Saturday, October 31, 2009

Haji Lungsuran

39 comments

Ibu yang senewen melihatku masih belum juga bersiap, sementara sudah minggu terakhir sebelum keberangkatan. Padahal beliau sengaja pulang dari Bukittinggi untuk membantuku bersiap-siap. Aku sendiri masih juga disibukkan oleh berbagai tugas kantor yang semakin diselesaikan rasanya malah semakin menggunung saja. Waktu 24 jam dalam sehari rasanya jauh dari cukup.
Ibu terus-terusan mengingatkan soal berbagai perlengkapan yang memang belum kusediakan. Semakin mendekati hari H, aku pun jadi ikutan senewen. Pasalnya ya itu tadi, apa pun belum kusediakan untuk keberangkatan ini. Akhirnya dua hari menjelang hari H, aku pun betulan panik, tidak tahu harus memulai dari mana. Belanja? Belanja apa? Di mana? Berapa banyak?

Sunday, October 25, 2009

Anak-anak dan Seni

42 comments

Aku memang bukan penikmat siaran-siaran televisi. Paling banter buka tivi buat nonton siaran di televisi berita itu. Selebihnya tivi nganggur menghemat pemakaian listrik. Hehe. Kalau dulu sih aku memang langganan televisi berbayar (saking tidak bisa menikmati televisi kita yang sarat sinetron dan tayangan gosip itu), namun kesulitan melepaskan diri dari sang kotak ajaib karena aku sangat doyan menonton siaran sitkom dan berbagai serial di AXN dan Starworld. Kuatir tidak mampu bijak membagi waktu, sekembali dari Oz aku memutuskan untuk putus cinta dengan provider-nya.
Jadi tak heran kalau aku tidak tahu apa dan bagaimana “Idola Cilik”, tayangan salah satu stasiun televisi swasta itu. Namun saat salah seorang keponakan dari Pekan Baru mengatakan keinginannya untuk ikut audisi di Medan (di Pekan Baru ternyata tidak ada audisinya), aku berpikir—dan yakin—bahwa paling tidak di dalam audisi itu pastilah anak-anak akan menampilkan sisi kekanak-kanakan mereka dalam berekspresi seni suara. Itu termasuk menyanyikan lagu anak-anak dan mengenakan kostum yang mewakili usia mereka.
Makanya aku jadi heran saat Tira, keponakan itu, rehearsing (halah, latihan ngono lho) lagu-lagu ngetop oleh ST12, Wali, dan Ungu (bahkan lagu-lagu ini pun aku tau dari Tira juga). Semuanya lagu bertema cinta yang aneh bener deh mendengarnya keluar dari mulut seorang anak 9 tahun.

Friday, October 23, 2009

Bukan Iklan Terselubung

30 comments

Menakjubkan bahwa tabrakan keras yang menyebabkan moncong sebuah Toyota Kijang keluaran baru terlipat dan penyok tidak menyebabkan jejas apa pun pada bokong Honda CR-V yang dilantaknya. Itu terjadi kemarin sore saat hujan deras disertai badai mengguyur kotaku. Tabrakan itu menyebabkan pengendara kedua mobil turun dan melakukan pembicaraan di bawah guyuran hujan. Pengendara Kijang berapologi atas kejadian itu. Dia mengaku bahwa jalanan yang licin membuat remnya kurang pakem saat dihentikan setelah melaju. Salah sendiri, dalam keadaan seperti itu semestinya kendaraan harus dijalankan dengan hati-hati. SIM dan KTP penabrak dipegang, agar dapat dilakukan klaim bila terjadi kerusakan pada mobil tertabrak. Alhamdulillah akhirnya itu tidak perlu dilakukan karena kendaraan yang ditabrak ternyata baik-baik saja. Hari ini SIM dan KTP itu akan dikembalikan kepada pemiliknya.
Tulisan ini bukan bermaksud takabur, bukan pula iklan terselubung untuk sebuah produsen kendaraan, apalagi kampanye hitam untuk produsen kompetitornya. Aku hanya ingin bersyukur bahwa Allah masih memberikan perlindungan yang maksimal kepada kami di saat-saat demikian. Bahkan lebih hebat daripada perlindungan asuransi. Hehe.
Hujan disertai petir dan badai memang hampir setiap sore singgah di kota ini. Sistem drainase yang buruk tidak mampu menampung debit air yang sontak meningkat sehingga menyebabkan beberapa ruas jalan tertutup banjir. Bila tidak berhati-hati dan sabar, maka banyak kendaraan terpaksa berhenti di tengah jalan karena busi yang basah atau tabrakan. Mudah-mudahan kita selalu berhati-hati dan dilindungi Allah sehingga kejadian buruk tidak menimpa di saat-saat riskan seperti itu.
Musim apa yang sedang happening di kotamu saat ini? Jangan bilang musim duren!***

