang dan sebelum diajukan ke PT, dia sempat ditawari untuk melakukan negosiasi. Sayangnya uang hasil korupsinya di dinas tersebut telah habis untuk memuluskan jalannya menuju kursi direktur rumah sakit.

Dari sini berbicaralah seorang temanku, temannya juga. “Makanya kalau korupsi itu jangan tanggung-tanggung. Untuk posisi seperti dia, musti korupsi minimal 20M. Nah, bagi dua: separuh berikan kepada keluarga buat melanjutkan hidup, separuhnya lagi jadikan ATM berjalan buat “menyiram” kalau-kalau tertangguk. Sepuluh milyar buat menyiram orang-orang di sana,” tangannya menunjuk ke arah atas, entah siapa yang dimaksud, “Sudah cukup! Bersisa pun!” Sok tahu benar orang ini, macam yang pernah korupsi saja.

Lha, memang gitu!” katanya lagi seperti membaca pikiranku. “Adik tahu kasus korupsi di Rumah Sakit Anu? Pasti tidak tahu, sebab tak sepotong pun foto mereka terpampang di surat kabar, beritanya pun secuil. Beda sama kawan kita itu, fotonya besar-besar di semua surat kabar, ada yang saat digari pula! Nah, direktur dan wadir rumah sakit yang kusebutkan tadi tak sedetik pun merasakan penjara. Bahkan direktur itu sekarang sudah dapat posisi lebih tinggi di Jakarta, wakilnya pun naik pangkat jadi direktur. Ha! Koruptor, tidak masuk koran, tidak masuk bui, malah naik pangkat! Di mana ada kayak gitu? Itulah kalau sesajennya banyak!”

Aku tercenung. Betul juga, pikirku, setiap pekerjaan harus dilaksanakan dengan sempurna, jangan tanggung-tanggung. Termasuk korupsi. Satu pelajaran berharga hari ini.***


Continue reading

Tuesday, June 23, 2009

Seorang Guru Tanpa Manajemen Kesan

Mungkin aku termasuk contoh yang jarang. Sementara banyak di antara bloger yang berhasil menjalin pertemanan offline melalui media online, hal ini tidak terjadi denganku. Berhubungan melalui japri bisa dihitung, kopdar pun hanya sebatas satu orang (beruntunglah dirimu yang pernah bertemu aku, I mean it) *oke, oke, aku ngerti kok kalau kamu tidak pede mengakui keberuntunganmu*. Namun media blog kurasakan telah memberiku banyak teman, yang kendati tak pernah kutemui secara langsung, komunikasi melalui tulisan dan komentar membuatku merasa sudah mengenal mereka lama, sejak dulu lagi. Where have you been all along, Guys? *lebay*

Well, it's not me whom I am going to talk about. It's... okay, it's this fellow teacher.

Pertama kali tahu tentangnya melalui tulisan di blog seorang sahabat saat menyerahkan award kepada beberapa bloger, aku dan dia termasuk di sana. Kubaca deskripsi tentangnya: enerjik, kreatif, guru yang selalu berusaha menjadi yang terbaik buat para muridnya yang lucu dan unik, tulisannya inspiratif, dan sangat mencintai sastra.

Penasaran.

Entah siapa yang memulai, yang jelas akhirnya kami saling menyambangi. Komentar awalnya standar, bahkan terkesan garing (yang kemudian kutahu bahwa dia memang begitu, belakangan bahkan cenderung menyebalkan!). Hihihi... jangan dianggap becanda, ya?

Saat bertandang ke tempatnya, I thanked God I've found that blog. Aku langsung jatuh hati pada bacaan pertama! Love at the first reading. Ternyata deskripsi yang diberikan oleh sabahatku itu tidak mengada-ada. Tulisan-tulisan sosok dua puluhan tahun ini begitu memukau, sederhana mengisahkan kehidupannya sebagai guru di pinggiran ibukota dengan segala permasalahan bersama sekolah dan murid-muridnya yang—kutau—begitu dicintainya. Seringkali aku dibuat geli, merinding, terharu, dan emosi membayangkan apa yang diceritakannya. Kisah-kisah unik mengenai anak-anak didiknya adalah yang paling kugemari. Sepertinya dia begitu mengenal setiap dan semua mereka.

Bukan, aku bukan dalam rangka puja-puji. Ini fakta, nothing but the truth, so help me, God. Pernah aku katakan pada seseorang bahwa bila aku punya usaha penerbitan, aku akan minta izin agar tulisan-tulisan itu dipublikasi dalam bentuk buku, agar lebih banyak orang bisa membacanya. Begitu jelas kekagumanku, sehingga teman ngobrolku yang memang bergelut tak jauh-jauh dari buku—istilah kerennya Publishing Service—itu bilang, “Cieee... kalau kamu udah muji, mesti beneran deh.” Dan dia meneruskan, “Sayangnya dia nggak rajin jalan-jalan.”

