Ide untuk berkunjung ke Pulau Buru pada libur dua hari ini, Minggu dan Senin, sangat menguasai pikiranku sejak pagi. Gara-gara si Om P, pengurus wisma. Dia menemani ngobrol di ruang sarapan tadi pagi, dan dengan bersemangat menceritakan tentang pulau tempat pembuangan para tapol 1965 kepadaku dan B, sahabatku seperjalanan.
Sudah terbayang olehku serunya. Backpacking, hanya untuk semalam saja, berangkat Minggu pagi dan pulang pada Senin malam. Menikmati pemandangan hutan kayuputi, mengunjungi pasar tradisional tempat hasil bumi yang melimpah diperjualbelikan. Om P bilang, beberapa orang lainnya mengakuri dan turut membumbui, Pulau Buru adalah pulau yang paling makmur di Maluku. Hasil pertanian terbesar dihasilkan di pulau ini, surplus untuk sekadar kebutuhan seluruh penghuni pulau, cukup untuk menghidupi seluruh kepulauan Maluku. Beras, sayur-mayur, ternak, unggas, tak habis-habisnya. Semua murah hampir tak bernilai dengan uang. Orang yang sudah mengecap kehidupan di pulau ini akan enggan untuk pergi. Para transmigran, tersebar di 20 unit, hidup makmur dan lupa akan asal mereka. Minyak kayuputi adalah komoditas unggulan. Konon minyak yang dihasilkan di pulau ini murni tanpa campuran bahan lain.
Aku sudah sangat berniat untuk pergi besok pagi (aku menulis ini pada Sabtu malam). Sendirian saja, karena temanku sepertinya tidak tertarik ikut. Ada kapal cepat yang berangkat dari Ambon pada pukul sembilan pagi. Dengan kapal cepat jarak Ambon-Buru akan dapat dicapai dalam 3-4 jam, tergantung cuaca. Pengangkutan ke Pulau Buru ada setiap hari, namun setiap jenis transportasi beroperasi di hari yang berbeda-beda. Kapal cepat berselang-seling hari operasinya dengan feri yang lajunya lebih lambat, kapal putih (sebutan untuk kapal PELNI) beroperasi tiap dua minggu, dan pesawat terbang berpenumpang 20 orang beroperasi setiap minggu. Kesempatanku untuk besok hanyalah kapal cepat tadi.
Kalau tidak karena musim Timur, yang membawa gelombang besar di laut kepulauan Maluku, pasti aku sudah mengepak ransel buat besok pagi. Itulah. Banyak yang menegahku pergi. “Bahaya saat musim begini. Apa sih yang dicari?”
Bukan apa yang dicari. Aku hanya ingin berada di sana, merasakan pulau yang sempat sangat familiar dalam kehidupan penulis besar roman sejarah itu. Presiden Soekarno pun pernah dibuang ke sana. Aku hanya ingin pernah berada di sana, tanpa harus menemukan apa-apa. It' s something intangible.
Masalahnya memang cuaca. Hujan hampir setiap hari di sini. Bulan-bulan begini angin berhembus dari arah Timur, membawa gelombang besar. Saat gelombang sudah terlalu besar, kapal-kapal kecil tidak diizinkan beroperasi. Kalau pun berani, resikonya karam. Paling kurang mabok di perjalanan, apalagi bagi orang luar yang tak terbiasa dengan kondisi kepulauan. “Beginilah romantikanya hidup di sini, harus tahan ombak laut,” kata mereka separuh bangga. “Belum lama yang lalu seorang dokter yang akan mengunjungi pasien di sebuah pulau mengalami kerusakan kapal, terapung-apung di laut hingga tiba di Selandia Baru.” What? Selandia Baru? Bahkan lebih Tenggara daripada Tasmania!
Begitulah. Akhirnya aku hanya bisa ngiler mendengar Om P bercerita lagi sore tadi. Seorang peserta pelatihan kesehatan dari Pulau Buru, Unit 17 Transmigrasi asalnya, turut memberi testimoni tentang indahnya hidup di sana. Makmur, damai. Saya tak tertarik pulang ke Jawa, saya punya segalanya di Buru, katanya.
Ada tradisi yang disebut “pela” di Maluku. Pulau Buru dan Seram, pulau terbesar di Maluku yang terletak di Utara Ambon, adalah dua pulau dengan ikatan pela, berkakak-adik. Pulau Seram adik perempuan, Buru adalah abangnya. Bila dua pulau (atau juga desa) telah terikat pela, maka kedua wilayah dan semua penduduknya adalah bersaudara. Dengan begitu mereka pantang bermusuhan, termasuk menikah di antara penduduk kedua wilayah. Menikah berarti incest.
Ikatan ini membuat masyarakat Maluku rukun, semakin damai setelah lelah dengan konflik sepuluh tahun lalu. “Katong seng dendam. Seng pernah berpikir soal harta yang hilang. Katong su cape bermusuhan, kerugian saja yang ada. Katong pun menyesal mau terprovokasi dulu. Padahal katong bersaudara toh? Bagaimana mungkin beta membunuh saudara sendiri, walaupun diong berbeda agamanya?”
Pengakuan ini banyak kudengar dari orang-orang di sini. Sebanyak-banyaknya yang bisa diajak ngobrol selama seminggu ini tentunya. Namun pengakuan yang kurang lebih seragam membuatku mengerti bagaimana kejadian mengenaskan dulu dan bahwa sesungguhnya nilai-nilai murni di dalam masyarakat Maluku tidak pernah mengharapkan konflik terjadi. Sekarang siapa pun yang hendak mencoba-coba menyebarkan hasutan akan langsung diusir dan tidak diambil peduli oleh masyarakat. Tidak perlu mencari siapa yang salah sekarang. Yang penting adalah bagaimana masyarakat Maluku bisa hidup damai dan berdampingan, kata mereka.
Berkali-kali ungkapan-ungkapan semacam membuatku merinding. Indahnya. Mudah-mudahan para penyebar teror yang bergentayangan di negeri tercinta bisa meniru keikhlasan masyarakat Maluku. Bukankah rasa aman juga merupakan hak azasi manusia yang harus dihormati oleh setiap orang?
Baiklah, sekarang aku batal ke Pulau Buru. Tapi suatu saat nanti. Ya, suatu saat...
Nah, selamat berlibur panjang.***
Continue reading