Tuesday, October 20, 2009

Menu Ikan $50

29 comments

Saat masih kecil dan menggemaskan, aku dan kedua saudaraku hanya mengenal dua jenis ikan laut: ikan selar dan senangin (kuro). Artinya, kami hanya mau makan ikan laut yang bernama selar dan senagin, dan menunya adalah digoreng kemudian disambal. Ikan segar jenis lain, terutama yang berdaging tebal, masuk diskualifikasi. Karenanya ibu sering kebingungan menyesuaikan menu agar tak membosankan, senangin-goreng-sambal lagi, selar-goreng-sambal lagi.
Akhirnya ibu membuat menu ini: ikan kuah acar bening. Ikannya sih tetap digoreng, namun alih-alih diberi sambal, ikan ini direndam dalam kuah acar yang asam segar. Karena suka rasa kuahnya, ikan berdaging tebal lain yang biasanya masuk kotak pun jadi terasa nikmat juga.
Kenapa nulis resep mulu sih, Marshmallow? Oh, jangan salahkan bunda mengandung. Salahkan saja Pakdhe Cholik yang mengadakan kontes bertajuk Ladies Program ini. Menu yang diperlombakan adalah hidangan berbahan dasar ikan dan sayur. Syarat utama untuk ikut kontes adalah perempuan. (Fiuh! Untung sudah operasi tahun 1998 yang lalu) *doengg!*

Saturday, October 17, 2009

Rambutku Ternyata...

48 comments

Bu, rambutku ternyata tidak lurus,” laporku melalui telepon kepada ibu.
Oya?” ibu ikutan heran.
Pembicaraan yang aneh, bukan? Seolah-olah kami baru tau satu hal tentangku setelah saling mengenal seumur hidupku.
Bertahun-tahun hidup dengan rambut super pendek membuatku heran sendiri melihat rambutku sekarang, setelah lebih setengah tahun terakhir tidak digunting. Kini panjangnya sudah mencapai bahu, itu kalau diluruskan. Karena tanpa kusadari, ternyata rambutku tidaklah sama sekali lurus seperti yang selama ini kusangka. Rambutku menggulung ikal di bagian bawah, yakni di kedua sisi telinga dan leher.

Tuesday, October 13, 2009

Mari Memasak Sup Tom Yam!

43 comments

Apa kabar, Sahabat? Lama tidak update blog ini, nongol-nongol malah kepengen berbagi resep masakan. Berikut aku akan kupas serba sedikit mengenai masakan khas Negeri Gajah Putih yang paling kugemari. Apa lagi kalau bukan sup tom yam.
Keunikan rasa sup tom yam (tom yum atau tom yam goong soup) terletak pada penggunaan akar dan daun ketumbar, batang serai, daun jeruk, serta asam jeruk nipis. Keempat bahan ini, ditambah rempah-rempah yang mudah didapat, membuat cita rasa sup tom yam begitu segar untuk dinikmati hangat-hangat, terutama pada musim hujan seperti sekarang ini.