Kalian pasti maklum bahwa blog akan lebih mudah dikenal jika pemiliknya rajin memperkenalkannya melalui kegiatan blogwalking. Itu awalnya. Setelah itu, biar rada-rada tak sempat, silaturrahim yang sempat terjalin membuat kegiatan saling berkunjung berlangsung dengan sendirinya. Well, paling tidak hampir begitulah. Tapi sosok yang kuceritakan ini memang jarang terlihat di mana-mana. Mungkin dia hanya lurking, tanpa meninggalkan jejak. Atau mungkin dia memang malas jalan-jalan. Kalaupun memang malas, sebaliknya dia sangat produktif melahirkan tulisan. Ada saja yang diceritakannya setiap hari. Sumur idenya hampir tak pernah mengenal musim kering. Anak-anak itu terutama, adalah sumber terbesar inspirasinya. Dan anehnya, dia seperti tak butuh dikomentari juga. Seolah-olah blog hanyalah media dokumentasi catatan hariannya, tak lebih.

Aku tak pernah tau bagaimana dia sesungguhnya. Aku hanya menebak-nebak dari cara bertuturnya. Cerdas sudah pasti. Juga lucu dan cenderung usil. Secara fisik aku yakin menarik walaupun dia tak pernah memperlihatkan sosoknya maupun mendeskripsikan dirinya. Namun justru itulah yang membuatnya berbeda. Sedikit sekali ia menceritakan tentang dirinya secara gamblang, seolah-olah dia bukan bagian penting dalam ceritanya. Tapi dia membuatku percaya bahwa orang bisa mengenal bagaimana dirimu yang sesungguhnya melalui tulisanmu yang apa adanya. Sejauh yang aku tau, dia tak pernah melakukan manajemen kesan, hal yang justru banyak ditemui dalam tulisan para bloger. Istilah ini kupinjam dari teman ngobrol yang orang Publishing Service itu. Manajemen kesan menurutnya adalah upaya seseorang dalam mendeskripsikan kehebatan diri melalui tulisan, terang-terangan maupun tersembunyi, yang mengarahkan pembaca untuk percaya bahwa ia adalah seperti apa yang diceritakannya. Singkatnya, manajemen kesan adalah bluffing. Boasting.

I can see you got my point. Good. Setiap bloger, termasuk aku, kuyakin pernah melakukannya. Bila tidak dalam setiap tulisan, maka dalam sesekali tulisan.

Tapi aku tak pernah mendapati kesan membual dan menyombongkan diri dalam cerita-ceritanya, terang-terangan maupun tersembunyi. Tidak sekali pun sejauh ini (mudah-mudahan terus begitu).

Aku percaya bahwa pertemanan juga membutuhkan chemistry. Dan disadari atau tidak, aku merasa nyaman—dengan cara yang aneh—berteman dengannya, seseorang yang tak pernah kukenal langsung, tak pernah japri, apalagi kopdar, namun tak pernah dan tak ingin kulewatkan kisah-kisah inspiratifnya.

Dan kupikir kalian juga, once you know her, the one who always refers to me as an orc, never buys that I am an angel instead. Ya, kadang-kadang dia memang menyebalkan.***


Continue reading

Saturday, June 20, 2009

Tahu, Tempe, Pengamat Sepak Bola

“Seperti pengamat sepak bola, bisa menilai belum tentu bisa bermain,” kataku kepada para istri karyawan perusahaan BUMN telekomunikasi Indonesia Jumat kemarin. Sore itu aku diundang menjadi salah seorang juri dalam acara lomba masak bertajuk “Hidangan Sehat Berbahan Dasar Tahu dan Tempe”. By the way, tempe is one of my favorite dishes. Diapakan pun aku doyan! Apalagi dengan variasi menu seperti kreasi ibu-ibu kemarin, ditambah penampilan hidangan yang begitu menggugah selera. Wuih! Kebayang kan sulitnya memilih tiga orang pemenang dari 13 masakan yang diperlombakan?

Di antara menu yang diperlombakan ada roulade tahu, dadar gulung tahu, botok tahu telur asin, es tahu dengan susu soya, tauco tempe, pepes tahu, perkedel tempe, pizza tahu, sup krim tahu tempe, dan mpek-mpek tempe. Kriteria penilaian berdasarkan cita rasa, variasi dan nilai gizi, penyajian, orisinalitas ide dan kreasi, serta nilai ekonomis. Para kandidat bersaing tipis karena umumnya mampu memenuhi empat kriteria pertama dengan baik, namun kurang berhasil di kriteria terakhir, yakni nilai ekonomis. Tak lain karena sebagian penganan menggunakan lebih banyak campuran bahan protein selain tempe dan tahu, semisal daging, udang, sosis, dan ikan, sehingga rasa tempe dan tahu justru tertutupi oleh dominasi rasa pencampurnya, yang notabene membuat harganya jadi lebih mahal.

Tempe dan tahu adalah bahan makanan yang mengandung protein nabati, baik dan sehat bila dikonsumsi. Ditinjau dari segi ekonomi juga relatif terjangkau dibandingkan bahan protein hewani. Akan lebih baik lagi bila penganan tersebut tidak melulu digoreng, bisa divariasikan dengan membuat dalam bentuk botok atau pepes yang diolah dengan dikukus di dalam bungkusan daun bersama bumbu-bumbu.