Tuesday, October 6, 2009

Simpati

34 comments

Sesaat setelah gempa Sumbar diberitakan, berbagai pesan dan panggilan masuk melalui telepon maupun email, tak terkecuali pula melalui kolom komentar di blog ini, menanyakan keadaanku dan keluarga yang ada di Sumatera Barat. Terima kasih atas kepedulian para sahabat. Sebenarnya setelah gempa terjadi, aku kehilangan semangat untuk menulis, perhatianku terpaku kepada berita menguatirkan di media sebelum terpecah oleh beberapa kejadian setelahnya, yang terbilang besar di dalam kehidupan keseharianku. Namun perhatian rekan-rekan membuatku tidak nyaman bila hanya berdiam diri tanpa menanggapi.
Adapun keadaan keluargaku di Bukittinggi alhamdulillah baik-baik saja, walaupun tentunya kejadian ini menyisakan trauma mental. Keluarga pihak ayahku yang tinggal dekat dengan episentrum gempa mengalami kerusakan bangunan yang cukup berat, namun jauh lebih melegakan mendengar mereka baik-baik saja, tidak ada yang mengalami cedera. Begitu pula saat mendapat kabar dari Uda Vizon bahwa beliau sudah dapat berkontak dengan Imoe. Berarti si Nak Rang Piaman baik-baik saja, terlepas dari korban harta-benda yang masih belum diketahui hingga kini.
Kesibukan di rumah sakit di kotaku begitu terasa karena banyak staf medis, terutama yang telah terlatih menangani situasi bencana dan trauma, berangkat dalam upaya penyelamatan dan evakuasi di Sumbar dan Jambi. Mereka berangkat mengemban tugas kemanusiaan, merasa terpanggil untuk mengobati salah satu anggota tubuh negeri ini yang terluka. Kusampaikan rasa salut kepada semua relawan.
Rasa haru juga melihat banyaknya simpati yang berdatangan melalui tulisan-tulisan peduli di media blog. Begitu pula saat menyaksikan penggalangan aksi solidaritas oleh berbagai kelompok masyarakat.
Dengan ini aku pun menyampaikan rasa duka yang sedalam-dalamnya kepada para korban gempa Sumbar dan Jambi. Semoga ujian ini menjadikan kita lebih kuat dan tawakkal, tabah dan lebih introspeksi diri. Laa haula wa laa quwwata illa billaah.***

Monday, September 28, 2009

Senin Pertama di Dunia

46 comments
Entah di kotamu. Tapi di kotaku hari ini jalanan padat sekali. Jarak tempuh yang biasanya paling-paling hanya sepuluh menit dari rumah ke kantor, pagi ini kutempuh dalam dua kali lipat lamanya. Di beberapa simpang jalan yang tidak biasanya macet kini berbaris kendaraan menunggu giliran lampu hijau. Beberapa kali aku terpaksa melakukan U turn dan memilih jalan-jalan alternatif demi menghindari terjebak kemacetan.
Ini memang Senin pertama setelah libur lebaran, walaupun sesungguhnya aktivitas di instansi pemerintah dan beberapa kantor swasta sudah dimulai dalam minggu lalu, termasuk di kampus kami. Namun Senin memang selalu berbeda dari hari-hari kerja lainnya. Lebih istimewa lagi Senin ini, seolah-olah tidak pernah ada Senin sebelumnya dan ini adalah hari kerja pertama dalam sejarah umat manusia: semua orang merayakannya dengan tumpah-ruah ke jalan menuju tempat bekerja masing-masing. The vacation is officially over, pemudik kembali ke kota, pegawai kembali ke kantor, pedagang kembali ke pasar, dan pelajar kembali ke sekolah.
Maka tak heran jika aku terlambat tiba di kampus. Saat aku sampai sepuluh menit lebih lambat dari semestinya, anak-anak sudah tak sabar menunggu. Mereka menyapa, “Pagiii!!!” dengan penuh semangat saat aku memasuki ruangan diskusi, menirukan gayaku setiap bertemu mereka di ruangan ini. Aku hanya tersipu-sipu memohon maaf karena keterlambatan ini. “Senin ini luar biasa, saya tak menyangka jalanan sepadat ini,” kataku berapologi. What an excuse.
Hari ini kita masuk pukul tujuh, Dok,” lapor Andy. What?! Sekarang sudah pukul 07.40! Tadinya kupikir hanya terlambat sepuluh menit, karena biasanya diskusi dimulai pada pukul 07.30. Nyatanya...? “Berarti saya terlambat empatpuluh menit? Astaghfirullahaladziim...” kataku sambil lagi-lagi melemparkan permohonan maaf. Coba. Jalanan macet, terlambat, dan keliru mengingat jadwal. Benar-benar cara yang hebat memulai hari. Lebih jauh lagi, ini adalah cara yang luar biasa memulai minggu.
Don't worry, Doc. We've started the discussion,” lapor Lakshmi, sang ketua grup berusaha menenangkan.
Namun demikian, Senin ini ternyata bukan hari pertama bagi semua orang. Tiga dari duabelas mahasiswa grup diskusi bimbinganku tidak hadir, mereka masih nyangkut di negerinya, berupaya memperpanjang liburan. Yep, betapapun panjangnya, liburan memang selalu terasa jauuuh lebih singkat.
Hampir dua jam kemudian, sebelum diskusi berakhir, seorang mahasiswa mengeluarkan sekotak brownies, seperti kesepakatan kami pada diskusi terakhir dulu. “Wah, kenapa tidak dikeluarkan dari tadi?” kataku. Seorang lagi mengeluarkan setoples kukis, aku pun mengetengahkan ompreng Tupperware berisi kue kering yang sedari tadi kusimpan saja karena kupikir anak-anak sudah lupa pada perjanjian kami sebelum libur lebaran.
Kami menikmati makan-makan. Andy berulang tahun hari ini, lapor Shaline. Kami pun menyanyikan lagu “Happy Birthday.” Makan-makan lagi. Bersenda gurau. “Hati-hati, nanti orang pada menyerbu ke sini,” kata Andy sambil menunjuk kamera CCTV di sudut ruangan. Ketigapuluh ruangan diskusi memang dilengkapi dengan kamera CCTV yang dipantau oleh penyelia tutorial dari ruangan operator. Gunanya adalah sebagai bahan evaluasi tutor untuk pelaksanaan tutorial.
Mari kita melambai saja,” ajakku, kemudian kami beramai-ramai melambai ke arah kamera.
Senin belum berakhir, tapi pagiku yang buruk telah menemukan remedinya dengan diisi kegiatan menyenangkan bersama sahabat-sahabat belajar yang penuh semangat.
Bagaimana dengan Senin pertamamu menjalani rutinitas setelah libur panjang?***