Bisa juga, seperti yang pernah kubuat, berkreasi dengan bola-bola tahu yang direbus dalam air kaldu seperti bakso. Bahan utamanya adalah tahu, tak harus tahu sutra, dikukus kemudian dihancurkan, campurkan dengan bumbu-bumbu standar saja: bawang putih, bawang merah, merica, ketumbar, dan garam. Sebagai perekatnya bisa dicampurkan sebutir telur atau sedikit tepung tapioka. Tentunya bila menggunakan tepung tapioka, hasilnya akan rada-rada kenyal seperti bakso. Untuk memberi variasi warna boleh ditambahkan irisan daun seledri dan daun bawang. Takaran bumbunya? Wah, ini yang sulit, karena kebiasaanku memasak adalah dengan takaran tergantung feeling, ditaksir saja perbandingan bumbu dengan bahan utamanya. Dicicip saat akan difinalisasi atau dihidangkan. Well, bukannya kebanyakan pun begitu?

Oke, siapa yang punya pengalaman menarik terkait kuliner berbahan tahu dan tempe? Mari berbagi di sini.***


Continue reading

Thursday, June 18, 2009

Between the Two Affections

Setelah seminggu lebih tidak melakukan aktivitas ngeblog dikarenakan CLBK yang menghanyutkan ini, aku mulai merindukan kegiatan menulis dan blogwalking. Dan kupikir ketiganya (membaca buku, menulis, dan blogwalking) bisa dilakukan secara simultan dengan manajemen waktu dan pengaturan mood yang baik. Kuakui, aku bukan manajer yang baik untuk urusan waktu dan suasana hati. Tapi di situlah letak tantangannya, bukan? How will I ever be one if I never start to be? Nah lo!

So here I am. After the long-lost-love storm subsided, I am back to what I’ve been doing the past year: blogging. Hehe…

Sedikit berbagi mengenai pria kencanku dalam seminggu ini: Khaled Hosseini dengan “The Kite Runner” dan “A Thousand Splendid Suns”, diselingi beberapa film bioskop dan DVD. Kedua novel ini benar-benar telah membuatku hanyut dalam perjuangan cinta tanah air, intrik-intrik budaya dan agama, nilai-nilai persahabatan, kekeluargaan, dan pertalian darah yang mengharukan. Ah, tak perlu elaborasi lebih jauh, aku tau banyak di antara sahabat bloger yang juga sudah membaca kedua epik tersebut.

Saat ini aku tengah mempersiapkan diri untuk membaca karya-karya PAT. Agak terlambat untuk memulai, ya? Tapi aku tak ingin lebih terlambat lagi. Lagipula karena berbahasa ibuku (bahasa Indonesia maksudnya, bukan bahasa Minang, Dodol!), kuharap tidak akan butuh waktu selama kedua novel Hosseini untuk menyelesaikannya, yang masing-masing makan waktu tiga hari. Kelak bila telah selesai dengan PAT, aku sudah menyisihkan “The Painted House”-John Grisham di meja nakas samping tempat tidur. Sekadar mengingatkan antriannya. Sebenarnya masih agak bingung antara itu atau “The Story of Edgar Sawtelle”-David Wroblewski yang sudah menunggu antrian lebih lama lagi. Keduanya recommended. Nanti saja kuputuskan.

Atau Teman-teman ada saran? nerd

Sebenarnya agak menguatirkan berniat membaca (novel-novel tebal) sambil tetap ngeblog. Kenapa? Bagiku, bila membaca tidak dilakukan secara intensif hingga tuntas, apalagi dengan distraksi ngeblog, maka aku cenderung kehilangan atmosfir yang sudah sempat terbangun. Akan butuh waktu untuk membangun atmosfir tersebut kembali. Dalam kasus yang parah, aku tidak akan melanjutkan membacanya. Payah, ya? Mungkin karena terbiasa melakukan sesuatu dengan konsentrasi penuh, sehingga agak sulit bagiku untuk switching the mood di antara dua kegiatan minda yang sama-sama kugemari. Dalam hal ini adalah membaca buku dan ngeblog (di sini termasuk menulis, membalas komentar, serta blogwalking). Sebaliknya pada pekerjaan yang lebih cenderung mengandalkan aktivitas fisik, multitasking jarang sekali menjadi masalah.

Berlebihan memang. Jadi mungkin ini waktunya bagiku belajar berbagi hati antara berbagai kesenangan dan aktivitas minda yang berbeda.

Jadi dari sini ke depan aku akan mulai menyambangi blog para sahabat kembali. Sudah dimulai sih. Kangen ternyata! Perlahan-lahan saja agar tak keselek. Hehe… Lagipula aku tak ingin terlalu larut dalam salah satu kegiatan sehingga kehilangan suasana yang sempat terbangun untuk kegiatan yang lain. Harus pintar-pintar menyiasati. (Yaelah… lebay banget deh, Mpok!)

Nah, bagaimana Sahabat berbagi cinta di antara dua kegiatan minda yang digemari, sebut saja antara membaca buku dan ngeblog? Atau tak pernah mengalami masalah sepertiku?***


Continue reading