Friday, September 25, 2009

Selundupan

28 comments
Aku penyuka ikan kering, baik yang asin, terlebih yang tawar. Termasuk kategori terakhir adalah ikan bilih (Mystacoleuscus padangensis) dari Danau Singkarak. Karena habitat yang terbatas, plasma nutfah ini pun tergolong langka dan perlu dilestarikan. Ikan ini digemari oleh orang-orang yang pernah mencobanya. Setiap mudik aku selalu menyempatkan diri membelinya untuk dibawa pulang. Seperti biasa, momentum lebaran selalu dimanfaatkan oleh para pedagang untuk menaikkan harga komoditi tersebut, berikut beberapa ikan air tawar kering khas Sumbar lainnya.
Ukuran ikan bilih bervariasi, 3 hingga 10cm. Semakin kecil ukurannya semakin mahal harganya. Ikan bilih dijual dalam keadaan telah digoreng setengah kering, perlu digoreng kembali sebelum dikonsumsi. Itulah sebabnya bahan makanan ini relatif awet walaupun tanpa bahan pengawet, dan dijamin bebas dari bahan pemutih, karena ikan ini memang tak perlu berpenampilan putih bersih seperti halnya ikan teri (anchovy).
Ikan ini paling nikmat disajikan dalam keadaan digoreng kering, dicampur dengan samba lado mudo atau sambal cabe hijau yang diolah dengan menggiling kasar cabe hijau, bawang merah, dan tomat muda. Tambahkan air perasan jeruk nipis untuk memberi rasa asam yang segar. Ditumis sebentar dengan minyak goreng yang agak banyak, tambahkan daun salam agar harum dan tentunya garam yang cukup. Makan dengan nasi beras Solok panas-panas. Ondeh mandeh, lamak bana. Tambuah ciek!
OK, enough nonsense. Cerita ini sebenarnya adalah tentang bagaimana ikan ini setahun yang lalu telah membuatku menyelundupkan *halah* bahan hewani ke suatu negeri sangat ketat peraturan karantinanya. Negeri itu dinamakan Australia, tepatnya di kota Sydney.
Selepas liburan semester selama tiga minggu di tanah air, aku pun mulai mempersiapkan bekal untuk mengisi koper guna dibawa kembali ke negeri kangguru. Sebagai orang yang tergolong timid dalam hal selera, tentu saja isi koperku adalah melulu bahan makanan katrok dari Indonesia. Di antaranya adalah ikan teri Medan dan ikan bilih yang dibawa ibu beberapa waktu sebelumnya dari Bukittinggi. Fyi, harga ikan kering konsumsi manusia mahal sekali di sana. Lagian rasanya tidak selezat yang dari Indonesia. Sebagian ikan teri yang berukuran besar dijual untuk makanan kucing.
Bukannya aku tak tahu soal peraturan karantina yang ketat di Oz. Sedikit sekali bahan makanan dan produk pertanian maupun peternakan yang boleh melewati perbatasan. Tapi apa hendak dikata, selera lebih menguasai daripada akal sehat. Jadilah semalaman sebelum berangkat aku membungkusi 2kg ikan kering ke dalam kotak biskuit. Niatnya sih buat mengecoh, sebab konon bahan makanan olahan pabrik kadang-kadang diperbolehkan masuk. Asal tidak mengandung susu, telur, daging, dan bahan makanan segar nabati maupun hewani. (Emang ada biskuit nggak pake susu dan telur?)
Melewati karantina pintu masuk sebuah negara selalu mendebarkan. Ada istilah untung-untungan di sini. Petugas seringkali memilih secara acak, tergantung feeling. Tak jarang kau bisa lolos melenggang tanpa ditanyai, padahal kau membawa sekoper dim sum berisi daging ayam dan udang! Oke, hiperbola. Tapi terkadang kopermu diperiksa dengan amat sangat teliti, padahal isinya hanyalah pakaian dan buku-buku sekolahmu.
Mungkin para petugas sangat terlatih membaca emosi melalui mimik. Kalau kau gugup dan kuatir, sensor di dalam kepala mereka akan membuat mereka awas terhadapmu, dan langsung saja kau dijadikan “korban” untuk diperiksa.
Dan pagi itu saat pesawat Singapore Airlines yang kutumpangi selama sembilan jam mendarat di bandara Kingsford Sydney yang beku di penghujung musim dingin, aku pun berdesakan bersama ratusan penumpang lainnya menuju pintu keluar. Tentunya melalui pemindaian karantina. Entah mereka membaca wajahku yang gugup (padahal sudah diset sesantai mungkin), langsung saja aku dipilih untuk diperiksa. Aku diarahkan ke meja karantina, koperku yang dibungkus plastic wrapper pun dibuka dan dipreteli isinya.
Mereka memeriksa semuanya, menunggu dengan sabar saat aku menyobek semua kantong pembungkus seperti disarankan. Dan saat mendapati dua kilogram ikan kering, langsung saja mereka mengambilnya, mengatakan kepadaku bahwa bahan makanan tersebut dilarang masuk, bla bla bla. Kutatap dengan nanar petugas itu melemparkannya ke dalam tempat sampah besar yang sudah disediakan, menemani beragam jenis barang sitaan lain di sana. Semuanya berlangsung seperti menyaksikan film yang diputar lambat. Ingin kuteriakkan kata-kata yang lebay menghiba seperti, “Itu bekal dari ibuku, disiapkan dengan penuh cinta, tegakah kau membuangnya?” atau ,”Ikan itu lezat sekali. Mahal pula. Daripada kau buang, lebih baik kau bawa saja ke rumahmu buat kau makan sendiri. Kau pasti takkan menyesal.
Tentu saja tak kulakukan. Bakal percuma. Petugas sudah terlatih untuk tidak berurusan dengan kata-kata, hanya bukti. Musnahlah impianku menikmati makanan kegemaran dari kampung halaman. Dengan lemas kubayangkan makanan standar yang itu lagi itu lagi: kebab, burger, fish and chips, pizza, semua yang jauh dari selera lidahku yang katrok.
Pengalaman yang dialami sahabatku malah lebih aneh. Sementara tiga bungkus kopi instan yang kubawa lolos karantina, sebungkus miliknya nyangkut di tempat sampah petugas alias disita. Padahal sambal cuko Palembang buatan ibu yang dibawanya lolos tanpa pertanyaan. Di sinilah peranan nasib tadi. Setiap petugas menerapkan subyektivitas dalam menentukan barang sitaan.
Sedih dan lemas. Udara musim dingin ditambah hujan pagi itu semakin mematahkan semangat. Padahal kesedihan harus berpisah dengan orang-orang tercinta beberapa belas jam sebelumnya belum lagi reda. Nasib anak kos tanpa makanan pelepas rindu pun telah terbayang di depan mata. Sumpah lebay banget waktu itu.
Sebenarnya bukan melulu soal barang apa ataupun seberapa mahal harganya. Namun mengingat bagaimana ibu-ibu kami telah menyiapkan itu semua dengan kasih sayang benar-benar membuat perasaan sendu. Kami juga sih yang bandel; petugas toh hanya menjalankan peraturan, yakni menjaga negerinya dari ancaman pencemaran bahan makanan.
Begitulah selanjutnya ikan kering mendapat tempat yang sangat terhormat dalam deretan makanan kegemaranku. Dan kini penghargaanku terhadap ikan gurih dari Danau Singkarak ini pun semakin tinggi. Meniru jargon sebuah iklan alat masak: ingat ikan bilih, ingat karantina. Hehe.***
Terinspirasi gara-gara baru masak ikan bilih dengan campuran samba lado mudo.

Wednesday, September 23, 2009

Mudik by All Means

27 comments

For those who live away from their home town, meaning the place where they were born or growing up, or simply where their parents and most of relatives live, mudik seems to be the ultimate journey of Ramadhan. In fact, it is likely to be the most anticipated journey of the whole year. People tend to save and spend for this particular occasion. No wonder people do all possible means to be home in Idul Fitri, the festive season.

For the reasons above, I need to mudik because my mother, the only parent I have now, has been living in Bukittinggi for the past five months to babysitting the first and so-far-the-only grandchild of hers. Otherwise, I wouldn't have a so-called home town aside from the city where I spend my life now.

Then I did this twenty two-hour driving trip to Bukittinggi, West Sumatera. It could have been faster, though, if it is not for the extremely poor condition of the interprovincial road. Normally (well, normal means some ten years ago) it would take only seventeen hours or so.

I should confess, though, that I was hesitate to go. I desperately needed the holiday to take a serious break at home. Do nothing. Having a distant trip during vacancy is just like having another tiring activity after ones during otherwise. What I needed was a time to sober from those hectic schedule before embarking to the new one after lebaran.

Yet that wasn't the case. I decided to go after all, kinda last minute decision. And what I saw during the forth trip has taught me valuable lesson.

People do all means to be with their immediate and extended relatives by lebaran. If they don't afford the public transport, whose fare in this season is almost double the normal, they would go by every possible vehicle to bring their family along. People riding motorbikes, not only two but also three or four passengers on a bike; not to mention the heavy baggage. Some are quite fun convoying, some solitaire. They go through hundreds of kilometers of lousy road, terribly dusty and hot during day-time and rainy and cold during night-time. Some would do anything to be able to bring every member of the family in affordable price.

Suddenly this fellow man with his family stroke my feeling. He transformed his motorbike into this kind of vehicle. There is a one-time-one-meter box attached to the bike, accommodating two adults inside in squeezing mode. When we passed through it, I saw through the door opening the wife sleeping in a very awkward position holding a baby. There was also a young girl inside. With the man were two of their sons, both were below ten years old. Whilst one was sitting before the man, the other one was behind him. What a jam packed vehicle. And vulnerable. Yet they seemed so easy and worry-less. In fact, they were happy.

Ouch! I was ashamed of myself. This man obviously does anything for being with his family. Why didn't I? How could I possibly thinking of disregarding mudik whilst I can afford a far more comfortable journey in a comfortable car, bringing everything and everyone I might want to bring along, and hiring somebody to do the driving? Why so fuss? Why tantrum? How could I wish something whilst I've already owned something better? How could I be so ungrateful?

Wish to have a serious break in lebaran? C'mon! Gimme a break. One better excuse, please.

Dear God. Forgive me for being so ungrateful.

So here I am. Enjoying my mudik surrounding my beloved family. Sleep well eat much. Meet and greet everybody that I keep forgetting and remembering. Gosh. There is a lot of them, and I keep changing names when referring to them. Now she is an aunty (etek). Now she is a sister (uni). Now he is an uncle (pak etek, mamak). Now he is a brother (uda). Uh-oh, she seems an aunty, and I referred to her as “Mak tuo,” when I found out that she turns to be an “Uni.” Alrite, don't think! Play safe, call everybody Uni or Uda when you forget who he/she is; people are pleased to be assumed younger. Change when you are corrected, produce a big grin as though you've been confused. Ta da! That was not so difficult after all.

So, guys. Having mudik this festive season? And were you looking forward to doing it?***

Bukittinggi | Selasa, 22 September 2009. Mudik singkat di kota yang super duper padat selama lebaran membuatku terpaksa menjadi tikus mondok selama empat hari ini, tidur enak makan banyak. Ah, ternyata besok sudah harus kembali. Time flies when you are enjoying. Tak lupa aku ucapkan selamat Idul Fitri buat para sahabat, taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin.